Rabu, 24 Januari 2018

Haji Merah dan Muhammadiyah

Haji Misbach
Siapa yang tak kenal ‘Haji Merah’? Para peneliti sejarah, pustakawan, kerani buku, akademisi, atau para jurnalis senior di negeri ini tentu mafhum siapa sosok ‘Haji Merah’ ini. Dia Darmodiprono, juragan batik asal Kauman, Solo. Selepas naik haji, ia mengubah namanya menjadi Misbach (Nor Hiqmah, 2008). Dengan nama terakhir ini, juragan batik yang nama kecilnya Achmad ini mendadak tenar. Setidak-tidaknya, ia tenar di kawasan Solo dan sekitarnya. Haji Misbach berhasil memprovokasi massa untuk melakukan demonstrasi dan kerusuhan, mengorganisasi pemogokan kaum buruh, melakukan sabotase rel kereta api, bahkan sampai terlibat pembakaran bangsal kraton Solo.

Haji Merah
Apa yang membuat Misbach makin revolusioner di usia matangnya? Keluarga, teman dekat, dan kondisi sosial-politik di Solo pada waktu itu yang telah mengubah sang juragan batik menjadi sosok aktivis pergerakan revolusionar. Ia lahir dari keluarga pedagang batik di Kauman. Keluarganya tergolong pejabat Muslim di Kraton Solo. Misbach kecil yang bernama Achmad mendapat pendidikan agama di pesantren. Ia juga sempat mengenyam Sekolah Bumiputra kelas II selama delapan bulan. Rupanya, bangku sekolah telah mengenalkannya pada dunia intelektual dan pergerakan. Ia pun tertarik. Setelah dewasa, Darmodiprono yang telah sukses berbisnis kain batik senang berkumpul dan berdialog dengan tokoh-tokoh pergerakan. Setelah menunaikan ibadah haji, ia pun semakin mantap menempuh jalur pergerakan sebagai medan perjuangan.
Mas Marco Kartodikromo (1924) mengisahkan, “Waktoe kami mengeloearkan soerat chabar minggoean Doenia-Bergerak di Solo (1914), djalan officieel orgaan dari Inlandsche Journalisten Bond, kami kenal dengan H.M. Misbach, karna dia anggota dan langganan dari persarekatan dan soerat chabar terseboet…
Langkah pertama Haji Misbach terjun ke medan pergerakan dengan cara bergabung dalam Inlandsche Journalisten Bond (IJB), organisasi pers bumi putra pertama yang didirikan oleh Mas Marco Kartodikromo (1914). Lewat surat kabar Doenia-Bergerak, banyak lahir para jurnalis handal dari kalangan bumi putra, di antaranya Haji Misbach.
Lewat IJB ini, Misbach berkenalan dengan Haji Fachrodin dari Kauman, Yogyakarta. Kebetulan, keduanya sama-sama pedagang batik. Keduanya juga sama-sama berasal dari keluarga pejabat Kraton. Sama-sama berasal dari Kauman, tetapi beda tempat. Kedua putra Kauman (beda tempat) ini bersama-sama menerbitkan majalah Medan-Moeslimin (1915) dan Islam Bergerak (1917) sebagai corong perlawanan atas penindasan kolonial Belanda. Tidak tanggung-tanggung, kedua putra Kauman tersebut menempatkan sosok Khatib Amin Yogyakarta sebagai salah satu kontributor Medan-Moeslimin yang namanya terpampang jelas di sudut kiri atas cover majalah ini. Khatib Amin Yogyakarta yang dimaksud adalah Kyai Ahmad Dahlan.
Di Solo, Misbach mengajak beberapa juragan batik untuk bergabung dalam ‘organisasi’ Sidik Amanah Tableg Vathonah (SATV)—ejaan asli—yang bertujuan memajukan umat Islam dan membela kaum tertindas. Rupanya, Misbach tidak bisa tinggal diam melihat umat Islam selalu terbelakang, kalah bersaing dengan para cukong Belanda dan pengusaha China yang sewenang-wenang. Ia juga muak dengan sepak terjang para pejabat kraton yang justru menjadi ‘tukang palak’ rakyat jelata. Berawal dari forum pengajian agama di rumahnya, muncul gagasan membentuk semacam perkumpulan sekalipun belum bisa dikatakan sebagai sebuah organisasi. Akan tetapi, program-program SATV sistematis dan nyata. Misalnya, menerbitkan majalah, menyelenggarakan pengajian, bahkan mendirikan sekolah Islam. Akhirnya, Haji Misbach, Koesen, Harsoloemekso, dan Darsosasmito berhasil membentuk perkumpulan SATV dengan program monumentalnya menerbitkan majalah Medan-Moeslimin pada tahun itu juga.
Selang dua tahun berikutnya, perkumpulan ini menerbitkan majalah Islam Bergerak. Misbach makin lengket saja dengan Fachrodin ketika menerbitkan kedua majalah ini. Bahkan, sosok Kyai Dahlan ditempatkan sebagai kontributor resmi Medan-Moeslimin untuk wilayah Yogyakarta. Kontributor wilayah Solo diisi oleh Haroen Rasid. Seorang redaktur bernama Moechtar Boechari juga terpampang namanya di halaman cover majalah ini. Terdapat pula sosok H.A. Hamid BKN (ayah Dasron Hamid) yang membantu administrasi perusahaan. Sejak tahun 1915-1919, hubungan antara Muhammadiyah dengan SATV sangat harmonis, saling mengisi. Kyai Dahlan sering diundang ke Solo, di rumah Kyai Mochtar Boechari, mengisi pengajian forum SATV.

