<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3765768874055571568</id><updated>2011-04-21T16:19:52.636-04:00</updated><category term='http://www.blogger.com/img/gl.align.full.gif'/><title type='text'>pemintal kata</title><subtitle type='html'>tuturan seorang penulis yang ingin mengubah dunia</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://penulisjogja.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulisjogja.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Ahmad Mu'arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00387346934510406805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_fLgt6xoY88Y/SF0uMh3wyAI/AAAAAAAAAGQ/PaNx4XSm_m4/S220/mu%27arif6.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>27</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3765768874055571568.post-6907086895413342512</id><published>2008-06-21T13:28:00.012-04:00</published><updated>2008-12-09T19:31:57.392-04:00</updated><title type='text'>Sadar Budaya Baca</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_fLgt6xoY88Y/SF1BnUcai-I/AAAAAAAAAG8/sUFg-HSrRjQ/s1600-h/pelaja01.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5214396087323495394" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_fLgt6xoY88Y/SF1BnUcai-I/AAAAAAAAAG8/sUFg-HSrRjQ/s320/pelaja01.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Laporan World Bank dalam &lt;em&gt;Education in Indonesia-From Crisis to Recovery&lt;/em&gt; (1998) memaparkan bahwa minat dan kemampuan baca anak-anak Indonesia amat rendah. Minat baca untuk siswa-siswa kelas enam SD dinilai 51,7. Nilai ini merupakan paling rendah di antara minat baca anak-anak bangsa lain setelah Filipina (52,6), Thailand (65,1), Singapura (74,0), dan Hongkong (75,5). Oleh Ki Supriyoko, minat dan kemampuan membaca anak-anak Indonesia dinilai paling buruk dibandingkan anak-anak dari negara-negara lain (Ki Supriyoko, 2004).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan data BPS 2003 disebutkan bahwa penduduk Indonesia yang berusia di atas 15 tahun membaca koran sekitar 55,11 %. Sedangkan yang membaca tabloid atau majalah hanya sebesar 29,22 %. Untuk penduduk yang membaca buku kategori fiksi sebesar 44,28 %. Selebihnya, yaitu sekitar 21,07 %, mereka membaca buku pengetahuan. Apabila dibandingkan dengan kondisi sepuluh tahun sebelumnya (1993), maka akan kita dapati kenaikan tingkat membaca buku hanya sebesar 0,2 %. Namun, terdapat sesuatu yang cukup unik dan sekaligus mencengangkan di sini. Jika budaya baca tidak berkembang di negeri ini, tetapi penduduk Indonesia secara umum mengalami peningkatan dalam tradisi menonton televisi (21,1 %). Kemudian, data BPS 2006 juga menunjukkan bahwa penduduk yang mendapatkan informasi lewat cara membaca baru mencapai 23, 5 %. Kondisi yang demikian jelas amat kontras dengan jumlah penduduk yang menggunakan sarana televisi untuk memperoleh informasi yang mencapai 85,9 % (Surachman Nugroho, 2007).&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Sebuah perspektif menyebutkan bahwa sumber utama permasalahan ini bukan terletak pada faktor mentalitas bangsa, tetapi merupakan dampak dari sistem politik yang tidak pernah beres. Kebijakan-kebijakan strategis sering dimanfaatkan oleh segelintir oknum sehingga kepentingan rakyat tercampakkan. Dengan demikian, kondisi SDM bangsa ini merupakan bagian dari "problem struktural" yang tidak pernah beres.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Masalah kesejahteraan yang belum pernah terwujud di negeri ini sering menjadi "kambing hitam" untuk menyikapi kualitas SDM yang boleh dikata terus menurun. Penduduk Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan tidak mungkin sempat memikirkan untuk membeli buku atau media cetak. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan jajak pendapat &lt;em&gt;Kompas&lt;/em&gt; pada 7-8 Februari 2005 disebutkan bahwa minimnya buku-buku yang dibeli oleh masyarakat disebabkan karena faktor ekonomi yang tidak memungkinkan. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja kesulitan, apalagi memikirkan untuk membeli buku. Boro-boro beli buku atau koran, buat beli makan saja masih kesulitan, begitu kira-kira analoginya. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Kita memang tidak bisa menutup mata atas fenomena kemiskinan di Indonesia. Harus diakui, angka kemiskinan masih cukup dominan. Menurut data BPS tahun 2005-2006, jumlah angka kemiskinan di Indonesia terus mengalami peningkatan. Jumlah warga miskin tahun 2005 sebesar 35,10 juta jiwa (15,05%). Sementara di tahun 2006 jumlah angka kemiskinan naik mencapai 39,05 juta jiwa (17,75%) (Anwar Hasan, 2007).&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Secara logis memang perspektif di atas memang dapat diterima. Sebab, budaya baca memang ditopang oleh minat baca. Kemudian, minat baca ditopang pula oleh kondisi ekonomi yang mapan. Faktor kesejahteraan hidup sangat mempengaruhi daya beli terhadap buku. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, apakah benar faktor kemapanan ekonomi sangat menentukan bagi perkembangan budaya baca? Sebab, berdasarkan data BPS 2006, bangsa Indonesia mengalami peningkatan dalam hal perolehan informasi dari televisi yang mencapai sebesar 85,9 %. Padahal, bangsa ini sudah divonis sebagai bangsa miskin. Bangsa Indonesia terus terpuruk dalam krisis multidimensional. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Tampaknya, argumentasi bahwa faktor kemapanan ekonomi mempengaruhi budaya baca atau kualitas SDM bangsa agak lemah. Bagaimana mungkin bangsa yang sudah divonis miskin justru lebih akrab dengan barang-barang mewah atau teknologi informasi? &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, budaya baca makin langka, tetapi produk-produk teknologi informasi yang canggih mewarnai kehidupan sehari-hari. Televisi sudah mewabah di Indonesia. Percaya atau tidak, anak-anak di Indonesia lebih banyak menonton televisi dibanding anak-anak Kanada, Australia, dan Amerika. Penelitian &lt;em&gt;Hancox RJ. Association of Television Viewing During Childhood with Poor Educational Achievement Arch Pediatr Adolesc Med 2005&lt;/em&gt; berhasil mengungkap fakta ini. Kesimpulan yang cukup mengagetkan dari penelitian ini, anak di bawah 3 tahun yang menonton televisi mengalami gejala penurunan uji membaca, uji membaca komprehensif, dan penurunan memori. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari sinilah, menurut penulis, lemahnya budaya baca merupakan cermin dari problem mentalitas. Harus diakui bahwa bangsa ini belum bisa menempatkan tradisi membaca sebagai bagian dari budaya bangsa yang harus dilestarikan. Bangsa Indonesia juga cenderung konsumtif dan berpikir instan.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Survei yang dilakukan oleh Serikat Penerbit Surat Kabar (2007) telah memberi gambaran nyata akan karakteristik mentalitas bangsa ini. Berdasarkan survei tersebut, ternyata penduduk Indonesia jauh lebih mementingkan untuk beli rokok ketimbang beli koran atau buku-buku. Dari sini sudah dapat dipastikan bahwa membaca sudah menjadi sesuatu yang tidak akrab bagi kehidupan bangsa Indonesia (&lt;em&gt;Kompas&lt;/em&gt;, 9/2/2007).&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Bangsa Indonesia tengah dilanda penyakit mental yang cukup akut. Kualitas SDM bangsa ini berada diurutan paling bawah di antara bangsa-bangsa lain. Belum lagi karakteristik mentalitas bangsa ini yang menjadi makin konsumtif dan cenderung berpikir instan. Bangsa ini tidak siap menghadapi kepungan arus globalisasi dengan mewabahnya teknologi informasi. Di samping itu, bangsa ini juga jadi "pelupa" ketika a-historis membaca sejarah peradabannya sendiri. Kasus penyiksaan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia menunjukkan seakan-akan kita lupa bahwa di zaman dahulu, negari jiran ini merupakan bagian dari wilayah Nusantara. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Seluruh elemen bangsa Indonesia perlu menyadari penyakit akut ini. Untuk mengobatinya, menurut penulis, diperlukan upaya membangun kesadaran akan pentingnya budaya baca dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Kampanye-kampanye budaya baca harus mendapat dukungan bagi pemerintah. Proses penyadaran juga perlu terus dilakukan lewat LSM-LSM yang selama ini getol menyuarakan gerakan gemar membaca.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3765768874055571568-6907086895413342512?l=penulisjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulisjogja.blogspot.com/feeds/6907086895413342512/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3765768874055571568&amp;postID=6907086895413342512&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/6907086895413342512'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/6907086895413342512'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulisjogja.blogspot.com/2008/06/sadar-budaya-baca.html' title='Sadar Budaya Baca'/><author><name>Ahmad Mu'arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00387346934510406805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_fLgt6xoY88Y/SF0uMh3wyAI/AAAAAAAAAGQ/PaNx4XSm_m4/S220/mu%27arif6.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fLgt6xoY88Y/SF1BnUcai-I/AAAAAAAAAG8/sUFg-HSrRjQ/s72-c/pelaja01.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3765768874055571568.post-5569716811233061971</id><published>2008-06-21T13:28:00.007-04:00</published><updated>2008-12-09T19:31:57.549-04:00</updated><title type='text'>Muhammadiyah dan Politik Kebangsaan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_fLgt6xoY88Y/SF0_KDiV4-I/AAAAAAAAAGs/DTi1akfmvOQ/s1600-h/logo.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5214393385545491426" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 234px; CURSOR: hand; HEIGHT: 295px" height="302" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_fLgt6xoY88Y/SF0_KDiV4-I/AAAAAAAAAGs/DTi1akfmvOQ/s320/logo.jpg" width="234" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. HM. Din Syamsuddin, sering berpesan agar partai yang diusung oleh Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) tidak perlu mengklaim dukungan dari Muhammadiyah. Sebagai "anak kandung" Muhammadiyah, &lt;em&gt;Partai Matahari Bangsa&lt;/em&gt; (PMB) jelas akan didukung secara moral oleh PP Muhammadiyah, tetapi tidak secara struktural lewat kebijakan organisasi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;High Politic&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Wilayah politik praktis memang bukan menjadi garapan Muhammadiyah. Tetapi Muhammadiyah sendiri tidak pernah bisa menghindar dari politik kekuasaan. Kelahiran Partai Muslimin Indonesia (Parmusi) pada masa Orde Lama menjadi catatan tersendiri bahwa Muhammadiyah pernah terlibat dalam politik praktis.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kelahiran Parmusi merupakan buah dari &lt;strong&gt;Khittah Ponorogo&lt;/strong&gt; (1969). Dalam Khittah tahun 1969 ini disebutkan bahwa dakwah Islam amar ma’ruf nahi munkar dilakukan melalui dua saluran: kenegaraan dan kemasyarakatan. Muhammadiyah sendiri memposisikan diri sebagai gerakan Islam amar ma’ruf nahi munkar dalam bidang kemasyarakatan. Untuk saluran politik kekuasaan, Muhammadiyah membentuk partai politik di luar organisasi. Hubungan antara Muhammadiyah dengan partai yang telah dilahirkan ini hanya sebatas ideologis, tidak secara organisatoris.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Membaca latarbelakang Khittah Ponorogo tentu tidak lahir secara kebetulan. Menurut Haedar Nashir (2007), lahirnya khittah tahun 1969 merupakan sebuah terobosan dalam rangka merehabilitasi Partai Masyumi. Khittah Ponorogo ini menjadi legitimasi bagi Muhammadiyah untuk mendirikan Parmusi. Sayangnya, partai ini gagal sehingga Khittah Ponorogo kemudian "dinasakh"—meminjam istilah Haedar Nashir—lewat &lt;strong&gt;Khittah Ujung Pandang&lt;/strong&gt; (1971).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Karena politik praktis terlalu banyak merugikan gerakan Muhammadiyah (kemasyarakatan), maka lewat Khittah Ujung Pandang dirumuskan supaya persyarikatan ini kembali ke barak. Lewat Khittah 1971 ini, Muhammadiyah menjaga jarak dengan partai manapun. Muhammadiyah juga tidak memiliki afiliasi politik dengan partai manapun. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun demikian, Muhammadiyah tetap tidak bisa menutup mata terhadap realitas perpolitikan di tanah air. Sewaktu Amien Rais menjabat sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah (1994-1998), Muhammadiyah menjadi "kekuatan politik" yang amat diperhitungkan dalam pentas perpolitikan di tanah air. Bahkan, persyarikatan ini dianggap memiliki kontribusi besar terhadap bergulirnya proses reformasi (1998).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Perlu dicatat di sini, sekalipun Amien Rais tidak membawa Muhammadiyah ke dalam pentas perpolitikan di tanah air waktu itu, tetapi statusnya sebagai ketua umum jelas merepresentasikan politik Muhammadiyah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pasca reformasi, Muhammadiyah kembali dihadapkan kepada dilemma politik. Sebab, di satu sisi Khittah Ujung Pandang menjadi dasar kebijakan organisasi yang harus ditaati, namun pada sisi lain realitas perpolitikan di tanah air menghendakinya supaya terlibat langsung dalam politik praktis. Sewaktu kepemimpinan Ahmad Syafi’i Ma’arif yang kedua kalinya (1998-2000 dan 2000-2005), Persyarikatan Muhammadiyah digiring jauh ke dalam politik praktis. Sidang &lt;em&gt;Pleno Diperluas&lt;/em&gt; PP Muhammadiyah tanggal 9-10 Februari 2004 di Yogyakarta telah memutuskan untuk dukungan kepada Amien Rais sebagai calon presiden (capres). Secara otomatis, keputusan Pleno Diperluas ini telah menggiring Muhammadiyah supaya mendukung partai yang mengusung Amien Rais sebagai capres (PAN). Yang cukup ironis, keputusan ini justru muncul setelah beberapa pejabat tinggi partai tersebut memberikan tekanan secara bertubi-tubi kepada jajaran PP Muhammadiyah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Belajar dari Pengalaman&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Apa hendak dikata, nasi sudah menjadi bubur. Dalam catatan panjang sejarah Muhammadiyah, ternyata ormas ini tidak mampu berkelit dari hingar-bingar politik kekuasaan. Sekalipun Khittah Ujung Pandang sudah membentengi agar Muhammadiyah tidak berpolitik praktis, tidak memiliki afiliasi politik dengan partai manapun (termasuk PMB dan PAN), nyatanya persyarikatan ini sering terperosok ke dalam hingar-bingar politik kekuasaan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jika saja Muhammadiyah melakukan aksi isolasi diri terhadap kepentingan kekuasaan, maka sikap tersebut bakal menghambat cita-cita gerakan. Tetapi, terdapat dorongan kuat agar Muhammadiyah tidak terjebak dalam eforia politik yang cenderung mengutamakan kepentingan kekuasaan. Oleh karena itu, Muhammadiyah memang harus sadar bahwa politik merupakan bagian dari kehidupan umat. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Menurut hemat penulis, Muhammadiyah harus bisa mengambil pelajaran dari catatan sejarahnya yang telah berkali-kali terlibat dalam politik kekuasaan. Termasuk dalam konteks menyikapi kelahiran PMB yang merupakan "anak kandung" Muhammadiyah, maka persyarikatan ini harus tetap mampu menjaga jarak. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, Muhammadiyah juga harus bersikap secara bijaksana. Bagaimanapun juga, "syahwat politik" AMM bukan untuk dibendung, tetapi memang untuk disalurkan. Saluran syahwat politik yang legal dalam konteks kehidupan demokrasi adalah lewat partai. Jika selama ini banyak cendekiawan Muhammadiyah mengritisi kemunculan partai berbasis Muhammadiyah, maka di sini penulis sangat tidak sepakat. Sebab, syahwat politik bukan untuk dikekang, tetapi disalurkan secara benar sesuai dengan konstitusi yang berlalu di tanah air ini. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mulai saat ini, apa yang harus dilakukan oleh PMB adalah memberikan "keteladanan politik" (uswah hasanah)—meminjam istilah Ma’mun Murad Al-Barbasy (2008)—di pentas perpolitikan nasional. Sampai saat ini, para politisi kita masih banyak yang belum memiliki integritas moral. Bahkan, para politisi Muslim kita, baik para ustad atau kyai yang terlibat dalam partai-partai politik, banyak memperlihatkan perilaku yang tidak istiqamah. Hanya karena kepentingan politik, integritas moral digadaikan. &lt;em&gt;"Esuk dele, sore tempe,"&lt;/em&gt; itu fenomena yang sudah biasa dalam pentas perpolitikan di Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran PMB yang sudah membentuk kepengurusan di 32 propinsi memang harus mampu menampilkan keteladanan politik bagi umat Islam di Indonesia. Karena PMB dilahirkan oleh warga Muhammadiyah, maka visi dan misinya tidak akan berseberangan dengan Muhammadiyah. Dalam hal ini, antara Muhammadiyah dan PMB diharapkan bisa menjalin sinergi gerakan demi menuju cita-cita terbentuknya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, yang diridlai oleh Allah swt.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3765768874055571568-5569716811233061971?l=penulisjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulisjogja.blogspot.com/feeds/5569716811233061971/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3765768874055571568&amp;postID=5569716811233061971&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/5569716811233061971'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/5569716811233061971'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulisjogja.blogspot.com/2008/06/muhammadiyah-dan-politik-kebangsaan.html' title='Muhammadiyah dan Politik Kebangsaan'/><author><name>Ahmad Mu'arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00387346934510406805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_fLgt6xoY88Y/SF0uMh3wyAI/AAAAAAAAAGQ/PaNx4XSm_m4/S220/mu%27arif6.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_fLgt6xoY88Y/SF0_KDiV4-I/AAAAAAAAAGs/DTi1akfmvOQ/s72-c/logo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3765768874055571568.post-7882883179028041568</id><published>2008-06-21T13:28:00.003-04:00</published><updated>2008-12-09T19:31:57.701-04:00</updated><title type='text'>Korporatokrasi yang Memiskinkan Bangsa</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_fLgt6xoY88Y/SF08H66Jx_I/AAAAAAAAAGc/1-QSErlycNU/s1600-h/scan.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5214390050334820338" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 212px; CURSOR: hand; HEIGHT: 292px" height="316" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_fLgt6xoY88Y/SF08H66Jx_I/AAAAAAAAAGc/1-QSErlycNU/s320/scan.jpg" width="212" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Planet bumi ini sedang dikuasai oleh kekuatan para pemilik pemodal dalam skala besar. Kekuasaannya mampu melampaui batas-batas territorial suatu negara. Bahkan, kedaulatan suatu negara dengan mudah ditaklukkan lewat kebijakan-kebijakan yang didukung &lt;em&gt;stakeholder &lt;/em&gt;milik kekuatan baru ini. John Perkins menyebut kekuatan baru ini dengan istilah "korporatokrasi."&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku &lt;em&gt;Agenda-Mendesak Bangsa: Selamatkan Indonesia!&lt;/em&gt; (2008), Amien Rais sedang mengingatkan bangsa Indonesia bahwa sekalipun kaum imperialis telah hengkang dari bumi pertiwi, tetapi jaring laba-laba imperialisme masih mengangkangi kedaulatan bangsa. Mereka bukan &lt;em&gt;Vereenigde Oost-Indische Compagnie&lt;/em&gt; (VOC) atau kompeni, tetapi telah bermetamorfosa dalam bentuk korporasi besar transnasional, seperti &lt;em&gt;Freeport, Exxon Mobile, Newmont&lt;/em&gt;, dan lain-lain. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Amien Rais membeberkan fakta secara terperinci dan mengungkap sejarah imperialisme di Indonesia yang mula-mula dilakukan oleh korporasi bernama VOC. Menurutnya, VOC mampu bertahan lama mengeksploitasi kekayaan alam bangsa Indonesia (khususnya rempah-rempah) didukung oleh empat elemen utama: kebijakan pemerintah Belanda, kekuatan militer, media massa, dan mentalitas bangsa &lt;em&gt;inlander.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Menghadapi VOC, seluruh bangsa Indonesia, mulai dari kalangan pejuang kemerdekaan hingga rakyat jelata menentang kehadiran kongsi dagang yang sangat merugikan ini. Tetapi kini, ketika para penjajah telah hengkang dari bumi pertiwi dan kemudian bermetamorfsa dalam bentuk perusahaan transnasional, justru bangsa ini dibuat linglung karena berhadapan dengan musuh yang kasat mata. Lewat proyek globalisasi yang didukung oleh rezim Amerika Serikat, para pemilik modal melakukan imperialisme baru dengan membentuk korporasi besar transnasional yang bertujuan mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Amien Rais, tokoh yang menjadi lokomotif reformasi ini, sedang mengingatkan bangsa ini bahwa korporatokrasi dalam bentuk perusahaan transnasional (&lt;em&gt;Exxon, Unocal, Mobil Oil, Newmont, Freeport&lt;/em&gt;) telah menjarah kekayaan alam Indonesia. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan perusahaan transnasional tak akan berjaya di Indonesia seandainya tidak didukung oleh stakeholder yang kuat. Di sinilah Amien Rais mengritik beberapa elemen pendukung neoliberalisme, yaitu: &lt;em&gt;pertama&lt;/em&gt;, korporasi besar. Korporasi ini merupakan &lt;em&gt;patology of profit&lt;/em&gt;, yaitu penyakit mencari keuntungan sebesar-besarnya secara membabi-buta. Yang primer adalah keuntungan, sementara yang lainnya adalah sekunder. Korporasi semacam inilah yang kemudian menjadi penindas baru. Menurut Amien Rais, kejahatan korporasi besar jauh lebih mengerikan ketimbang yang dilakukan oleh para mafia, gengster atau perampok jalanan. Sebab, kejahatan korporasi adalah membuat undang-undang yang kemudian didiktekan kepada pemerintah untuk kemudian dilegalkan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, pemerintah. Menurut Amien Rais, pemerintah yang mendapat kekuasaan dari rakyat seharusnya lebih kuat dari korporasi transnasional. Pemerintah memiliki lembaga penegak hukum, kekuatan militer, dan mempunyai legitimasi kekuasaan dari rakyat, tetapi faktanya justru di era globalisasi sekarang ini, korporatokrasi jauh lebih kuat dibanding pemerintah. Pihak eksekutif, legislatif dan yudikatif justru takut, tunduk dan hormat secara berlebih-lebihan terhadap korporasi transnasional yang didukung penuh oleh Amerika Serikat.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, lembaga keuangan internasional. Globalisasi merupakan proyek AS demi mewujudkan "Tatanan Dunia Baru" menurut ambisi mereka. Proyek globalisasi ditumpangi oleh kepentingan kapitalisme lewat jaringan lembaga keuangan internasional (IMF, World Bank). Ketika masuk dalam jaringan neolib ini, negara-negara berkembang akan kesulitan untuk bisa menarik diri.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Keempat&lt;/em&gt;, kekuatan militer. Seraya mengutip pemikiran Michael Chassudovsky, gurubesar ekonomi universitas Ottawa, Amien Rais memaparkan bahwa kekuatan militer AS (Departemen Pertahanan dan CIA) memiliki hubungan yang kuat dengan korporasi-korporasi besar dunia. Mereka menjalin kontrak politik dengan pejabat-pejabat IMF, World Bank dan WTO untuk mengamankan kepentingan korporatokrasi dunia. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kelima&lt;/em&gt;, politik media massa. Korporasi-korporasi besar memainkan peran yang cukup signifikan dalam mempengaruhi opini publik lewat proses manipulasi terhadap fakta-fakta. Pada tahun 1988, Noam Chomsky dan Edward Herman telah mengingatkan bahwa media massa pada dasarnya menyuarakan kepentingan korporasi besar. Pemberitaan di media massa menjadi propaganda paling efektif demi melindungi kepentingan korporasi. Amien Rais menyebutkan contoh stasiun televisi di Amerika, seperti NBC, ABC, CBS, CNN. Keempat stasiun televisi ini masing-masing dimiliki oleh &lt;em&gt;General Electric, Walt Disney Company, Viacom Inc.,&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;AOL-Time Warner.&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Keenam&lt;/em&gt;, intelektual pengabdi kekuasaan. Salah satu ciri intelektual sejati, menurut Amien rais, ialah mereka bisa keluar dari kungkungan masyarakat dan negaranya dengan memiliki wawasan kemanusiaan universal. Di sini, Amien Rais sedang mengatakan bahwa intelektual sejati harus tidak terlibat dalam politik kekuasaan, tidak partisan, dan mengedepankan politik kebangsaan. Sayangnya, peran para intelektual lebih banyak terjerumus ke dalam politik kekuasaan yang memang menggiurkan. Tidak jarang kaum intelektual menanggalkan identitasnya hanya demi mengejar keuntungan duniawi. Mentalitas intelektual semacam inilah yang dimanfaatkan oleh korporasi besar untuk mengelabuhi bangsanya sendiri. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ketujuh&lt;/em&gt;, elite nasional bermental &lt;em&gt;inlander&lt;/em&gt;. Kritik Amien Rais yang paling menohok adalah pembacaannya terhadap karakteristik elite politik nasional, baik yang duduk di legislatif, yudikatif, maupun eksekutif. Mentalitas inlander merupakan istilah yang diciptakan sendiri oleh Amien Rais untuk menunjuk karakteristik para elite politik nasional yang lembek, cenderung mbeo, rendah diri, dan penakut.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Amien Rais telah membeberkan problem kepemimpinan bangsa secara detail dan mengritik secara telak sehingga seakan-akan berbagai argumentasi untuk menangkal kritik-kritik pedasnya menjadi tampak pucat pasi. Apa yang telah disampaikan oleh mantan ketua umum MPR-RI ini wajib menjadi bahan renungan buat bangsa yang sedang ditindas oleh jaringan korporatokrasi yang tidak lain merupakan penjajah baru di era globalisasi ini. Bagi para calon pemimpin bangsa, terutama para generasi muda, pemikiran Amien Rais ini wajib diketahui untuk bisa memetakan, siapakah sesunguhnya yang menjadi musuh bangsa ini. Mengapa musuh dengan leluasa mengeksploitasi kekayaan alam bangsa ini secara anarkhis tanpa memperdulikan kelestarian lingkungan sementara rakyat dibiarkan tetap miskin? &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3765768874055571568-7882883179028041568?l=penulisjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulisjogja.blogspot.com/feeds/7882883179028041568/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3765768874055571568&amp;postID=7882883179028041568&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/7882883179028041568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/7882883179028041568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulisjogja.blogspot.com/2008/06/korporatokrasi-yang-memiskinkan-bangsa.html' title='Korporatokrasi yang Memiskinkan Bangsa'/><author><name>Ahmad Mu'arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00387346934510406805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_fLgt6xoY88Y/SF0uMh3wyAI/AAAAAAAAAGQ/PaNx4XSm_m4/S220/mu%27arif6.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_fLgt6xoY88Y/SF08H66Jx_I/AAAAAAAAAGc/1-QSErlycNU/s72-c/scan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3765768874055571568.post-1038973369061289422</id><published>2008-06-16T13:10:00.016-04:00</published><updated>2008-12-09T19:31:57.911-04:00</updated><title type='text'>Mendialogkan Kembali Sejarah Kebangkitan Nasional</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_fLgt6xoY88Y/SFdwpsBocoI/AAAAAAAAAGI/Am-n_RtzJ3c/s1600-h/NewsImage.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5212758955199591042" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 207px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" height="200" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_fLgt6xoY88Y/SFdwpsBocoI/AAAAAAAAAGI/Am-n_RtzJ3c/s320/NewsImage.jpg" width="176" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dalam sebuah Seminar Perkaderan di Gedung Pimpinan Pusat Muhammadiyah Jalan Cik Ditiro, tanggal 13 April 2008, Prof. Dr. Ahmad Syafii Ma’arif, Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan mantan ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah (1998-2000 dan 2000-2005), menggelindingkan sebuah wacana baru tentang titik tonggak sejarah kebangkitan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berapa lama kemudian Ahmad Syafii Ma’arif menuangkan gagasannya dalam sebuah artikel yang berjudul “Jelang 100 Tahun Kebangkitan Nasional” (&lt;em&gt;Republika&lt;/em&gt;, 6/5/2008). Menurut hemat penulis, gagasan tersebut patut diapresiasi karena guru besar Ilmu Sejarah UNY ini telah menawarkan sebuah formula baru dalam mengkaji sejarah nasional secara kritis. Sepanjang yang kita ketahui, titik tonggak sejarah kebangkitan bangsa Indonesia adalah momentum berdirinya Budi Oetomo pada 20 Mei 1908. Tetapi, menurut sejarawan kelahiran Sumpurkudus ini, momentum berdirinya Budi Oetomo tidak relevan dijadikan sebagai titik tonggak kebangkitan nasional, karena data sejarah tidak mendukung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kalangan sejarawan sepakat bahwa gerakan nasional Budi Oetomo (20 Mei 1908) dianggap sebagai titik tonggak sejarah Kebangkitan Nasional Indonesia, justru sejarawan Ahmad Syafii Ma’arif mengatakan lain. Guru Besar sejarah UNY ini mengawali kajiannya dengan tesis: apa yang dimaksud dengan kebangkitan nasional dan kapan kebangkitan nasional itu dimulai?