Menyerang Muhammadiyah
Retak hubungan harmonis SATV dengan Muhammadiyah dimulai ketika Haji Misbach masuk bui pada tahun 1920. Misbach ditangkap tentara kolonial karena ia menjadi provokator kerusuhan  dan pemogokan buruh tebu di Klaten (desa Nglungge). Mendekam di penjara Klaten lalu dipindah ke Pekalongan, Misbach banyak bertemu dan berdialog dengan para tahanan yang kebanyakan adalah aktivis dan propaganda ISDV. Di situlah semangat dan haluan politik Misbach mengalami perubahan drastis. Semangat revolusionernya bertegur sapa dengan jalan Marxisme. Keluar dari penjara, Misbach mengambil alih kepemimpinan Medan-Moeslimin dan Islam Bergerak yang sebelumnya di bawah kendali Fachrodin. Telah terjadi perdebatan sengit antara dua kawan akrab ini. Kawan lawan kawan, tetapi tak ada yang keluar sebagai pemenang. Perdebatan itu berakhir dengan pilihan bahwa masing-masing akan menempuh prinsip dan jalan hidup sendiri-sendiri. Sampai tahun 1922, jajaran redaksi Medan-Moeslimin dan Islam Bergerak telah didominasi oleh orang-orang yang sehaluan dengan politik Misbach. Orang-orang Muhammadiyah dan simpatisannya tersingkir dari kedua majalah ini.
Perdebatan sengit antara Misbach dengan orang-orang Muhammadiyah tampaknya berlanjut sampai mimbar. Di panggung pengajian SATV, Misbach menyerang Muhammadiyah dan tokoh-tokohnya. Tak cukup dengan pidato, ia menggunakan Medan-Moselimin dan Islam Bergerak untuk menyerang Muhammadiyah. Dengan lantang, Haji Merah menuduh Muhammadiyah membiarkan penindasan kolonial Belanda terhadap kaum pribumi. Itu karena Muhammadiyah tidak menempuh jalur politik untuk membela rakyat tertindas, seperti halnya gerakan Sarekat Islam (SI). Dalam artikel “Moekmin dan Moenafik” (Islam Bergerak, 10 Desember 1922), Misbach mengritik orang-orang yang tidak memilih jalur politik sebagai munafik (Muhammadiyah) dan mereka yang memilih jalur politik sebagai Islam sejati (SI).
Misbach juga menyerang Muhammadiyah karena dianggap tidak memerangi fitnah terhadap umat Islam, justru organisasi yang didirikan oleh ‘kaum modal putih’ (kapitalis muslim, red) ini dianggap hanya menyiarkan agama Islam tanpa membela kaum tertindas, bahkan terlibat dalam kasus renten (Medan-Moeslimin, 20 November 1922).
Satu per satu tokoh-tokoh Muhammadiyah menjadi objek sasaran kritik tajam dari Haji Misbach dan kubu SI Merah. Kyai Ahmad Dahlan dituduh sebagai rentenir, karena terlibat dalam skandal hutang Perserikatan Pegawai Pegadaian Bumiputra (PPPB) pada tahun 1922. Haji Fachrodin dituduh sebagai tokoh munafik dan penipu. Hoofdbestuur (HB) Muhammadiyah dianggap telah menjadi agen kapitalis. Konon, pada saat itulah Misbach keluar dari Muhammadiyah (lihat Nor Hiqmah, 2008: 5).
Dengan semangat berapi-api, Misbach datang ke Rapat Tahunan Muhammadiyah 1923 di Yogyakarta menyampaikan usulan (vorstel) agar Muhammadiyah mengubah haluan organisasi menjadi partai politik pergerakan layaknya SI (Soewara Moehammadijah, no 5 & 6, Mei & Juni 1923). Akan tetapi, Djojosoegito dalam catatan notulen Rapat Tahunan Muhammadiyah 1923 menyebutkan bahwa “Haji Misbach itu bukan sekutu Muhammadiyah.” Ia memilih keluar dari keanggotaan Muhammadiyah karena tidak sehaluan lagi dengan perjuangan organisasi ini. Catatan ini sudah cukup untuk menjelaskan status Haji Merah dan hubungannya dengan Muhammadiyah.