&lt;br /&gt;Menurut Ahmad Syafii Ma’arif, kebangkitan nasional harus dimaknai secara luas sebagai kebangkitan Indonesia, bukan kebangkitan salah satu suku bangsa Indonesia (Jawa dan Madura). Dengan parameter ini, maka mantan ketua umum PP Muhammadiyah ini berpendapat bahwa gerakan Budi Oetomo tidak tepat dimaknai sebagai kebangkitan nasional. Organisasi ini hanya mewakili suku Jawa dan Madura dalam konteks gerakan nasional sehingga sejarah kelahirannya pun tidak dapat dijadikan sebagai titik tonggak kebangkitan nasional Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data sejarah juga tidak pernah mendukung seandainya gerakan Budi Oetomo dijadikan sebagai titik tonggak sejarah Kebangkitan Nasional Indonesia. Dalam Anggaran Dasar (AD) Budi Oetomo disebutkan: &lt;em&gt;"Tujuan organisasi untuk menggalang kerja sama guna memajukan tanah dan bangsa Jawa dan Madura secara harmonis."&lt;/em&gt; Dengan demikian, gerakan Budi Oetomo tidak representatif sebagai tonggak kebangkitan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritik Ahmad Syafii Maarif memang mengilhami banyak kalangan untuk mengkaji kembali sejarah kebangkitan nasional. Rr. Berar Fathia, koordinator Indonesia Satu, juga mengritik sejarah nasional yang telah menempatkan kelahiran Budi Oetomo sebagai titik tonggak Kebangkitan Nasional Indonesia. Menurutnya, kelahiran Budi Oetomo hanya untuk lingkup yang terbatas. Koordinator Indonesia Satu ini lebih yakin jika kelahiran R.A. Kartini pada 21 April 1879 lebih relevan dijadikan sebagai titik tonggak sejarah kebangkitan nasional Indonesia (&lt;em&gt;Kompas&lt;/em&gt;, 19/4/2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya, para sejarawan mulai memanfaatkan iklim kebebasan berpendapat pasca reformasi dengan melakukan pengkajian kembali terhadap sejarah kebangkitan nasional Indonesia. Misalnya Prof Dr Soetomo, WE berpendapat bahwa kebangkitan nasional Indonesia bukan dipelopori oleh kaum laki-laki (lewat gerakan Budi Oetomo), tetapi telah didahului oleh gerakan kaum perempuan lewat momentum emansipasi yang dipelopori oleh R.A. Kartini. Menurut dosen Program Pasca Sarjana UKSW ini, terbitnya surat-surat R.A. Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang, menjadi momentum kebangkitan nasional yang dipelopori oleh kaum perempuan (&lt;em&gt;Wawasan&lt;/em&gt;, 21/4/2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang sekali para cendekiawan dan sejarawan kita masih bias dalam memaknai kebangkitan nasional secara luas. Arti kebangkitan nasional masih terlalu sempit. Cakupan definisi nasionalisme dalam konteks kebangkitan nasional baru sebatas mewakili salah satu sub-kultur bangsa Indonesia. Misalnya nasionalisme Budi Oetomo hanya merepresentasikan suku Jawa dan Madura. Atau, nasionalisme yang diusung oleh R.A. Kartini baru merepresentasikan sub-kultur perempuan (gender). Padahal, makna kebangkitan nasional dalam konteks keindonesiaan harus meliputi seluruh aspek bangsa yang multikultural. Oleh karena itu, gagasan-gagasan baru yang mencoba menawarkan konsep kebangkitan nasional Indonesia masih terlalu rapuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa Indonesia bukan hanya suku Jawa atau Madura. Bangsa Indonesia juga bukan hanya terdiri atas kaum perempuan saja. Namun bangsa Indonesia secara keseluruhan terdiri atas berbagai pemeluk agama (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu), etnis (suku), jenis kelamin (gender), status sosial, dan lain-lain. Oleh karena itu, perumusan konsep nasionalisme harus secara demokratis dengan mengakomodir sekaligus menghargai semua kelompok dengan prinsip yang berkeadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam memaknai nasionalisme yang lebih luas, kita memang perlu definisi baru. Definisi tersebut harus merepresentasikan seluruh latarbelakang agama, etnis, jenis kelamin, status sosial, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, prinsip nasionalisme yang paling relevan dalam konteks keindonesiaan ialah nasionalisme-multikultural. Yaitu konsep nasionalisme yang meliputi perbedaan latarbelakang, baik perbedaan agama, etnis, jenis kelamin, status sosial, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasionalisme Indonesia bukan chauvinistik yang hanya merepresentasikan suku bangsa tertentu. Nasionalisme Indonesia juga tidak bias gender yang hanya merepresentasikan kaum perempuan saja. Akan tetapi, nasionalisme Indonesia adalah &lt;em&gt;nasionalisme-multikultural&lt;/em&gt; sebagaimana yang termaktub dalam semboyan &lt;em&gt;Bhineka Tunggal Ika&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jika kita sudah memahami konsep nasionalisme Indonesia dalam bingkai multikulturalisme, maka sejarah berdirinya Budi Oetomo (20 Mei 1908) atau kelahiran R.A. Kartini (21 April 1879) sudah tidak relevan lagi dijadikan sebagai titik tonggak sejarah kebangkitan nasional. Dua momentum bersejarah ini memang memiliki andil yang cukup besar dalam rangka membangun kesadaran nasionalisme pribumi. Akan tetapi, dengan memahami konsep bangsa Indonesia yang multikultural, maka kedua momentum tersebut belum dapat dikatakan sebagai kebangkitan secara nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut sejarawan Ben Anderson (1988), konsep nasionalisme Indonesia mulai diperkenalkan pada tahun-tahun terakhir zaman penjajahan Belanda. Berasal dari sekelompok pemuda terdidik seperti Ir. Soekarno dan kawan-kawan yang pada tahun 1926 mendirikan Partai Nasionalis Indonesia (PNI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, menurut hemat penulis, gagasan nasionalisme Indonesia pada waktu itu belum bisa dijadikan sebagai representasi kekuatan politik bangsa. Sebab, pembentukan PNI sebagai partai nasionalis belum mampu mengakomodir seluruh kepentingan bangsa yang multikultural. Baru pada tanggal 26-28 Oktober 1928, nasionalisme Indonesia menjadi kekuatan politik yang telah mengikat seluruh elemen bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarawan Ahmad Syafii Ma’arif berpendapat bahwa momentum Sumpah Pemuda merupakan titik tonggak kebangkitan nasional Indonesia. Penulis sepakat dengan guru besar UNY ini bahwa momentum Sumpah Pemuda yang terdiri dari seluruh elemen bangsa telah mengikat diri dalam ikrar bersama. Seluruh elemen bangsa menyatakan ikrar bersama: bertanah air satu (tanah air Indonesia), berbangsa satu (bangsa Indonesia) dan berbahasa satu (bahasa Indonesia). Dalam hal ini, momentum Sumpah Pemuda jauh lebih mencerminkan konsep nasionalisme-multikultural ketimbang gerakan Budi Oetomo atau emansipasi R.A. Kartini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika momentum berdirinya Budi Oetomo sudah tidak relevan dijadikan sebagai titik tonggak sejarah kebangkitan nasional, maka momentum 100 Tahun Kebangkitan Nasional kali ini jelas rapuh. Kebangkitan nasional Indonesia dimulai ketika kongres Sumpah Pemuda pada Oktober 1928. Dengan demikian, bangsa ini baru berumur sekitar 80 tahun, belum mencapai satu abad.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3765768874055571568-1038973369061289422?l=penulisjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulisjogja.blogspot.com/feeds/1038973369061289422/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3765768874055571568&amp;postID=1038973369061289422&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/1038973369061289422'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/1038973369061289422'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulisjogja.blogspot.com/2008/06/mendialogkan-kembali-sejarah.html' title='Mendialogkan Kembali Sejarah Kebangkitan Nasional'/><author><name>Ahmad Mu'arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00387346934510406805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_fLgt6xoY88Y/SF0uMh3wyAI/AAAAAAAAAGQ/PaNx4XSm_m4/S220/mu%27arif6.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_fLgt6xoY88Y/SFdwpsBocoI/AAAAAAAAAGI/Am-n_RtzJ3c/s72-c/NewsImage.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3765768874055571568.post-2235689322637916148</id><published>2008-06-16T13:10:00.015-04:00</published><updated>2008-12-09T19:31:58.030-04:00</updated><title type='text'>Budaya Lokal dalam Pusaran Arus Globalisasi</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_fLgt6xoY88Y/SFaiHAMmCjI/AAAAAAAAAFU/G_lzYOn1-b8/s1600-h/MswqL-8Oz82VI_h2v6pXtEhNbiPiAOO__0JCND11xa8TQ4WNTeXXVvY9ckcnz3Tfmgs-rkm_6EY06P-s4UPSKxDAJAMrVy8R6pTYRW6I4PXLCwzoaqmXfOjbVcJ9vMcqGmVpVmuNS_8NNd18tliG4WsnuGlj.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5212531859923536434" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 617px; CURSOR: hand; HEIGHT: 212px; TEXT-ALIGN: center" height="212" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_fLgt6xoY88Y/SFaiHAMmCjI/AAAAAAAAAFU/G_lzYOn1-b8/s320/MswqL-8Oz82VI_h2v6pXtEhNbiPiAOO__0JCND11xa8TQ4WNTeXXVvY9ckcnz3Tfmgs-rkm_6EY06P-s4UPSKxDAJAMrVy8R6pTYRW6I4PXLCwzoaqmXfOjbVcJ9vMcqGmVpVmuNS_8NNd18tliG4WsnuGlj.jpg" width="452" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 11 Februari, seratus tahun yang silam (1908), di ranah Minang (Sumatra Utara) telah lahir seorang pujangga besar. Bahkan, ia bukan hanya seorang pujangga, tetapi merupakan tokoh nasional yang berhasil mengangkat bahasa Indonesia sebagai identitas budaya bangsa. Pada sekitar 1930-an, tokoh yang satu ini berhasil menggelindingkan “polemik kebudayaan” yang juga berhasil menyita konsentrasi para budayawan di tanah air. Dialah &lt;strong&gt;Sutan Takdir Alisjahbana&lt;/strong&gt;, pemimpin redaksi majalah sastra dan budaya, &lt;em&gt;Pudjangga Baru&lt;/em&gt;, dan penulis novel &lt;em&gt;Layar Terkembang&lt;/em&gt;. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah paper dengan judul “Suatu Filosofi untuk Masa Depan Menuju Kebudayaan yang Inklusif” (&lt;em&gt;Kompas&lt;/em&gt;, 11/2/ 2008), Sutan Takdir Alisjahbana, menulis: “&lt;em&gt;Dewasa ini, kecepatan transportasi dan komunikasi sebagai dampak dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dahsyat menimbulkan suatu proses globalisasi di dunia yang mengakibatkan segala sesuatu tampaknya berada di depan kita dan kita tak terhindar lagi dari penyatuan bangsa dan kebudayaan di planet kita yang seolah-olah semakin menyusut.”&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;”Proses globalisasi”&lt;/em&gt; tulis Sutan Takdir Alisjahbana, &lt;em&gt;”mengakibatkan berbagai kebudayaan di dunia bertemu bukan saja di kota besar, tetapi di mana-mana dengan adanya radio, televisi, surat kabar, dan media massa.” &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Apa yang digambarkan oleh Sutan Takdir Alisjahbana, lewat paper yang konon belum pernah diterbitkan ini, merupakan fenomena global yang akhir-akhir ini tidak asing lagi bagi kita semua. Inilah yang dinamakan dengan proses globalisasi. Lewat peran media massa yang terus marak di seantero jagad, proses globalisasi seakan-akan tak terbendung lagi. Dampaknya cukup signifikan mempengaruhi kebudayaan lokal. Proses akulturasi budaya pun kian cepat. Menurut Sutan Takdir Alisjahbana, “&lt;em&gt;Saat ini telah terjadi pertemuan dan percampuran kebudayaan yang lebih besar daripada yang pernah terjadi dalam sejarah manusia sebelumnya.” &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Teknologi informasi dan sarana transportasi memang terus berkembang. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, proses globalisasi ini seakan-akan semakin menyusutkan dunia. Jika pada awal penemuan radio dan televisi, orang masih bisa menikmati perkembangan kebudayaan bangsa-bangsa lain di dunia lewat “kotak ajaib” bernama radio dan televisi, maka sekarang dunia telah dilipat semakin tipis dalam bentuk &lt;em&gt;handphone&lt;/em&gt; yang memiliki fasilitas untuk mengakses internet. Jaringan internet telah melipat batas-batas ruang dan waktu sehingga apa saja yang sedang terjadi di belahan dunia lain akan dengan mudah diakses oleh orang-orang di manapun. Gejala seperti ini persis seperti yang telah diramalkan oleh Yasraf Amir Piliang (1998) bahwa "dunia telah dilipat."&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak steril dari kepentingan-kepentingan. Justru kepentingan bisnis telah menguasai seluruh teknologi, khususnya teknologi informasi. Dampaknya makin mengakhawatirkan karena setiap budaya yang diekspos lewat media massa belum tentu sejalan dengan nilai-nilai budaya lokal. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di era globalisasi sekarang ini, eksistensi budaya lokal sedang menghadapi tantangan yang cukup kompleks. Kebudayaan lokal sedang menghadapi tantangan berat berupa sistem kapitalisme dan ideologi hedonisme. Sistem kapitalisme dan pola hidup hedonis merupakan produk sejarah bangsa Barat yang berhasil mendominasi dunia dengan memanfaatkan jaringan media, pasar bebas, dan kekuatan modal. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dampak globalisasi sudah merambah ke semua lini kehidupan. Media massa menawarkan “budaya tanding”—meminjam istilah Emha Ainun Najib—yang kian menggerus budaya lokal. Pola pikir dan gaya hidup hedonis terus dipupuk lewat tayangan iklan dan berbagai macam siaran di TV. Gaya hidup hedonis dan individualisme terus menguat. Tetapi, ironisnya kebahagiaan manusia semakin semu. Barang-barang mewah yang sudah pasti mahal harganya menjadi pusat kepuasan batin. Tingkat kepedulian seseorang terhadap orang lain kian menurun.&lt;br /&gt;Sistem pasar menghendaki persaingan individu secara ketat. Lewat peran media massa, segala sesuatunya mesti diseragamkan. Dari sinilah fenomena &lt;em&gt;budaya pop&lt;/em&gt; kian massif. Tingkah laku orang jadi aneh-aneh karena meniru-niru budaya asing. Dalam hal ini, globalisasi juga telah menciptakan individualisme semu karena antara ruang &lt;em&gt;private&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;public &lt;/em&gt;sudah bercampur-aduk. Seorang &lt;em&gt;top figure&lt;/em&gt; seperti artis, model, atau tokoh tertentu, akan diungkap seluk-beluk kehidupannya, bahkan sampai pada hal-hal yang sesungguhnya termasuk dalam kategori &lt;em&gt;privacy&lt;/em&gt;. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, dampak paling nyata dalam proses globalisasi ialah kehadiran “budaya tanding” yang terus mendesak budaya lokal sampai ke dalam kondisi yang cukup memprihatinkan. Budaya lokal kian tergusur sementara budaya tanding terus marak. Apakah globalisasi yang terus mengepung bakal melenyapkan budaya-budaya lokal yang sudah menjadi kekayaan bangsa kita? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jika ‘budaya tanding’ telah menggerus keberadaan budaya lokal, maka bagaimanakah reaksi para budayawan kita saat ini? Baru-baru ini, budayawan Ahmad Munif (2008), penulis novel &lt;em&gt;Perempuan Yogya&lt;/em&gt;, memberikan komentar cukup kritis kepada penulis. Ia tidak mengkambinghitamkan globalisasi, karena itu memang suatu keniscayaan. Tetapi Munif justru melontarkan sebuah autokritik: apakah kita mampu bertahan menghadapi arus globalisasi? &lt;em&gt;“Seperti diketahui dewasa ini, globalisasi di segala bidang telah melanda dunia. Termasuk globalisasi di bidang kebudayaan. Yang jadi pertanyaan, mampukah kita bertahan dari pengaruh budaya lain yang negatif?”&lt;/em&gt; tanya Ahmad Munif. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Merenungkan pertanyaan Ahmad Munif ini mengingatkan penulis pada stamina kebudayaan kita yang barangkali sedang diuji lewat kehadiran budaya tanding. Stamina kebudayaan merupakan “daya hidup” yang menjadi ruh kebudayaan yang dimiliki oleh setiap bangsa.&lt;br /&gt;Menurut budayawan WS. Rendra (2001), sebagai aktor dalam panggung sejarah, manusia dibekali “daya hidup” untuk menopang eksistensinya. Daya hidup dalam perspektif kebudayaan, salah satu di antaranya, seperti kemampuan beradaptasi. Kemampuan ini menjadi tolak ukur sejauhmana sebuah kebudayaan akan tetap bertahan di tengah arus perubahan zaman yang sangat ekstrim. Dalam hal ini, apakah kita mampu beradaptasi dengan baik di tengah-tengah tawaran kebudayaan lain yang datang dari luar. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam kepungan arus globalisasi, terutama lewat kehadiran budaya tanding yang tak mungkin dapat ditolak lagi, stamina kebudayaan kita memang harus tetap terjaga. Mungkin benar gagasan Sutan Takdir Alisjahbana bahwa kita harus mampu menciptakan &lt;em&gt;kebudayaan inklusif&lt;/em&gt;. Menurutnya, sikap inklusif dan solidaritas universal harus dibangkitkan agar retorika eksklusif dapat terhapus dan digantikan oleh kebersamaan dan solidaritas universal demi membangun kebudayaan baru. Inilah yang menurut Sutan Takdir Alisjahbana disebut sebagai suatu kebudayaan dunia baru yang inklusif. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tetapi gagasan ini, menurut penulis, tidak mampu membendung kekuatan arus globalisasi yang telah ditopang oleh tiga pilar: &lt;strong&gt;pasar&lt;/strong&gt;, &lt;strong&gt;media&lt;/strong&gt;, dan &lt;strong&gt;modal&lt;/strong&gt;. Ketika semangat keterbukaan menerima kebudayaan lain tanpa ditopang oleh penguatan akar tradisi lokal, bukannya tidak mungkin bangsa ini bakal tergerus oleh arus budaya tanding yang kadang kelihatan jauh lebih unggul dan menggiurkan. Namun juga sebaliknya, dalam kepungan arus modernitas yang tak mungkin dapat ditolak lagi, sikap melakukan aksi boikot atau mengisolasi diri terhadap kebudayaan dari luar hanya akan mengucilkan bangsa ini dari kemajuan zaman. Pengalaman bangsa China yang telah melakukan isolasi diri terhadap dunia luar menjadi catatan tersendiri. Untunglah, para pemimpin China berhasil mengubah kebijakan pembangunan Negeri Tirai Bambu ini. Bahkan, saat ini negeri China merupakan kekuatan peradaban yang cukup disegani di Timur. Tetapi, bangsa China mulai kehilangan identitas budaya lokal mereka karena terlalu inklusif menerima kebudayaan dari luar. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks ini, untuk menangkal arus globalisasi dan menyelamatkan kebudayaan lokal, gerakan kembali kepada tradisi dengan semangat eksklusif tentu bukan merupakan solusi yang tepat. Begitu juga sebaliknya. Bersikap selalu terbuka terhadap kebudayaan lain tanpa ditopang oleh penguatan akar tradisi lokal hanya akan menyeret bangsa ini ke dalam pusaran arus globalisasi yang kian menjadi-jadi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, menurut hemat penulis, proses adaptasi kebudayaan nasional terhadap kebudayaan lain harus ditopang dengan penguatan akar budaya lokal. Ini bertujuan agar kita tidak menjadi bangsa yang terombang-ambing dalam pusaran arus globalisasi. Sebaliknya, kita juga tidak ingin menjadi bangsa terbelakang hanya karena terlalu eksklusif, apalagi cenderung defensif, terhadap kebudayaan lain yang datang dari luar.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3765768874055571568-2235689322637916148?l=penulisjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulisjogja.blogspot.com/feeds/2235689322637916148/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3765768874055571568&amp;postID=2235689322637916148&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/2235689322637916148'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/2235689322637916148'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulisjogja.blogspot.com/2008/06/budaya-lokal-dalam-pusaran-arus.html' title='Budaya Lokal dalam Pusaran Arus Globalisasi'/><author><name>Ahmad Mu'arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00387346934510406805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_fLgt6xoY88Y/SF0uMh3wyAI/AAAAAAAAAGQ/PaNx4XSm_m4/S220/mu%27arif6.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fLgt6xoY88Y/SFaiHAMmCjI/AAAAAAAAAFU/G_lzYOn1-b8/s72-c/MswqL-8Oz82VI_h2v6pXtEhNbiPiAOO__0JCND11xa8TQ4WNTeXXVvY9ckcnz3Tfmgs-rkm_6EY06P-s4UPSKxDAJAMrVy8R6pTYRW6I4PXLCwzoaqmXfOjbVcJ9vMcqGmVpVmuNS_8NNd18tliG4WsnuGlj.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3765768874055571568.post-1452865468386265521</id><published>2008-06-16T13:10:00.014-04:00</published><updated>2008-12-09T19:31:58.197-04:00</updated><title type='text'>“Sesuatu” yang Hilang di Kalangan Penerbit Buku</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_fLgt6xoY88Y/SFafkh6p1fI/AAAAAAAAAFE/Mw63dMFJjrc/s1600-h/buku-buku-buku.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5212529068656416242" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 220px; CURSOR: hand; HEIGHT: 233px" height="281" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_fLgt6xoY88Y/SFafkh6p1fI/AAAAAAAAAFE/Mw63dMFJjrc/s320/buku-buku-buku.jpg" width="247" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;“Pikiran” dan “tindakan” adalah dua unsur yang padu. Pikiran yang bersemayam di benak saya telah menuntun kepada apa yang saya lakukan selama ini. Begitu juga sebaliknya, tindakan saya amat tergantung pada konstruksi pikiran saya. Proses pembentukan konstruksi pikiran bisa lewat jalur pendidikan (pengajaran) atau dapat pula secara autodidak dengan cara baca buku. Dalam konteks yang terakhir ini, saya ingin mengukur seberapa besar pengaruh buku-buku yang telah diterbitkan dalam membentuk &lt;em&gt;mindset&lt;/em&gt; bangsa Indonesia. Lebih lanjut, saya juga ingin mengatakan “sesuatu” terhadap eksistensi penerbit-penerbit di Indonesia yang telah berjasa membentuk &lt;em&gt;mindset&lt;/em&gt; bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Seabad kebangkitan nasional atau 10 tahun reformasi baru saja berlalu dan gaungnya masih sayup-sayup terdengar hingga kini. Sekalipun sudah terlambat, saya ingin mengatakan bahwa cikal-bakal kelahiran bangsa Indonesia lewat momentum berdirinya gerakan Budi Oetomo (20 Mei 1908-20 Mei 2008), merupakan suatu proses intelektual yang sangat cerdas. Dan, kecerdasan intelektual ini tidak diperoleh secara kebetulan, tetapi lewat proses akademik atau autodidak dengan cara baca buku. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui, sosok dr. Sutomo, tokoh utama Budi Oetomo, merupakan seorang lulusan akademik. Di samping itu, ia juga seorang autodidak, khususnya dalam mempelajari etika dan filsafat timur. Menurut KH. Mas Mansur (1938), dr. Sutomo menguasai etika dan filsafat timur dengan membaca buku-buku karangan Ibnu ’Arabi—khususnya kitab &lt;em&gt;Futuhat&lt;/em&gt;, Muhammad Abduh—khususnya tentang &lt;em&gt;Waridlat&lt;/em&gt;, dan karangan Farid Wajdi, &lt;em&gt;Dairatul Ma’arif&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Proses reformasi di Indonesia (1998) yang menjadi gerbang pencerahan menuju kehidupan demokratis seperti sekarang ini, juga merupakan buah dari proses pematangan kecerdasan intelektual. Jika bangsa ini tidak memiliki kecerdasan intelektual yang cukup memadai, maka reformasi menjadi sesuatu yang mustahil. Jika reformasi kita lihat sebagai ”tindakan,” maka sesungguhnya ia merupakan buah dari pikiran yang bersemayam di benak bangsa ini secara mayoritas. Artinya, reformasi sudah terbentuk dalam &lt;em&gt;mindse&lt;/em&gt;t bangsa ini sebelum presiden Soeharto lengser. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Apakah yang membentuk &lt;em&gt;mindset&lt;/em&gt; bangsa ini sehingga proses reformasi menjadi ”kata sepakat” untuk menghentikan rezim Orde Baru? Jawabnya, jika tidak lewat pendidikan, maka peran penerbit-penerbit dalam menerbitkan buku-buku bermutu sangat mendukung bagi terbentuknya &lt;em&gt;mindset&lt;/em&gt; bangsa Indonesia saat ini. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hampir sebagian besar pakar dan praktisi pendidikan di Indonesia sadar bahwa rezim Orde Baru telah memanfaatkan pendidikan nasional sebagai jalur untuk melegitimasi sekaligus melanggengkan kekuasaan. Pendidikan nasional pada era Soeharto cenderung &lt;em&gt;a-politik&lt;/em&gt; dan ini menjadi indikasi bahwa pendidikan telah gagal membentuk mindset bangsa. Dengan demikian, peran jalur autodidak lebih memungkinkan untuk membentuk karakter bangsa ini. Buku-buku yang diterbitkan, sekalipun pada masa rezim Orde Baru banyak yang dinyatakan sebagai ”buku terlarang,” cukup besar pengaruhnya dalam membentuk karakter bangsa ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks inilah, saya cukup apresiatif terhadap Ahmad Munif (2008), dosen Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, yang baru-baru ini berhasil meneliti pengaruh buku-buku terjemahan dari luar negeri (teks Arab dan Inggris) terhadap proses pembentukan &lt;em&gt;mindset&lt;/em&gt; bangsa Indonesia. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di kalangan penerbit-penerbit buku di Indonesia, buku-buku terjemahan dari luar negeri, baik dalam bentuk teks Arab ataupun Inggris, memang cukup populer. Untuk buku-buku dengan tema keislaman, maka sumber utamanya adalah para penulis dari kawasan Timur Tengah. Menurut hasil penelitian Ahmad Munif, buku-buku terjemahan bahasa Arab mendominasi untuk tema-tema keagamaan dan spiritualitas. Sedang untuk buku-buku dengan tema keilmuan, seperti politik, ekonomi, sosial, dan budaya, maka sumber utamanya adalah para penulis dari barat. Buku-buku terjemahan bahasa Inggris mendominasi untuk tema yang satu ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jika kita cermati secara seksama, buku-buku terjemahan yang membanjiri pasar buku di indonesia justru lebih besar jumlahnya jika dibanding dengan karangan para penulis lokal. Bahkan, di mata penerbit-penerbit buku di Indonesia, menerbitkan buku-buku terjemahan jauh lebih menguntungkan dibanding karangan penulis lokal. Alasannya, penerbit tidak harus berpusing-pusing memikirkan royalti bagi penulis. Sebab, untuk buku-buku terjemahan menggunakan sistem beli putus (banyak yang tidak menggunakan &lt;em&gt;copy right&lt;/em&gt;). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di samping masalah royalti, bagi penerbit yang menerbitkan buku-buku terjemahan dari luar negeri dapat lebih leluasa memilih tema-tema yang sedang laku di pasar. Ditopang dengan kredibilitas penulis-penulis dari luar negeri, suatu tema yang sedang populer dipastikan dapat mendatangkan keuntungan yang besar pula. Yang demikian tidak berlaku bagi karangan para penulis lokal. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jika kita baca kembali proses pembentukan mindset lewat peran penerbitan buku, maka sesungguhnya bangsa Indonesia telah dijejali dengan produk-produk pemikiran dari luar negeri. Masih beruntung jika buku-buku terjemahan yang diterbitkan relevan dengan konteks pola pikir dan konstruksi budaya bangsa kita. Jika buku-buku terjemahan dari luar negeri itu justru berseberangan dengan nilai-nilai kultur bangsa kita, maka penerbit-penerbit tersebut dapat dikatakan telah mendukung imperialisme di abad modern lewat proses globalisasi yang terus mendesak kearifan lokal. Hanya demi keuntungan ekonomis (modal), penerbit-penerbit di Indonesia rela menjadi agen imperialisme budaya di negeri sendiri. Di sini, saya kritik penerbit-penerbit di Indonesia yang tidak memikirkan nasib bangsa ini. Ada ”sesuatu” yang hilang di kalangan penerbit di Indonesia. Sesuatu itu adalah ”rasa nasionalisme” yang dikalahkan oleh keuntungan modal (kapitalis).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Setelah menggeluti dunia penerbitan dan berkecimpung sebagai pengarang buku, saya mengamati bahwa mayoritas kalangan penerbit di Indonesia telah kehilangan visi nasionalismenya. Akibatnya, bangsa ini pun jadi makin a-historis ketika berhadapan dengan pasar ide yang ditawarkan oleh para penulis dari luar negeri. Ironis memang, mengapa para pembaca buku di Indonesia lebih terkagum-kagum kepada sosok &lt;strong&gt;Paulo Freire&lt;/strong&gt;, bapak pendidikan kritis dari Brazil, ketimbang &lt;strong&gt;Ki Hajar Dewantara&lt;/strong&gt;, bapak pendidikan nasional Indonesia? Mengapa pula para mahasiswa lebih terpukau kepada sosok &lt;strong&gt;Che Guevara&lt;/strong&gt;, tokoh revolusioner dari &lt;strong&gt;Cuba&lt;/strong&gt;, ketimbang &lt;strong&gt;Tan Malaka&lt;/strong&gt;, pahlawan nasional yang sepak-terjangnya pernah mengguncang komunis internasional? Mengapa juga harus menokohkan &lt;strong&gt;Hasan Al-Banna&lt;/strong&gt;, pembaru keagamaan dari Mesir, bukan &lt;strong&gt;M. Natsir&lt;/strong&gt;, cendekiawan dan politisi Muslim Indonesia yang cukup masyhur?