Hidup di Pengasingan
Tak lama setelah menyerang Muhammadiyah, Haji Misbach ditangkap oleh pemerintah kolonial Belanda dan dibuang ke Manokwari (1923). Majalah Medan–Moeslimin dan Islam Bergerak sudah sulit terbit. Dalam Medan Moeslimin edisi 15 Juli 1924, keterangan di box redaksi, selaku pengarang yang bertanggungjawab di muka hakim: Haroen Rasid. Selaku pengurus: Sjarif. Selaku pembantu yang khas: Nasurdin (guru bahasa Melayu di Penang). Haji Misbach sebagai ketua, dalam keterangan, masih dalam bui (Manokwari).
Sebuah sumber menyebutkan, ketika di Manokwari, Misbach menjalin komunikasi dengan Firma Abdullah Lie, sebuah perusahaan jasa yang melayani pengiriman barang-barang dari Ambon ke Manokwari. Sumber ini berasal dari kesaksian Haji Ismail Abu Kasim, alumni MULO dan HIK Muhammadiyah (Solo). Menurut Ismail Abu Kasim, perintis Muhammadiyah di Ambon adalah Haji Misbach dari Solo. Misbach menggunakan jasa Firma Abdullah Lie milik Haji Muhammad Abu Kasim, ayah kandung Haji Ismail Abu Kasim, untuk memesan berbagai kebutuhan hidupnya. Menariknya, selama di pembuangan, Misbach justru berusaha memesan beberapa buku bacaan dan majalah. Rupanya, sekalipun Misbach telah keluar dari Muhammadiyah, ternyata ia tetap menjadi pelanggan majalah Suara Muhammadiyah. Firma Abdullah Lie inilah yang menyuplai kebutuhan Misbach selama di Manokwari (baca M. Amin Eli, “Muhammadiyah Maluku: Hasil Penyemaian Kyai Misbach”, Suara Muhammadiyah no. 20 Th. Ke-61/1981).