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di sini, saya mengetuk pintu hati para pengelola penerbitan buku di Indonesia. Kondisi bangsa yang seperti ini disebabkan karena di kalangan penerbit-penerbit buku di Indonesia telah meninggalkan ”sesuatu” hanya karena kepentingan bisnis semata. Dan, sesuatu itu bernama ”rasa nasionalisme.”&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3765768874055571568-1452865468386265521?l=penulisjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulisjogja.blogspot.com/feeds/1452865468386265521/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3765768874055571568&amp;postID=1452865468386265521&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/1452865468386265521'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/1452865468386265521'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulisjogja.blogspot.com/2008/06/sesuatu-yang-hilang-di-kalangan.html' title='“Sesuatu” yang Hilang di Kalangan Penerbit Buku'/><author><name>Ahmad Mu'arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00387346934510406805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_fLgt6xoY88Y/SF0uMh3wyAI/AAAAAAAAAGQ/PaNx4XSm_m4/S220/mu%27arif6.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_fLgt6xoY88Y/SFafkh6p1fI/AAAAAAAAAFE/Mw63dMFJjrc/s72-c/buku-buku-buku.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3765768874055571568.post-5925320586483323417</id><published>2008-06-16T05:54:00.008-04:00</published><updated>2008-12-09T19:31:58.354-04:00</updated><title type='text'>Menanti Partisipasi Politik Perempuan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_fLgt6xoY88Y/SFY7mSf66gI/AAAAAAAAAE8/5YqE4_LDyK0/s1600-h/jilbab-lukis.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5212419147714718210" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 196px; CURSOR: hand; HEIGHT: 258px" height="320" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_fLgt6xoY88Y/SFY7mSf66gI/AAAAAAAAAE8/5YqE4_LDyK0/s320/jilbab-lukis.jpg" width="233" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dalam konteks politik, peran dan posisi kaum perempuan di Indonesia memang masih mengalami diskriminasi. Fenomena semacam ini juga tidak hanya terjadi di Indonesia, namun di negara-negara lain yang menganut sistem budaya patriakhi juga menunjukkan gejala yang sama. Kaum perempuan di beberapa negara di dunia masih buta terhadap politik. Tidak hanya di negara-negara Islam, tetapi negara-negara non Islam pun masih banyak didapati perempuan yang tidak memahami wilayah politik kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, masalah peran dan posisi kaum perempuan di wilayah publik merupakan bagian dari hak-hak asasi yang setiap manusia berhak memilikinya. Namun yang cukup ironis, kaum perempuan justru banyak yang belum memahami tentang hak-hak mereka. Oleh karena itu, para aktivis Feminisme memang perlu menggarap agenda advokasi, pendampingan, dan pendidikan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, jumlah perempuan mendominasi kaum laki-laki. Tetapi ironisnya, kaum perempuan di Indonesia masih banyak yang buta terhadap wacana politik. Akibatnya, peran dan posisi mereka di wilayah pengambil kebijakan masih sangat minim. Seolah-olah politik menjadi wilayah tabu bagi kaum perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa mengambil sebuah kasus sewaktu sosok Megawati Soekarno Putri, putri mendiang presiden pertama RI (Soekarno), mencalonkan diri sebagai presiden pada Pemilu 1999. Perdebatan apakah seorang perempuan berhak menjabat sebagai pemimpin atau tidak seolah-olah belum mencapai titik temu. Bagi umat Islam di Indonesia, kehadiran figur pemimpin perempuan memang menjadi kontroversi yang tak kunjung henti. Sekalipun kelompok cendekiawan Muslim modernis memperbolehkan kepemimpinan perempuan, tetapi tidak mudah bagi kelompok Islam tradisionalis yang masih berhaluan literalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdebatan masalah kepemimpinan perempuan dalam konteks politik merupakan sebuah konsekuensi logis bagi rakyat Indonesia yang mayoritas pendudukanya beragama Islam. Sebab, dalam catatan sejarah umat Islam, keberadaan kaum perempuan cenderung dipahami secara diskriminatif dan tidak adil. Sejarah umat Islam yang berawal dari sebuah bangsa dengan sistem budaya patriarkhi (bangsa Arab) memang sangat mempengaruhi dalam pemahaman ajaran-ajaran agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad ini. Ditopang dengan kapasitas pemahaman terhadap ajaran-ajaran Islam yang tidak memadai, maka sebagian besar umat Islam cenderung literalis dalam menerapkan ajaran Islam. Termasuk dalam hal ini bagaimana menempatkan peran dan posisi kaum perempuan di wilayah publik. Fenomena semacam ini juga amat dengan mudah ditemui di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Quota 30%&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam catatan sejarah bangsa Indonesia, keberadaan pemimpin perempuan hanya sekali, yaitu sewaktu Megawati Soekarno Putri menjabat sebagai presiden. Tampilnya Megawati sebagai pemimpin bangsa telah mengubah paradigma umat Islam bahwa peran dan posisi kaum perempuan bisa sejajar dengan kaum laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun demikian, perjuangan menempatkan kaum perempuan setara dengan kaum laki-laki masih teramat berat. Sebab, konstruksi sosial bangsa Indonesia menempatkan kaum laki-laki lebih dominan dibanding kaum perempuan (budaya patriarkhi). Indikasinya terletak pada keterlibatan kaum perempuan yang belum proporsional pada jabatan struktural (pemerintahan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan data BPS tahun 1999, jumlah pegawai negeri sipil (PNS) dari kaum perempuan tercatat sebanyak 36,9%. Padahal, jumlah kaum perempuan di Indonesia mendominasi kaum laki-laki. Data ini menunjukkan bahwa kaum perempuan belum mendapat tempat yang selayaknya di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Musdah Mulia (2008), berdasarkan data-data tahun 2002, posisi kaum perempuan di MPR masih sebesar 9%. Sementara posisi kaum perempuan di DPR malah baru 8%. Belum lagi di tingkat propinsi atau kabupaten. Dapat disimpulkan jika kaum perempuan masih menempati posisi yang minim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para aktivis gerakan Feminisme di Indonesia berperan besar bagi terciptanya keadilan bagi kaum perempuan. Perjuangan aktivis Feminisme di Indonesia cukup membuahkan hasil ketika pada tahun 2003, undang-undang yang mengatur keterlibatan kaum perempuan dalam politik kekuasaan berhasil disahkan. Quota 30% dalam UU No. 12 Tahun 2003, khususnya pada pasal 65, telah memberi ruang bagi partisipasi aktif kaum perempuan di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun keberadaan UU No. 12 Tahun 2003 telah menjamin keterlibatan partisipasi aktif kaum perempuan di pentas politik nasional, ternyata konstruksi sosial di Indonesia belum bisa menerima sepenuhnya. Sebab, pada hahekanya sistem sosial bangsa Indonesia cenderung patriarkhi. Oleh karena itu, tidak sedikit kalangan aktivis Feminisme yang menganggap UU No. 12 Tahun 2003 sebagai kebijakan “setengah hati.” Sekalipun sudah mendapat payung hukum untuk terlibat langsung di pentas perpolitikan nasional, kaum perempuan tetap saja mengalami diskriminasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru-baru ini, problem ketidakadilan sosial dan politik yang dialami oleh kaum perempuan di Indonesia mendapat angin segar kembali. Disahkannya UU Pemilu 2009 dan UU Parpol tentang kewajiban partai-partai untuk mengusung quota 30% bagi kaum perempuan merupakan hasil perjuangan para aktivis Feminisme untuk memperjuangkan hak-hak mereka.&lt;br /&gt;Perjuangan untuk mencapai kesetaraan bagi kaum perempuan, khususnya di bidang politik, memang masih panjang. Menurut laporan Monitoring Program Education For All (EFA) UNESCO tahun 2008, Indonesia, Bangladesh dan China diprediksikan bakal mampu meraih tujuan kesetaraan gender pada tahun 2015.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan EFA UNESCO baru-baru ini jelas memiliki relevansi dengan iklim perpolitikan di Indonesia yang mulai berbenah. Pemberlakuan kuota 30% dalamUndang-undang Partai Politik (UU Parpol) dan Undang-undang Pemilihan Umum (UU Pemilu) baru-baru ini merupakan sebuah indikasi bahwa peta perpolitikan di Indonesia sudah mulai menempatkan posisi bagi kaum perempuan. Namun yang patut dipertanyakan, sejauhmana kesiapan kaum perempuan sendiri dalam menghadapi tuntutan ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran aktif kaum perempuan di Indonesia jelas ditunggu untuk terlibat langsung dalam pentas perpolitikan nasional. Menanggapi tuntutan ini, apakah kaum perempuan sudah siap menerimanya?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3765768874055571568-5925320586483323417?l=penulisjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulisjogja.blogspot.com/feeds/5925320586483323417/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3765768874055571568&amp;postID=5925320586483323417&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/5925320586483323417'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/5925320586483323417'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulisjogja.blogspot.com/2008/06/menanti-partisipasi-politik-perempuan.html' title='Menanti Partisipasi Politik Perempuan'/><author><name>Ahmad Mu'arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00387346934510406805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_fLgt6xoY88Y/SF0uMh3wyAI/AAAAAAAAAGQ/PaNx4XSm_m4/S220/mu%27arif6.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_fLgt6xoY88Y/SFY7mSf66gI/AAAAAAAAAE8/5YqE4_LDyK0/s72-c/jilbab-lukis.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3765768874055571568.post-4336281187721453332</id><published>2007-12-27T12:50:00.000-04:00</published><updated>2008-12-09T19:31:58.465-04:00</updated><title type='text'>BookMagz, Buku Serasa Majalah</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_fLgt6xoY88Y/R4UEKBzDsiI/AAAAAAAAAEc/aME8jkDRfeI/s1600-h/buku-buku.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5153529918923190818" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 190px; CURSOR: hand; HEIGHT: 166px; TEXT-ALIGN: center" height="214" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_fLgt6xoY88Y/R4UEKBzDsiI/AAAAAAAAAEc/aME8jkDRfeI/s320/buku-buku.jpg" width="267" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 27pt; TEXT-ALIGN: left"&gt;Baju saya masih basah kuyup sewaktu masuk ke salah satu penerbit di Jogja, sore itu. Seperti biasa, saya sedang memasukkan beberapa naskah buku. Kali ini, naskah-naskah hasil revisi. Selesai basa-basi, seorang staf editor menunjukkan kepada saya dua buah buku. Kabarnya, dua buku tersebut hasil kreativitas timnya di penerbit tersebut. Tetapi, terus terang saja, saya sudah sinis duluan melihat buku-buku tersebut. “Buku kok kayak majalah! Di mana letak kewibawaan buku?”&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 27pt; TEXT-ALIGN: left"&gt;Sambil menunggu hujan reda, saya coba bertanya kepadanya, “Bagaimana respon pasar?” Di luar dugaan! Buku yang didesain layaknya majalah itu malah termasuk kategori &lt;i&gt;bestseller&lt;/i&gt;. Tentu saya sadar, standar &lt;i&gt;bestseller&lt;/i&gt; penerbit tersebut berbeda dengan penerbit-penerbit lain.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 27pt; TEXT-ALIGN: left"&gt;BookMagz: &lt;i&gt;Book Magazine&lt;/i&gt;. Sebuah istilah yang sudah pasti asing di telinga saya. Setelah saya amat-amati, di pojok kiri atas pada sampul kedua buku tersebut memang terdapat logo BookMagz: &lt;i&gt;Buku Serasa Majalah&lt;/i&gt;. Mungkin maksudnya buku yang jika dibaca seperti rasa majalah: enteng, meriah, dan wah. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 27pt; TEXT-ALIGN: left"&gt;Mendengar namanya saja, &lt;i&gt;BookMagz&lt;/i&gt;, sudah pasti terbanyang: desain covernya meriah, isinya ringan, penuh gambar/ilustrasi, dan sudah barang tentu warna-warni. Satu lagi, bahasa judulnya gaul abis! Maaf, saya tidak bisa menyebutkan judul buku tersebut di sini. Takutnya, nanti saya dikira promosi.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 27pt; TEXT-ALIGN: left"&gt;Apa yang baru saya saksikan tersebut tidak lain berupa salah satu bentuk upaya penerbit Jogja untuk tetap eksis di tengah persaingan ketat antarpenerbit. Di zaman modern ini, ketika teknologi makin canggih, setiap usaha penerbitan buku dituntut supaya kreatif dan inovatif. Jika tidak, tunggu saja detik-detik gulung tikarnya.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 27pt; TEXT-ALIGN: left"&gt;Ternyata, BookMagz sudah beredar kurang lebih tiga tahun yang lalu. Berarti, saya sudah agak ketinggalan mengikuti perkembangan industri perbukuan di Jogja. Mungkinkah fenomena BookMagz ini yang pernah disinggung-singgung dalam rubrik ini (&lt;i&gt;Di Balik Buku&lt;/i&gt;) beberapa tahun yang lalu? Entahlah, saya tidak tahu persis.&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 27pt; TEXT-ALIGN: left"&gt;Seingat saya, istilah yang sering dipakai untuk fenomena yang satu ini disebut &lt;i&gt;“tabloidisasi buku.”&lt;/i&gt; Maksudnya, buku yang dikemas layaknya tabloid. Atau, berdasarkan kesaksian saya baru-baru ini, istilah yang dipakai &lt;i&gt;“majalahisasi buku.”&lt;/i&gt; Maksudnya, buku yang didesain layaknya majalah. Ah, ada-ada saja istilah zaman sekarang!&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 27pt; TEXT-ALIGN: left"&gt;Sekalipun saya berusaha memahami kreativitas dan inovasi penerbit yang memproduksi BookMagz, tetapi perasaan sinis dan prihatin tetap saja terus menghantui. Saya selalu sinis melihat model kemasan buku yang demikian itu. Buku &lt;i&gt;kok&lt;/i&gt; dikemas kayak majalah! Atau, buku &lt;i&gt;kok&lt;/i&gt; didesain kayak tabloid! Saya jadi prihatin, “Di mana letak kewibawaan karya intelektual yang selama ini cukup terhormat itu?”&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 27pt; TEXT-ALIGN: left"&gt;Mungkin saya akan dianggap pengarang kolot yang tidak gaul. Tapi, biarlah orang lain bilang begitu. Dalam benak saya, fenomena BookMagz dan yang sejenisnya benar-benar menjadi sebuah tantangan berat bagi para pengarang buku. Tampaknya, di zaman modern seperti sekarang ini, kata-kata sudah tidak lagi ampuh untuk mengusung ide-ide besar. Para pengarang yang terbiasa mengolah dan menabur kata sedang dalam situasi terpojok. Profesi dan keahlian mereka sedang tersodok. Buktinya, sebuah buku dianggap tidak cukup hanya disajikan dalam bentuk teks. Tapi, sebuah buku harus berupa paduan antara teks dan grafis. Malah ada yang lebih keterlaluan lagi, setiap halaman buku didominasi oleh gambar-gambar ilustrasi. &lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;“Ini buku apa komik?” pikirku. &lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 27pt; TEXT-ALIGN: left"&gt;Di tangah-tengah pikiran yang terus berkecamuk, saya mendapati sebuah informasi penting. Tapi, keprihatinan saya bukannya mereda, malah makin berkecamuk. Sewaktu membaca salah satu resensi yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma (&lt;i&gt;Kompas&lt;/i&gt;, 10/2007), perasaan saya makin menjadi-jadi. Perasaan prihatin dan sekaligus sinis. Ternyata, fenomena BookMagz bukan hanya mewabah di Jogja, tetapi di Amerika Serikat pun juga begitu. Sepertinya, kejenuhan pada teks-teks sudah menjadi kenyataan yang mendunia. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 27pt; TEXT-ALIGN: left"&gt;BookMagz memang tidak dikenal di Amerika Serikat. Tapi, di negeri Paman Sam ini, fenomena berkomunikasi dengan menggunakan perpaduan antara kata-kata dan seni grafis sudah mewabah di sana. Sekalipun sebuah buku berisi tema serius, tetapi kemasannya makin irit teks. Contohnya buku karya Will Eisner, &lt;i&gt;The Plot: The Secret Story of The Protocols of Elder of Zion&lt;/i&gt; (2005). Atau misalnya buku karya Sid Jacobson dan Ernie Colon, &lt;i&gt;9/11 Report: A Graphic Adaptation Based on The 9/11 Commission Report&lt;/i&gt; (2006).&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 27pt; TEXT-ALIGN: left"&gt;Kedua buku ini, sekalipun dikemas seperti buku komik (&lt;i&gt;comic books&lt;/i&gt;), tapi lucunya bukan disebut sebagai buku komik. Umberto Eco memberi catatan komentar bahwa buku Will Eisner “bukan buku komik” (&lt;i&gt;comic books&lt;/i&gt;), sekalipun kemasannya memang serupa buku komik (untuk membedakan antara buku komik yang lucu dengan buku dengan desain ilustrasi yang tampak serius).&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 27pt; TEXT-ALIGN: left"&gt;Lewat artikel ini, saya bukannya sedang meremehkan sebuah karya kreatif lagi inovatif, seperti BookMagz atau buku-buku yang serupa komik. Sama sekali bukan! Di satu sisi, saya berusaha untuk menyadari bahwa fenomena yang demikian merupakan tuntutan zaman. Tujuannya agar penerbit-penerbit tetap bisa eksis di tengah-tengah persaingan ketat. Salah satu kuncinya ialah membaca secara cerdas kecenderungan pasar—untuk penerbit profit. Kecenderungan pasar pembaca harus dicermati baik-baik untuk kemudian dijadikan sebagai acuan dalam berkarya secara kreatif dan inovatif. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 27pt; TEXT-ALIGN: left"&gt;Tapi, di sisi lain, setelah melihat kecenderungan pasar pembaca yang demikian, perasaan saya makin prihatin. Saya melihat pasar pembaca seakan-akan manja atau enggan bertatapan dengan teks-teks buku konvensional. Seolah-olah mereka malas mengernyitkan dahi untuk bergumul dengan tema-tema serius. Melihat fenomena yang demikian, saya kemudian bertanya-tanya dalam hati, “Apakah mereka sudah enggan berkomunikasi dengan kata-kata?” Saya pun berusaha introspeksi diri, “Mungkin sekarang kata-kata sudah kehilangan ruhnya”&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 27pt; TEXT-ALIGN: left"&gt;Menghadapi fenomena yang satu ini, para pengarang memang perlu merenungkannya kembali, termasuk juga saya.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3765768874055571568-4336281187721453332?l=penulisjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulisjogja.blogspot.com/feeds/4336281187721453332/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3765768874055571568&amp;postID=4336281187721453332&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/4336281187721453332'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/4336281187721453332'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulisjogja.blogspot.com/2007/12/bookmagz-buku-serasa-majalah.html' title='BookMagz, Buku Serasa Majalah'/><author><name>Ahmad Mu'arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00387346934510406805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_fLgt6xoY88Y/SF0uMh3wyAI/AAAAAAAAAGQ/PaNx4XSm_m4/S220/mu%27arif6.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fLgt6xoY88Y/R4UEKBzDsiI/AAAAAAAAAEc/aME8jkDRfeI/s72-c/buku-buku.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3765768874055571568.post-6238522328458551199</id><published>2007-12-23T07:28:00.000-04:00</published><updated>2007-12-23T07:29:58.341-04:00</updated><title type='text'>“Liberalisasi” dan “Liberalisme” Pemikiran Islam</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Sekalipun tema “Liberalisasi” dan “Liberalisme” pemikiran Islam sudah lewat beberapa tahun yang silam, tetapi sampai sejauh ini masih banyak kalangan yang mempersoalkannya kembali. Tulisan terakhir yang mengritisi dua tema ini seperti Haris Booegies dalam &lt;i&gt;“Gemuruh Riuh Islam Liberal”&lt;/i&gt; (2007). Tanpa bermaksud membela Islam Liberal (Islib), saya ingin menegaskan di sini bahwa pemikiran Cak Nur—sapaan akrab Nurcholish Madjid—dan lahirnya Jaringan Islam Liberal (JIL) memiliki kontribusi positif bagi dinamika pemikiran Islam di Indonesia.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Pemikiran Cak Nur&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Cak Nur, cendekiawan Muslim yang patut dijuluki sebagai “Begawan Islam Pluralis” ini, memang membedakan antara ranah agama dan budaya. Islam secara normatif—meminjam istilah Amin Abdullah—sudah baku. Tetapi, secara historis (budaya) bersifat dinamis. Sebab, aspek historisitas berada dalam dimensi temporal (ruang dan waktu). &lt;i&gt;Das sollen&lt;/i&gt;, Islam adalah tetap atau sudah baku (normatif). &lt;i&gt;Das sein&lt;/i&gt;, Islam harus dinamis mengikuti perkembangan zaman (historis). Di sini, menurut Harun Nasution (2000), Cak Nur telah melakukan proses “rasionalisasi” untuk memisahkan keduanya.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Pemikiran Cak Nur menawarkan “sekulerisasi” (bedakan dengan sekulerisme) sebagai solusi untuk memecah kebuntuan pemikiran Islam. Di mata Cak Nur, umat Islam belum mampu menerjemahkan agama Islam secara nyata ke dalam dunia yang serba temporal. Akibatnya, ajaran-ajaran Islam menjadi kian melangit. Usaha untuk melendingkan gagasan Islam yang melangit diperlukan proses “sekulerisasi” yang sesungguhnya sejalan dengan “rasionalisasi.” &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Ketika Cak Nur menerjemahkan kalimat tauhid “&lt;i&gt;La Ilaha Illallah&lt;/i&gt;” menjadi “tiada tuhan selain Tuhan” (dengan pembeda huruf kapital) sebenarnya ia sedang membedakan secara tegas makna kata yang sering digunakan untuk menyebut “obyek sesembahan” dalam konteks budaya dan makna hakikinya. Jika Abdul Haris Booegies merujuk pendapat Louis Ma’luf Al-Yasu’i bahwa kata “&lt;i&gt;Allah&lt;/i&gt;” pada kalimat tauhid merupakan nama yang tak tergantikan oleh apa saja (&lt;i&gt;ismun dzati&lt;/i&gt;). Tetapi menurut saya ini menjadi problem semiotik yang belum sempat terjawab. Bahasa Arab itu serumpun dengan bahasa &lt;i&gt;Indo-Eropa&lt;/i&gt; seperti Ibrani, Suryani, dan lain-lain. Jika kita menggunakan perspektif ini (budaya), maka nama tuhan “&lt;i&gt;Allah&lt;/i&gt;” memiliki banyak arti. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Berdasarkan penelitian Jerald F. Dirks (&lt;/span&gt;2004: &lt;span style="color: black;"&gt;83-84&lt;/span&gt;)&lt;span style="color: black;"&gt;, Nabi Ibrahim disinyalir memperkenalkan nama “&lt;i&gt;El&lt;/i&gt;” untuk menyebut tuhannya sewaktu tinggal di Palestina (Nablus) pada sekitar 2091 Sebelum Masehi (SM). Penggunaan nama “&lt;i&gt;El&lt;/i&gt;” merupakan bentuk akulturasi antara budaya setempat (Kanaan) dengan keyakinan yang dibawa oleh Ibrahim. Orang-orang Kanaan menyebut “&lt;i&gt;El&lt;/i&gt;” sebagai “Dewa Ayah.” Dari kata &lt;i&gt;El&lt;/i&gt;—yang pada dasarnya setara dengan kata “Tuhan” (sesembahan)—kemudian bermetamorfosa dalam bahasa Indo-Eropa menjadi “&lt;i&gt;Il&lt;/i&gt;,” “&lt;i&gt;El&lt;/i&gt;,” “&lt;i&gt;Al&lt;/i&gt;” (lihat Nurcholish Madjid, 1992: xxii).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Dalam konteks budaya Arab, nama tuhan “&lt;i&gt;Allah&lt;/i&gt;” sudah dipakai sebelum masa kenabian Muhammad saw. Dalam bahasa Arab, kata “&lt;i&gt;Allah&lt;/i&gt;” berasal dari kata “&lt;i&gt;Ilah&lt;/i&gt;” (&lt;i&gt;ismu fa’il&lt;/i&gt;) yang artinya “sesembahan”. Sekalipun demikian, kata ini (&lt;i&gt;Ilah&lt;/i&gt;) memiliki dua makna sekaligus (ganda): sebagai “subyek” dan “obyek.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Saya ambil contoh. Kata “&lt;i&gt;kitab&lt;/i&gt;” (&lt;i&gt;ismu fa’il&lt;/i&gt;) secara tidak langsung bermakna sebagai “subyek” (pelaku/&lt;i&gt;fa’il&lt;/i&gt;) sekaligus “obyek” (sesuatu yang ditulis). Demikian halnya dengan kata “&lt;i&gt;Ilah.&lt;/i&gt;” Ia bermakna ganda: subyek sesembahan sekaligus obyek (&lt;i&gt;ma’luh&lt;/i&gt;). Di sini problem semiotik masih sering dipersoalkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Orang-orang Arab sebelum kenabian Muhammad saw sudah terbiasa menggunakan kata “&lt;i&gt;Allah&lt;/i&gt;” untuk “sumpah” (&lt;i&gt;qasam&lt;/i&gt;). Seperti kata “&lt;i&gt;Wallahi&lt;/i&gt;,” “&lt;i&gt;Tallahi&lt;/i&gt;,” “&lt;i&gt;Billahi&lt;/i&gt;,” dan lain-lain. Atas dasar inilah, nama Allah termasuk dalam konteks budaya setempat (Arab). Sementara pada makna leksikal berdasarkan latarbelakang historisnya cenderung mengundang konotasi paganisme. Tetapi, perlu diingat, kenabian Muhammad saw telah menyelamatkan kita dari persepsi ketuhanan yang paganistik ini. Dengan memahami Nama-nama (&lt;i&gt;al-asma al-husna&lt;/i&gt;) dan Sifat-sifat wajib bagi Allah, persepsi kita telah diselamatkan dari keyakinan paganistik tersebut.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Gagasan Cak Nur sewaktu menerjemahkan kalimat tauhid menjadi “tiada tuhan selain Tuhan” merupakan bentuk &lt;i&gt;takhshish&lt;/i&gt;. Sebab, kalimat tauhid jika diterjemah ke dalam bahasa Indonesia memang sangat riskan. Perlu dicermati pula, gagasan Cak Nur ini hanya relevan dalam konteks memahami bahasa dalam bentuk “simbol,” bukan sebagai “ujaran.” &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;JIL&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Sementara gagasan Islam Liberal—sekalipun saya lebih sepakat menyebut pelakunya yang liberal (Muslim Liberal)—merupakan sebuah “stimulus baru” yang bisa memacu dinamika pemikiran Islam di Indonesia. Mungkin beberapa butir gagasan yang dilontarkan oleh Ulil Abshar-Abdalla (&lt;i&gt;Kompas&lt;/i&gt;, 18/11/2002) kurang berkenan di kalangan umat Islam sendiri. Tetapi, saya lebih mengambil hikmahnya ketimbang kontroversinya.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Di ranah pemikiran keislaman, kita tidak bisa bersikap statis. Zaman terus berubah sehingga persoalan-persoalan yang dihadapi oleh manusia juga senantiasa berubah. Ranah pemikiran keislaman bersentuhan langsung dengan zaman yang terus berubah ini. Oleh karena itu, dibutuhkan spirit penggerak baru agar pemikiran Islam tidak mengendap lalu mengkristal sehingga ajaran-ajaran Islam makin melangit, tidak membumi. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Sekalipun demikian, para aktivis JIL juga perlu mendapat kritik balik untuk meluruskan. Jika tidak, proses rasionalisasi akan kebablasan menjurus pada “sekulerisme.” Saya melihat peran para aktivis JIL ibarat “gas” yang sewaktu-waktu membutuhkan “rem” dari para ulama atau cendekiawan lain. Tentu saja masing-masing harus mengedepankan sikap saling terbuka dan selalu menggunakan pemikiran jernih agar setiap wacana yang bergulir tidak berujung pada justifikasi “sesat” atau “murtad.” &lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Di era serba keterbukaan seperti sekarang ini, klaim merasa paling benar (&lt;i&gt;truth claim&lt;/i&gt;) sudah tidak mendapat tempat lagi. Kebenaran tidak dimonopoli oleh seseorang atau kelompok tertentu. Kebenaran adalah milik semua dan ia selalu dalam proses pencarian.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3765768874055571568-6238522328458551199?l=penulisjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulisjogja.blogspot.com/feeds/6238522328458551199/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3765768874055571568&amp;postID=6238522328458551199&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/6238522328458551199'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/6238522328458551199'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulisjogja.blogspot.com/2007/12/liberalisasi-dan-liberalisme-pemikiran.html' title='“Liberalisasi” dan “Liberalisme” Pemikiran Islam'/><author><name>Ahmad Mu'arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00387346934510406805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_fLgt6xoY88Y/SF0uMh3wyAI/AAAAAAAAAGQ/PaNx4XSm_m4/S220/mu%27arif6.