Nah, dari hasil korespondensi antara Haji Misbach dengan Haji Muhammad Abu Kasim muncul gagasan mendirikan Muhammadiyah di Ambon. Haji Abu Kasim sendiri seorang Muslim keturunan Tionghoa. Ia berhasil meyakinkan kawannya yang bernama Auw Yong Koan, seorang Muslim keturunan Tionghoa pula. Kemudian ada Abdurrahman Didin, seorang perawat di rumah sakit militer di Ambon. Akhirnya, pada sekitar tahun 1930-an, gagasan untuk mendirikan Muhammadiyah di Ambon berhasil terwujud. Haji Muhammad Abu Kasim, Auw Yong Koan, dan Abdurrahman Didin adalah tokoh-tokoh perintis yang sekaligus menjadi pengurus pertama Muhammadiyah di Ambon. (Mu'arif)

Senin, 22 Januari 2018

Hijab ala Indonesia Menurut Pak Mahfud MD, Kok Heboh?

Jagad medsos baru saja dihebohkan oleh tweet Pak Mahfud MD yang mengunggah poto sejumlah pengurus Muhammadiyah sedang berpose di depan istana negara bersama Bung Karno (poto jadul). Di antara pengurus Muhammadiyah terdapat beberapa perempuan yang mengenakan kain kebaya dan berkerudung. Lalu mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu menulis status, "Perempuan Muhammadiyah pd tahun 1965 berbusana ala perempuan Indonesia dan budaya bangsa, pakai kebaya anak kerudung kepala sdh islami. Muslimat NU juga begitu. Model hijab Indonesia."
Gara-gara status tersebut, tweet Pak Mahfud MD tidak hanya disanggah oleh orang-orang yang merasa ‘paling tahu’ soal dokomen poto itu, tapi juga dibully habis-habisan di medsos. Yah seperti biasa, jempol dan jari memang tak kenal etika. Orang-orang yang membully di medsos memposting komentar-komentar yang sangat tidak pantas. Tidak usah saya sebutkan contoh-contoh komentar yang tidak pantas itu. Karena bahasa yang digunakan, ya ampun, bikin saya tidak simpatik lagi. Komentar-komentar berisi nada cemoohan, hinaan, umpatan, atau yang populer disebut hate speech itu sungguh tidak pantas dilayangkan kepada guru besar UII tersebut.
Belakangan, muncul pula sanggahan dari aktivis Muhammadiyah yang konon menetap di Inggris. Saya sebutkan nama orangnya, tapi maaf tidak saya sebutkan alamat atau nama media onlinenya (nanti malah jadi promosi gratis!). Aktivis Muhammadiyah yang tinggal di Inggris itu bernama Ardi Muluk. Sudah bisa ditebak, sanggahannya menghakimi pendapat Pak Mahfud MD bahwa model hijab yang menjadi tradisi di Muhammadiyah tahun 1950-an tidak seperti itu. Dengan judul yang agak bombastis, “Hati-hati, Pengaburan Kerudung Syarie Aktivis Muhammadiyah Padahal Yang Asli Begini,” media online tersebut memposting poto para siswi Madrasah Muallimat pada tahun 1950-an, poto aktivitas para perempuan yang berdagang dengan pakaian berhijab (maaf saya kurang tahu persis apakah poto ini merepresentasikan tradisi di Muhammadiyah atau tidak), dan terakhir lukisan Nyai Ahmad Dahlan yang mengenakan hijab (kok lukisan?).

***
Setelah melihat objek poto yang diposting oleh Pak Mahfud MD, sebenarnya saya langsung mbatin, “memang begitulah hijab zaman dulu, kok heboh?” Apalagi, saya tahu persis sumber poto yang sudah beredar itu. Poto itu bisa ditemukan di buku Bintang Muhammadiyah yang disusun oleh Djarnawi Hadikusuma. Para pengurus Muhammadiyah dan Aisyiyah baru saja memberikan gelar kehormatan “Bintang Muhammadiyah” kepada Presiden Soekarno sebagai “Anggota Setia Muhammadiyah.” Peristiwa ini terjadi pada tanggal 10 April 1965. Biar penjelasan lebih afdol, peristiwa ini terjadi pada 8 Dzulhijjah 1384 Hijriyah di Istana Merdeka, Jakarta.
Saya memang sedang berusaha mengidentifikasi tokoh-tokoh yang ikut poto bersama Bung Karno, namun sayang sekali hingga kini belum bisa menyebut nama mereka satu persatu (maklum, kebanyakan orangnya sudah meninggal dunia!). Kebetulan sekali, ketika menulis artikel ini, saya baru saja bertemu dengan keluarga HM Yunus Anis di Kampung Kauman, Yogyakarta, dan sempat mendapat penjelasan seputar poto yang kebetulan juga sama persis seperti yang diposting oleh Pak Mahfud MD. Beberapa nama sudah berhasil teridentifikasi. Berdiri di sebelah kiri Presiden Soekarno, seorang lelaki mengenakan jas (karena poto jadul hitam putih, warna jasnya cuma kelihatan hitam) dan berkopiah adalah KH Ahmad Badawi, Ketua Umum PP Muhammadiyah pada waktu itu yang juga sekaligus menjabat sebagai Penasehat Presiden. Di sebelah kanan seorang perempuan mengenakan kain kebaya memakai kerudung tampak berkaca mata, itulah Prof Siti Baroroh Baried, Ketua Umum PP Aisyiyah pada waktu itu. Di belakang Bung Karno tampak seorang lelaki gemuk sedang tersenyum mengenakan pakaian jas berdasi dan memakai kaca mata, itulah Oei Tjen Hien atau Abdulkarim Oei, kawan dekat Bung Karno yang juga aktivis Muhammadiyah dari Bengkulu (harap dicatat: ternyata banyak keturunan China Muslim yang menjadi aktivis Muhammadiyah lho!). Di deretan terdepan, nomor 2 dari kiri tampak Bapak Salman Harun, kemudian di deretan nomor 4 ada Bapak Djarnawi Hadikusuma. Di bagian belakang, saya amati secara seksama ternyata ada salah satu tokoh dalam poto tersebut yang masih hidup hingga kini, dialah Bapak Sudibyo Markoes. Selebihnya, saya masih dalam proses mengidentifikasi nama tokoh-tokoh dalam poto tersebut.


Sumber: Buku Bintang Muhammadiyah hlm 27

Nah, yang jadi objek perdebatan dalam tulisan ini, sebagaimana komentar Pak Mahfud MD, para pengurus ‘Aisyiyah yang hadir dalam acara resmi penganugerahan “Bintang Muhammadiyah” berpakaian kebaya dan berkerudung. Setelah saya hitung, ada 12 perempuan dalam poto tersebut yang memakai pakaian adat Jawa. Dan yang mengundang pertanyaan adalah jenis atau model pakaian yang dikenakan oleh para pengurus ‘Aisyiyah pada waktu itu. Pakaian kebaya itu berupa kain jarit untuk bagian bawah dan biasanya memakai benting (kain ikat pinggang), kemudian baju kebaya yang biasanya direnda dengan bahan agak transparan, lalu model rambut disanggul namun ditutupi kerudung.
Pertanyaannya, sudah islamikah pakaian seperti itu? Menurut Pak Mahfud MD, itu sudah Islami. Bahkan, itulah ciri khas model hijab Indonesia. Sontak para netizen membantah pendapat Pak Mahfud MD. Ada yang mencaci, mencemooh, seolah-olah Pak Mahfud MD tidak tahu bagaimana berpakaian secara Islami. Bahkan, Ardi Muluk yang konon aktivis Muhammadiyah di Inggris membantah sambil menyodorkan contoh hijab di Muhammadiyah pada tahun 1950-an, seolah-olah dialah yang lebih tahu fakta historis ini. Nah, bagaimana dengan pendapat saya?         
Dari sinilah saya tergerak untuk menulis artikel ini. Jujur, tulisan ini bukan untuk membantah tafsiran Pak Mahfud MD soal hijab ala Indonesia. Sama sekali bukan! Tulisan ini juga bukan untuk mengritik para netizen yang seolah-olah merasa paling tahu seputar ‘hijab Islami’ yang berkembang di lingkungan Muhammadiyah, khususnya pada tahun 1965. Tulisan ini hanya memperjelas dan mempertegas informasi yang bersumber dari poto yang diposting Pak Mahfud MD disertai dengan data-data historis lain sebagai pembanding. Tentu saja saya akan melakukan penafsiran atas data-data historis pembanding tersebut agar dapat memberikan perspektif lain dalam perdebatan ini.       