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3765768874055571568.post-1387523066052403512</id><published>2007-12-11T11:09:00.002-04:00</published><updated>2007-12-23T07:21:16.285-04:00</updated><title type='text'>Haji Kontekstual</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;Ibadah Haji merupakan salah satu dari pilar Islam yang lima। Sekalipun menjadi pilar utama, ibadah ini hanya diperuntukkan bagi mereka yang “mampu” menjalankannya. “Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke baitullah bagi orang-orang yang mampu menjalankannya…” (Qs. 3: 97). Secara otomatis, siapa yang tidak mampu, maka ia tidak boleh dipaksa untuk menunaikannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Para ulama berbeda pendapat menafsiri kalimat “…man isthatha’a ilaihi sabilan…” (bagi orang-orang yang mampu menjalankannya)। Surat Ali Imran ayat 97 ini mengundang perdebatan yang terus mengalir hingga kini. Salah satu penyebabnya karena pelaksanaan ibadah Haji saat ini sudah menjadi bagian utuh melibatkan birokrasi negara, kesiapan bekal materi, kesehatan jasmani, mental, dan faktor letak geografis. &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mungkin tidak menjadi masalah pelaksanaan ibadah Haji bagi orang-orang di sekitar Makkah pada masa sekarang atau pada masa Nabi saw (abad 6 M)। Kalimat dalam surat Ali Imran ayat 97 mengundang perdebatan tafsir ketika para pelaku Haji berasal dari negara lain, apalagi yang letak geografisnya sangat jauh dari Makkah. Problem birokrasi, biaya perjalanan, kondisi kesehatan badan dan psikhis, kemudian menjadi bagian dari pemahaman utuh kalimat “man isthatha’a ilaihi sabilan…”&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Konteks Sosial&lt;br /&gt;Lebih jauh, makna kalimat ini juga cukup relevan dengan konteks sosial। Selama ini, umat Islam memang masih mengemban “PR” yang cukup berat untuk memaknai doktrin ibadah Haji dalam konteks sosial. Sebagai doktrin agama, Ibadah Haji memiliki relevansi dengan konteks personal (hablun minallah) dan sosial (hablun minannas). Agama Islam bukan aliran “kebatinan” atau “mistisisme” yang hanya mengedepankan aspek hubungan personal antara para pemeluknya dengan Tuhan. &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam kontek Ibadah Haji, kaum Muslimin di seluruh pelosok dunia diajak berpartisipasi dalam “Pertunjukan Haji” sebagai even maha besar ini। Menurut Ali Syari’ati (1983), Ibadah Haji mensyaratkan egalitanianisme. Tidak ada diskriminasi ras, jenis kelamin, atau bahkan status sosial. Semuanya adalah satu dan yang satu itu untuk semuanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Saya menangkap maksud pemikiran Ali Syari’ati sebagai bagian dari makna Haji dalam konteks sosial। Lebih jauh, pemikiran Ali Syari’ati memiliki relevansi dengan makna tersirat dalam kalimat “man isthatha’a ilaihi sabilan…” Atas dasar inilah saya menganggap konsep Ibadah Haji, dalam perspektif maqashid asy-syari’ah, tidak hanya bermakna personal, tetapi memiliki muatan sosial yang tinggi. &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks masyarakat Indonesia, makna Ibadah Haji harus diberi ruang seluas-luasnya untuk mendefinisikan kembali (redefinisi) atas dasar konteks sosio-kultural yang ada। Dengan tetap mempertahankan kaidah-kaidah fundamental dalam Ibadah Haji, prinsip maqashid asy-syari’ah harus diselaraskan dengan konteks sosio-kultural Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam perspektif sosiologis, masyarakat Indonesia masih terbelakang। Kehidupan ekonomi masih jauh dari kesejahteraan. Kemiskinan adalah fenomena lumrah di bumi nusantara ini. Menurut data BPS (2005-2006), jumlah angka kemiskinan di Indonesia dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Jumlah warga miskin tahun 2005 sebesar 35,10 juta jiwa (15,05%). Sementara di tahun 2006 jumlah angka kemiskinan mencapai 39,05 juta jiwa (17,75%) (Anwar Hasan, 2007).&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, jumlah jama’ah Haji di Indonesia selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun। Padahal, Ongkos Naik Haji (ONH) selalu mengalami peningkatan. ONH tahun ini (2007) sekitar 26-28 juta rupiah dengan asumsi kurs dollar sebesar Rp. 9.000,-. Jika dibandingkan dengan tahun lalu, biaya perjalanan Haji tahun ini mengalami kenaikan sebesar 70-85 dollar. &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Data kemiskinan di Indonesia terus mengalami peningkatan, sementara jumlah jama’ah Haji terus meningkat pula। Dengan merujuk data-data BPS di atas, kita tidak akan mendapati titik temu yang logis antara statistik kemiskinan dan peningkatan jumlah jama’ah Haji di Indonesia. Mengapa di negara yang miskin justru terus meningkat jumlah jama’ah Hajinya? Di sini, saya memahami bahwa fenomena yang demikian sebagai sebuah ironi. &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Haji Kontekstual&lt;br /&gt;Fenomena jumlah warga miskin dan peningkatan jumlah jama’ah Haji di Indonesia merupakan sebuah indikasi nyata bahwa doktrin Islam yang satu ini baru dipahami sebatas hubungan personal antara hamba dan Tuhannya। Jika doktrin Islam ini dipahami secara utuh dalam konteks hablun minallah dan hablun minannas sekaligus, masalah keterbelakangan, kemiskinan, atau bahkan pengangguran, tidak akan terus meningkat. Minimal, angka kemiskinan dan pengangguran di Indonesia akan menurun.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, saya menganggap perlu mendefinisikan kembali tafsir “man isthatha’a ilaihi sabilan…” dalam konteks hablun minannas। Sebab, selama ini umat Islam masih menganggap ayat ini sebatas konteks personal. Jika seseorang punya biaya cukup, sehat jasmani dan rohani, maka ia sudah masuk dalam kategori orang-orang yang mampu menunaikan ibadah Haji. Padahal, permasalahan ini ternyata jauh lebih kompleks. &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Asghar Ali Engineer (1999) berpendapat bahwa agama (Islam) menjadi sistem pengertian (signification), sistem simbol dan ibadah yang menyediakan sense of identity bagi penganutnya untuk hidup di dunia yang serba kompleks ini। Dengan merujuk pada definisi agama (Islam) versi Asghar Ali Engineer ini, saya ingin menggarisbawahi bahwa umat Islam memiliki identitas yang satu. Ia bagaikan tubuh yang satu. Seperti isyarat Nabi saw, umat Islam bagaikan satu tubuh yang apabila sakit salah satu anggota tubuhnya, maka seluruh tubuh akan merasakan dampaknya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jika melihat fakta kemiskinan yang terus meluas, maka setiap umat Islam wajib tanggap terhadap fenomena ini. Sebab, mereka yang hidup dalam kemiskinan tidak lain adalah saudara sendiri. Mulai saat ini, umat Islam perlu mengalihkan orientasi ibadah haji, dari “haji personal” (ke tanah suci) menuju “haji sosial” (kontekstual). Caranya ialah dengan membantu proses pengentasan kemiskinan di Indonesia yang terus meningkat. Pengertian “man isthatha’a ilaihi sabilan…” juga mendukung kenyataan ini bahwa tidak diwajibkan bagi umat Islam berkunjung ke tanah suci manakala belum mampu mengentaskan kemiskinan saudara-saudarannya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3765768874055571568-1387523066052403512?l=penulisjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulisjogja.blogspot.com/feeds/1387523066052403512/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3765768874055571568&amp;postID=1387523066052403512&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/1387523066052403512'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/1387523066052403512'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulisjogja.blogspot.com/2007/12/haji-kontekstual.html' title='Haji Kontekstual'/><author><name>Ahmad Mu'arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00387346934510406805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_fLgt6xoY88Y/SF0uMh3wyAI/AAAAAAAAAGQ/PaNx4XSm_m4/S220/mu%27arif6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3765768874055571568.post-6085113324791701766</id><published>2007-11-19T08:54:00.000-04:00</published><updated>2007-12-23T07:21:55.962-04:00</updated><title type='text'>Mitos “Banjir Besar” dan Fenomena Global Warming</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tiga umat agama Smitik—Yahudi, Nasrani, dan Islam—meyakini peristiwa ‘banjir besar’ pada zaman Nabi Nuh (Noah). Tidak hanya itu. Dalam tradisi bangsa Sumeria, Babilonia, Akkadia, Jerman, Irlandia, dan Yunani juga mengenal kisah ini. Tetapi, bukti-bukti arkeologis yang mendukung kebenaran kisah ini memang tidak atau belum pernah ditemukan. Pada akhirnya, kisah maha hebat tersebut cenderung dianggap sebagai mitos.&lt;br /&gt;Tradisi umat Yahudi dan Nasrani mengandalkan kitab Perjanjian Lama untuk menjelaskan kisah besar ini. Menurut Maurice Bucaille (1979), kisah banjir besar pada zaman Nabi Nuh terdapat dalam Kitab Kejadian Fasal 6, 7 dan 8. Berdasarkan sumber-sumber Biblikal disebutkan dua jenis penyebab banjir: hujan deras dan air tanah yang meluap.&lt;br /&gt;Kisah banjir besar pada zaman Nabi Nuh juga diyakini oleh umat Islam. Kisah ini dapat dibaca dalam Al-Qur’an Surat Al-A'raf ayat 64, Al-Qamar ayat 12, Hud ayat 48, Yunus ayat 73, Al-Furqan ayat 37, Al-Ankabut ayat 14, 120, Nuh ayat 25, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Berdasarkan sumber Islam, penyebab utama banjir besar adalah mata air di bumi yang terus memancar sehingga mengalir bersatu menjelma menjadi banjir besar (Qs. Al-Qamar: 12). Pada surat lain dijelaskan indikasi bencana alam di masa Nabi Nuh lewat "at-tannur" yang terus meleleh (Qs. Hud: 40).&lt;br /&gt;Kebenaran agama diyakini bersifat mutlak. Ketika kisah banjir besar pada masa Nabi Nuh masuk ke dalam doktrin agama, maka untuk melacak kebenarannya menjadi teramat sulit. Padahal, dalam perspektif Ilmu Pengetahuan (Science), suatu kejadian dapat dikategorikan sebagai "peristiwa sejarah" ketika terdapat bukti-bukti arkeologis yang mendukungnya. Oleh karena itu, hingga saat ini, di antara para ilmuwan masih menganggap kisah banjir besar di zaman Nabi Nuh hanya sebatas mitos.&lt;br /&gt;Uniknya, beberapa bangsa di dunia memiliki tradisi mitologi yang boleh dikata sejenis. Seolah-olah kisah banjir besar ini merupakan kejadian maha hebat yang telah menyatukan memori kolektif antarbangsa.&lt;br /&gt;Mitos Banjir Besar&lt;br /&gt;Di luar doktrin agama-agama Smitik, bangsa-bangsa lain di dunia mengenang peristiwa banjir besar dalam bentuk mitologi. Misalnya bangsa Sumeria mengenal mitos Ziusudra. Mitologi ini terdapat dalam Kitab Kejadian Eridu yang konon ditulis pada sekitar abad ke-17 SM. Kisahnya tentang banjir besar di kota Shuruppak yang meluas sampai ke kota Kish. Oleh para pakar mitologi, mitos Ziusudra dianggap padanan dari kisah Nabi Nuh.&lt;br /&gt;Dalam tradisi bangsa Babilonia juga dikenal epos Gilgames. Bangsa Babilonia memiliki pertalian etnik maupun kultural dengan bangsa Sumeria. Oleh karena itu, epos Gilgames juga memiliki kaitan erat dengan mitos Ziusudra. Sekalipun karakteristik kedua tokoh ini berbeda, tetapi latarbelakang epos Gilgames persis seperti pada kisah Ziusudra, yakni peristiwa banjir besar.&lt;br /&gt;Dalam tradisi bangsa Akkadia yang juga memiliki keterkaitan etnik dan kultural dengan bangsa Babilonia dan Sumeria dikenal epos Atrahasis. Konon, epos ini ditulis kurang lebih pada 1700 SM. Yang cukup unik, sosok Atrahasis hampir mirip seperti figur Nabi Nuh.&lt;br /&gt;Mitos banjir besar juga terdapat dalam tradisi bangsa Yunani kuno. Orang-orang Yunani mengenal dua peristiwa banjir besar: Ogigian dan Deukalion. Sumber mitologi ini terdapat dalam The Library karya Apolloardus. Khusus untuk epos Deukalion, kisahnya sangat mirip dengan peristiwa pada zaman Nabi Nuh.&lt;br /&gt;Dalam tradisi bangsa Jerman dikenal mitologi Norse. Kisah ini sama persis seperti dalam mitologi Yunani, Deukalion. Dalam konteks tradisi Jerman, tokoh utamanya diperankan oleh Bergelmir. Pakar mitologi Brian Banston menganggap mitologi bangsa Jerman ini setera dengan kisah banjir bah di zaman Nabi Nuh.&lt;br /&gt;Mitos banjir besar juga terdapat dalam tradisi bangsa Irlandia. Orang-orang Irlandia kuno menganggap nenek moyang mereka sebagai keturunan langsung dari Nabi Nuh. Bangsa Irlandia kuno dipimpin oleh cucu perempuan Nabi Nuh, Cessair. Sewaktu banjir bah selama 40 hari 40 malam, seluruh bangsa Irlandia tenggelam. Dalam mitologi ini dikisahkan bahwa hanya satu orang saja yang berhasil selamat dari peristiwa banjir besar tersebut (lihat Wikipedia Indonesia).&lt;br /&gt;Kebenaran Mitos&lt;br /&gt;Para ilmuwan masih beranggapan bahwa peristiwa banjir besar di zaman Nabi Nuh as. hanya sebatas mitos. Mereka merasa sangsi seandainya menganggap kisah banjir besar di zaman Nabi Nuh sebagai peristiwa sejarah. Mungkin mereka bertanya-tanya, mengapa mitos dijadikan sebagai bukti dalam menelusuri jejak-jejak historis? Bukankah mitos hanya sebatas kisah fiktif?&lt;br /&gt;Mungkin benar bagi mereka yang beranggapan bahwa mitos-mitos yang dimiliki oleh setiap bangsa tidak lain hanya sebatas kisah fiktif belaka. Tetapi, perlu diingat. Mungkinkah mitos-mitos itu lahir hanya berdasarkan kekuatan imajinasi semata? Dapatkah sebuah ide berdiri sendiri secara independen? Tentu saja tidak. Sekalipun mitos-mitos itu cenderung fiktif, tetapi ide pokok (subtansi) yang melatarbelakangina jelas tidak dapat berdiri sendiri.&lt;br /&gt;Menurut penulis, terdapat suatu peristiwa penting yang melatarbelakangi keberadaan mitologi-mitologi yang dimiliki oleh beberapa bangsa di atas. Ketika masing-masing bangsa memiliki mitos-mitos yang boleh dikata identik dengan bangsa-bangsa lain, justru di situlah "benang merah" yang dapat menghubungkan memori kolektif antarbangsa. Memori kolektif tersebut bersumber dari sebuah peristiwa maha hebat yang terjadi pada suatu masa, namun tidak jelas diketahui kapan terjadinya. Masing-masing bangsa mengungkapkannya dalam bentuk karya sastra, baik berupa hymne maupun epos, yang sudah barang tentu amat bervariasi. Identitas bahasa dan latarbelakang sosiologis yang dimiliki oleh sebuah bangsa mengungkapkannya dalam tradisi bertutur dengan sentuhan-sentuhan imajinasi kreatif dari para penyair dan sastrawan.&lt;br /&gt;Terdapat dua kesimpulan penting berdasarkan argumentasi penulis ini. Pertama, setiap mitos yang diciptakan oleh suatu bangsa tidak mungkin terlepas dari latarbelakang historisnya. Kedua, mitos-mitos yang dimiliki oleh banyak suku bangsa, tetapi subtansinya menggambarkan suatu kejadian yang mirip, menjadi sebuah indikasi akan kebenaran faktual di dalamnya. Atas dasar inilah, penulis tetap meyakini bahwa pada suatu masa, di zaman dahulu, telah terjadi peristiwa banjir besar—sebagaimana dalam kisah Nabi Nuh—yang kemudian memusnahkan separoh kehidupan di muka bumi ini.