***
Sejak zaman kepemimpinan KH Ahmad Dahlan, berbarengan dengan pertumbuhan industri batik di Yogyakarta, Muhammadiyah memang telah mempelopori gerakan penertiban pakaian perempuan. Dalam buku Sejarah Kauman (2010) karya Ahmad Adabi Darban, sejak tahun 1917 Muhammadiyah telah menggerakkan program wajib berkerudung bagi anggota-anggota Aisyiyah. Namun harap diingat, program ini baru mewajibkan kaum perempuan untuk berkerudung. Karena dalam praktiknya, pakaian kebaya ternyata masih menjadi pakaian umum anggota Aisyiyah pada waktu itu. Maka lahirlah budaya unik yang disebut “Kudung Aisyiyah,” berupa kain kerudung yang ditenun dan disulam dengan motif bunga-bungaan. “Kudung Aisyiyah” inilah yang kemudian populer dikenal sebagai “Songket Kauman.”

Siti Umniyah mengenakan Kudung Aisyiyah/Songket Kauman
Sumber: Majalah SM No 22 Tahun 2010.

Nah, “Songket Kauman” inilah ciri khas anggota Aisyiyah pada waktu itu. Kebetulan pula, pada tahun 2010, saya pernah meneliti tentang “Songket Kauman: Potret Budaya yang Tergerus Zaman” untuk keperluan publikasi di salah satu majalah Muhammadiyah. Tentu, sedikit banyak saya telah mengantongi informasi perihal kain songket ini. Songket ini bentuknya kerudung yang dapat dimaknai sebagai penerapan hijab dalam konteks budaya Jawa pada waktu itu. Persoalan Islami atau tidak Islami ya tergantung perspektif yang digunakan orang. Kalau menggunakan perspektif zaman sekarang (bukan zaman now ya!), mungkin jenis pakaian kebaya dan kerudung dinilai tidak atau kurang Islami, karena perkembangan tren hijab saat ini memang sudah semakin bervariasi. Tetapi jika menggunakan perspektif masa lalu, ketika kerudung masih asing di kepala kaum perempuan Jawa, jangan pernah berkhayal terlalu tinggi bahwa program penertiban pakaian perempuan yang dilakukan pada masa KH Ahmad Dahlan itu dalam bentuk model pakaian burqa atau niqab. Ya itu jelas sangat sulitlah! Ini soal mengubah budaya yang sudah menjadi warisan turun temurun. Namun catatan saya, “Songket Kauman” adalah sebuah kombinasi unik nan cerdas yang memadukan antara nilai-nilai Islam, budaya, dan ekonomi di Kauman, Yogyakarta, pada awal abad XX.     
Dalam konteks dakwah Muhammadiyah, konsep “Songket Kauman” sebenarnya dapat dipahami sebagai bentuk dakwah kultural yang prosesnya masih terus berlangsung, tidak boleh terhenti. Lagi-lagi saya jadi ingat, sewaktu menulis buku Dakwah Kultural (2005), saya meyakini bahwa konsep dakwah ini bersifat kontinyu, tidak boleh terputus, bertujuan untuk mengubah budaya yang tidak sejalan dengan ajaran Islam. Kini, “Songket Kauman” atau “Kudung Aisyiyah” telah menjadi mozaik dalam sejarah kebudayaan Muhammadiyah dan Aisyiyah. Inilah kerudung Islami pada zamannya yang telah mengubah model pakaian kaum perempuan Jawa sehingga agak lebih Islami.
Namun, terdapat sebuah dokumen lain yang dapat menjelaskan bahwa model pakaian para pengurus Aisyiyah pada masa KH Ahmad Dahlan memang bervariasi, tidak hanya satu model. Seperti dalam sebuah verslag tahun 1922, KH Ahmad Dahlan, Haji Fachrodin, dan Siti Munjiyah pernah mengunjungi Openbare Vergadering Sarekat Islam di Kediri (lihat Suara Muhammadiyah, no 1/th ke-4/1922). Dalam verslag tersebut ditemukan informasi menarik bahwa Siti Munjiyah yang mewakili Aisyiyah dipersepsi oleh para peserta Rapat Terbuka SI Cabang Kediri yang mayoritas kaum laki-laki sebagai sosok perempuan yang memakai pakaian ala “pakaian haji.” Persepsi tentang “pakaian haji” jelas dapat dimaknai sebagai pakaian perempuan jenis tertutup layaknya hijab zaman sekarang. Sementara dalam sebuah dokumen album poto milik HM Yunus Anis, terdapat poto para aktivis Aisyiyah yang sedang menggelar rapat terbuka memakai pakaian tertutup juga layaknya hijab masa kini. Nah, model hijab yang ini memang persis seperti contoh hijab dalam poto para siswi Madrasah Muallimat yang disodorkan Ardi Muluk.

Rapat ‘Aisyiyah
Sumber: Album Poto HM Yunus Anis

Namun janganlah terburu-buru menyumpulkan bahwa model hijab di Muhammadiyah, khususnya para pengurus Aisyiyah, seperti yang diklaim saudara Ardi Muluk. Jangan pula membuat framing berita seperti media online yang memuat komentar Ardi Muluk bahwa pendapat Pak Mahfud MD tentang model hijab di Muhammadiyah sebagai upaya mengaburkan fakta yang sesungguhnya. Karena berdasarkan sumber album poto milik HM Yunus Anis, memang banyak ditemukan informasi seputar model pakaian kaum perempuan Muhammadiyah pada periode awal. Meskipun banyak ditemukan poto kaum perempuan Aisyiyah mengenakan hijab tertutup layaknya hijab masa kini, tetapi banyak juga ditemukan model-model pakaian yang masih sederhana, yaitu memadukan antara konsep kebaya dengan kerudung. Jangan heran apalagi nyinyir karena ada poto Nyai Ahmad Dahlan pada masa menjelang akhir hayatnya yang masih memakai jenis kebaya dan kerudung. Tidak seperti contoh lukisan Nyai Ahmad Dahlan yang disodorkan oleh Ardi Muluk, sumber album poto milik keluarga HM Yunus Anis jelas lebih shahih menggambarkan fakta yang sebenarnya.

Nyai Ahmad Dahlan (Tengah)
Sumber: Album Poto HM Yunus Anis

***
‘Ala kulli hal, apa yang ingin saya sampaikan di sini adalah bahwa model hijab yang berkembang di kalangan Muhammadiyah memang bermacam-macam, tidak satu model. Ada model hijab yang dalam istilah Pak Mahfud MD sebagai hijab ala Indonesia. Ada pula model hijab tertutup yang mungkin oleh para netizen akan dinilai lebih Islami. Data-data historis tentang penggunaan dua model pakaian ini cukup kuat.
Model hijab Indonesia yang merupakan perpaduan antara kebaya dan kerudung sudah jamak ditemukan di kalangan Muhammadiyah periode awal. Bahkan, sampai tahun 1960-an, model hijab ini masih ditemukan di Muhammadiyah, khususnya di kalangan aktivis Aisyiyah. Sosok Prof Siti Baroroh Baried, Ketua Umum PP Aisyiyah yang ikut poto bersama dengan Bung Karno masih mempertahankan tradisi ini, berkebaya dan berkerudung. Begitu juga sosok Prof Dr Siti Chamamah Soeratno sampai kini masih mempertahankan tradisi ini. Bahkan pada perhelatan Muktamar Seabad Muhammadiyah di Yogyakarta (2010), dalam sebuah forum resmi, Bu Chamamah tampil pede mengenakan kebaya dipadu Songet Kauman.
Sedangkan model hijab tertutup seperti yang disodorkan saudara Ardi Muluk juga sudah dikenal pada masa awal Muhammadiyah, khususnya di kalangan aktivis Aisyiyah. Sewaktu masih kecil, saya sering mendengar bahwa model hijab semacam disebut “Baju Kurung.” Nah, “Baju Kurung” sebenarnya lebih identik dengan budaya Melayu, seperti pakaian kaum perempuan di Minang. Dalam konteks sejarah Muhammadiyah, memang ada titik temu antara budaya Melayu dengan model pakaian hijab ini. Berawal dari interaksi KH Ahmad Dahlan sebagai saudagar batik yang pernah berkunjung ke Minangkabau, berguru kepada Syekh Djamil Djambek. Kemudian terjalin pertemanan antara KH Ahmad Dahlan dengan Haji Rasul yang pernah singgah ke Kauman, Yogyakarta. Lalu dikuatkan dengan pembentukan Cabang Muhammadiyah di Minangkabau pada tahun 1927 sekaligus digelarnya congress Muhammadiyah pertama di luar pulau Jawa. Ada adagium populer bahwa Muhammadiyah lahir di Kauman, Yogyakarta, tetapi tumbuh besar di Minangkabau. Maka wajar jika pada tahun 1950-an, model hijab ala Minangkabau populer di lingkungan Muhammadiyah.
Persoalan Islami atau tidak hijab ala Indonesia sebenarnya relative. Bahkan jika kita amati pola berpakaian ibu-ibu aktivis Aisyiyah sejak zaman Nyai Ahmad Dahlan hingga kini, mereka cukup fleksibel atau luwes dalam berpakaian. Dalam konteks budaya Jawa, kebaya dan kerudung sudah sangat islami. Namun dalam konteks budaya lain, barangkali kebaya dan kerudung tidak islami. Oleh karena itu, para aktivis Aisyiyah cerdas menempatkan sesuatu pada tempatnya. Kadang, Nyai Ahmad Dahlan mengenakan hijab tertutup ketika menghadiri event-event resmi Muhammadiyah dan Aisyiyah yang dihadiri banyak orang dengan beragam latar belakang budaya. Tetapi kadang Nyai Dahlan juga mengenakan kebaya dan Songket Kauman ketika menghadiri event-event di Muhammadiyah dan Aisyiyah, baik resmi maupun tidak resmi, yang dihadiri oleh orang-orang dengan latarbelakang budaya Jawa. Karena kebaya dan kerudung itu sudah islami dalam konteks budayanya. (Mu'arif/Tulisan ini telah dimuat di www.alif.id)

Terbaru

Djojosoegito, Sekretaris Hoofdbestuur Muhammadiyah Pendiri PIRI

Ngabehi Djojosoegito Ngabehi Djojosoegito adalah misan dari K.H. Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama. Djojosoegito seorang intelekt...

Populer