&lt;br /&gt;Mitos Banjir Besar dan Fenomena Global Warming&lt;br /&gt;Penulis menganggap relevan mengangkat kisah banjir besar pada zaman Nabi Nuh berkaitan dengan fenomena "pemanasan global" (global warming) yang akhir-akhir ini banyak mendapat sorotan publik dunia. Pemanasan global sudah bukan lagi sebatas wacana. Hampir seluruh negara di dunia telah merasakannya. Perubahan iklim secara drastis menyebabkan musim tak teratur. Di Indonesia, batas antara musim hujan dan kemarau sudah sulit diidentifikasi.&lt;br /&gt;Akibat dari pemanasan global, suhu bumi terus meningkat. Dampaknya, gunung-gunung es di kutub utara dan selatan terus mencair. Otomatis, permukaan air laut terus naik. Jika pemanasan global terus berlanjut, diprediksikan pada tahun 2100 beberapa pulau bakal terancam tenggelam. Fenomena pemanasan global menjadi ancaman bagi masa depan peradaban umat manusia di muka bumi ini.&lt;br /&gt;Perubahan suhu dan iklim yang tidak teratur mengakibatkan munculnya berbagai macam bentuk bencana alam. Banjir besar, angin topan, dan kekeringan merebak di mana-mana. Akibatnya, korban jiwa dan kerugian materi hampir tak terhitung lagi.&lt;br /&gt;Kampanye penyelamatan dunia terhadap ancaman global warming memang sudah dimulai pada tahun 1992. Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi di Rio de Janeiro, Brazil (1992) sudah menyepakati Konvensi Perubahan Iklim (Convention on Climate Change) yang terus mengancam peradaban manusia. Sebanyak 154 kepala negara telah terlibat dalam penandatanganan Convention on Climate Change ini. Hanya saja, sampai saat ini masih dipertanyakan komitmen masing-masing.&lt;br /&gt;Ancaman global sudah di depan mata, sementara hampir semua pihak malah mengabaikannya. Hanya beberapa LSM dan tokoh pencinta lingkungan saja yang kelihatan serius melihat ancaman global ini. Oleh karena itu, menjelang Conference to the Parties to the Convention (COP) ke-13 di Bali nanti (Desember 2007), perlu digaet beberapa elemen masyarakat dunia agar masing-masing sadar bahwa peradaban umat manusia sedang terancam.&lt;br /&gt;Agama-agama besar dunia yang dalam sumber ajaran masing-masing mengenal kisah banjir besar pada zaman Nabi Nuh perlu mencermati fenomena pemanasan global ini. Dengan menengok kembali kisah maha hebat pada zaman Nabi Nuh, setiap umat beragama akan sadar bahwa dunia sedang dalam ancaman besar. Fenomena alam berupa perubahan iklim secara drastis, suhu bumi yang terus memanas, dan permukaan air laut yang terus naik, menjadi pertanda akan bahaya besar yang sedang mengancam peradaban umat manusia. Fenomena pemanasan global jelas identik dengan kisah pada masa Nabi Nuh.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, lewat artikel ini, penulis terus berharap kepada para pemuka agama, baik para rahib, pendeta, ulama dan cendekiawan supaya menengok kembali kejadian besar pada masa Nabi Nuh untuk memahami fenomena global warming dalam perspektif agama-agama.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3765768874055571568-6085113324791701766?l=penulisjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulisjogja.blogspot.com/feeds/6085113324791701766/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3765768874055571568&amp;postID=6085113324791701766&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/6085113324791701766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/6085113324791701766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulisjogja.blogspot.com/2007/11/mitos-banjir-besar-dan-fenomena-global.html' title='Mitos “Banjir Besar” dan Fenomena Global Warming'/><author><name>Ahmad Mu'arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00387346934510406805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_fLgt6xoY88Y/SF0uMh3wyAI/AAAAAAAAAGQ/PaNx4XSm_m4/S220/mu%27arif6.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3765768874055571568.post-8872118224238196947</id><published>2007-11-19T08:53:00.000-04:00</published><updated>2007-12-23T07:22:34.349-04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='http://www.blogger.com/img/gl.align.full.gif'/><title type='text'>BookMagz, Buku Serasa Majalah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Baju saya masih basah kuyup sewaktu masuk ke salah satu penerbit di Jogja, sore itu. Seperti biasa, saya sedang memasukkan beberapa naskah buku. Kali ini, naskah-naskah hasil revisi. Selesai basa-basi, seorang staf editor menunjukkan kepada saya dua buah buku. Kabarnya, dua buku tersebut hasil kreativitas timnya di penerbit tersebut. Tetapi, terus terang saja, saya sudah sinis duluan melihat buku-buku tersebut. "Buku kok kayak majalah! Di mana letak kewibawaan buku?"&lt;br /&gt;Sambil menunggu hujan reda, saya coba bertanya kepadanya, "Bagaimana respon pasar?" Di luar dugaan! Buku yang didesain layaknya majalah itu malah termasuk kategori bestseller. Tentu saya sadar, standar bestseller penerbit tersebut berbeda dengan penerbit-penerbit lain.&lt;br /&gt;BookMagz: Book Magazine. Sebuah istilah yang sudah pasti asing di telinga saya. Setelah saya amat-amati, di pojok kiri atas pada sampul kedua buku tersebut memang terdapat logo BookMagz: Buku Serasa Majalah. Mungkin maksudnya buku yang jika dibaca seperti rasa majalah: enteng, meriah, dan wah.&lt;br /&gt;Mendengar namanya saja, BookMagz, sudah pasti terbanyang: desain covernya meriah, isinya ringan, penuh gambar/ilustrasi, dan sudah barang tentu warna-warni. Satu lagi, bahasa judulnya gaul abis! Maaf, saya tidak bisa menyebutkan judul buku tersebut di sini. Takutnya, nanti saya dikira promosi.&lt;br /&gt;Apa yang baru saya saksikan tersebut tidak lain berupa salah satu bentuk upaya penerbit Jogja untuk tetap eksis di tengah persaingan ketat antarpenerbit. Di zaman modern ini, ketika teknologi makin canggih, setiap usaha penerbitan buku dituntut supaya kreatif dan inovatif. Jika tidak, tunggu saja detik-detik gulung tikarnya.&lt;br /&gt;Ternyata, BookMagz sudah beredar kurang lebih tiga tahun yang lalu. Berarti, saya sudah agak ketinggalan mengikuti perkembangan industri perbukuan di Jogja. Mungkinkah fenomena BookMagz ini yang pernah disinggung-singgung dalam rubrik ini (Di Balik Buku) beberapa tahun yang lalu? Entahlah, saya tidak tahu persis.&lt;br /&gt;Seingat saya, istilah yang sering dipakai untuk fenomena yang satu ini disebut "tabloidisasi buku." Maksudnya, buku yang dikemas layaknya tabloid. Atau, berdasarkan kesaksian saya baru-baru ini, istilah yang dipakai "majalahisasi buku." Maksudnya, buku yang didesain layaknya majalah. Ah, ada-ada saja istilah zaman sekarang!&lt;br /&gt;Sekalipun saya berusaha memahami kreativitas dan inovasi penerbit yang memproduksi BookMagz, tetapi perasaan sinis dan prihatin tetap saja terus menghantui. Saya selalu sinis melihat model kemasan buku yang demikian itu. Buku kok dikemas kayak majalah! Atau, buku kok didesain kayak tabloid! Saya jadi prihatin, "Di mana letak kewibawaan karya intelektual yang selama ini cukup terhormat itu?"&lt;br /&gt;Mungkin saya akan dianggap pengarang kolot yang tidak gaul. Tapi, biarlah orang lain bilang begitu. Dalam benak saya, fenomena BookMagz dan yang sejenisnya benar-benar menjadi sebuah tantangan berat bagi para pengarang buku. Tampaknya, di zaman modern seperti sekarang ini, kata-kata sudah tidak lagi ampuh untuk mengusung ide-ide besar. Para pengarang yang terbiasa mengolah dan menabur kata sedang dalam situasi terpojok. Profesi dan keahlian mereka sedang tersodok. Buktinya, sebuah buku dianggap tidak cukup hanya disajikan dalam bentuk teks. Tapi, sebuah buku harus berupa paduan antara teks dan grafis. Malah ada yang lebih keterlaluan lagi, setiap halaman buku didominasi oleh gambar-gambar ilustrasi. "Ini buku apa komik?" pikirku.&lt;br /&gt;Di tangah-tengah pikiran yang terus berkecamuk, saya mendapati sebuah informasi penting. Tapi, keprihatinan saya bukannya mereda, malah makin berkecamuk. Sewaktu membaca salah satu resensi yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma (Kompas, 10/2007), perasaan saya makin menjadi-jadi. Perasaan prihatin dan sekaligus sinis. Ternyata, fenomena BookMagz bukan hanya mewabah di Jogja, tetapi di Amerika Serikat pun juga begitu. Sepertinya, kejenuhan pada teks-teks sudah menjadi kenyataan yang mendunia.&lt;br /&gt;BookMagz memang tidak dikenal di Amerika Serikat. Tapi, di negeri Paman Sam ini, fenomena berkomunikasi dengan menggunakan perpaduan antara kata-kata dan seni grafis sudah mewabah di sana. Sekalipun sebuah buku berisi tema serius, tetapi kemasannya makin irit teks. Contohnya buku karya Will Eisner, The Plot: The Secret Story of The Protocols of Elder of Zion (2005). Atau misalnya buku karya Sid Jacobson dan Ernie Colon, 9/11 Report: A Graphic Adaptation Based on The 9/11 Commission Report (2006).&lt;br /&gt;Kedua buku ini, sekalipun dikemas seperti buku komik (comic books), tapi lucunya bukan disebut sebagai buku komik. Umberto Eco memberi catatan komentar bahwa buku Will Eisner "bukan buku komik" (comic books), sekalipun kemasannya memang serupa buku komik (untuk membedakan antara buku komik yang lucu dengan buku dengan desain ilustrasi yang tampak serius).&lt;br /&gt;Lewat artikel ini, saya bukannya sedang meremehkan sebuah karya kreatif lagi inovatif, seperti BookMagz atau buku-buku yang serupa komik. Sama sekali bukan! Di satu sisi, saya berusaha untuk menyadari bahwa fenomena yang demikian merupakan tuntutan zaman. Tujuannya agar penerbit-penerbit tetap bisa eksis di tengah-tengah persaingan ketat. Salah satu kuncinya ialah membaca secara cerdas kecenderungan pasar—untuk penerbit profit. Kecenderungan pasar pembaca harus dicermati baik-baik untuk kemudian dijadikan sebagai acuan dalam berkarya secara kreatif dan inovatif.&lt;br /&gt;Tapi, di sisi lain, setelah melihat kecenderungan pasar pembaca yang demikian, perasaan saya makin prihatin. Saya melihat pasar pembaca seakan-akan manja atau enggan bertatapan dengan teks-teks buku konvensional. Seolah-olah mereka malas mengernyitkan dahi untuk bergumul dengan tema-tema serius. Melihat fenomena yang demikian, saya kemudian bertanya-tanya dalam hati, "Apakah mereka sudah enggan berkomunikasi dengan kata-kata?" Saya pun berusaha introspeksi diri, "Mungkin sekarang kata-kata sudah kehilangan ruhnya"&lt;br /&gt;Menghadapi fenomena yang satu ini, para pengarang memang perlu merenungkannya kembali, termasuk juga saya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3765768874055571568-8872118224238196947?l=penulisjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulisjogja.blogspot.com/feeds/8872118224238196947/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3765768874055571568&amp;postID=8872118224238196947&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/8872118224238196947'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/8872118224238196947'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulisjogja.blogspot.com/2007/11/bookmagz-buku-serasa-majalah.html' title='BookMagz, Buku Serasa Majalah'/><author><name>Ahmad Mu'arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00387346934510406805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_fLgt6xoY88Y/SF0uMh3wyAI/AAAAAAAAAGQ/PaNx4XSm_m4/S220/mu%27arif6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3765768874055571568.post-232384651787551038</id><published>2007-11-19T08:52:00.001-04:00</published><updated>2007-12-23T07:23:07.891-04:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='http://www.blogger.com/img/gl.align.full.gif'/><title type='text'>Kekuatan Politik Indonesia di Pentas Internasional</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sewaktu mendengar berita bahwa Indonesia mulai bulan November ini bakal menjadi ketua dalam Sidang Umum Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (DK-PBB), rasa nasionalisme saya langsung tergugah. Akhirnya, bangsa ini punya kesempatan untuk unjuk gigi di pentas internasional. Tetapi, mendadak saya langsung berkecil hati. Sewaktu mendengar pernyataan Amien Rais baru-baru ini, perasaan saya makin pesimis. Sekalipun Indonesia mendapat jatah memimpin Sidang Umum di Dewan Keamanan PBB, tetapi bukan berarti kita bisa memainkan peran-peran strategis di pentas internasional.&lt;br /&gt;Hari Minggu sore (28/10), saya tandang ke kediaman tokoh reformasi ini di Pandean Sari (Yogyakarta). Sore itu, hujan turun untuk pertama kalinya di Yogyakarta. Namun tekad saya untuk bertemu dengan tokoh reformasi ini tidak luntur. Saya rela menuggu lumayan lama hanya untuk bisa bertemu dengannya. Tepat pukul 17.00, saya baru bisa bertemu dan berbincang-bincang dengannya.&lt;br /&gt;Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk menanyakan perihal peluang Indonesia unjuk gigi di pentas internasional. Dengan menempati posisi sebagai ketua Sidang Umum Dewan Keamanan PPB, tentunya Indonesia bisa memainkan perannya dalam menyelesaikan isu-isu internasional. Konon, jabatan ketua dalam Sidang Umum Dewan Keamanan PPB merupakan jabatan bergilir. Dan, Indonesia mendapatkan kesempatan emas tersebut kali ini.&lt;br /&gt;Sekalipun saya ajukan beberapa pertanyaan berkaitan dengan peran strategis ini, tetapi anehnya Amien Rais tidak banyak menyikapi secara positif. Dia kelihatan agak pesimis. "Sebagai bangsa, kita memang harus realistis. Bobot internasional Indonesia amat enteng" komentarnya.&lt;br /&gt;Amien Rais kembali menjelaskan, "Ada sebuah rumus bahwa politik luar negeri sebuah bangsa merupakan sisi lain dari keadaan dalam negerinya." Saya yang tidak pernah mengenyam pendidikan politik di perguruan tinggi berusaha memahami teori yang disampaikan oleh Amien Rais ini.&lt;br /&gt;"Kalau sebuah negara keadaan ekonominya masih morat-marit, kesejahteraan sosialnya masih "jauh panggang daripada api", kemudian pengangguran makin membengkak dan lain-lain, maka bobot internasionalnya menjadi sangat enteng" kata Amien menjelaskan. "Sementara negara yang kuat ekonominya, stabil politiknya, apalagi sentosa militernya, itu menjadi berat bobot politik internasionalnya" tambahnya.&lt;br /&gt;Sejenak saya langsung sadar. Rasa optimisme saya tiba-tiba menjadi ambyar. Setelah mendengar penjelasan dari Amien Rais, saya memang tidak lagi berharap banyak. Sekalipun Indonesia mendapat peluang emas menjadi ketua Sidang Umum Dewan Keamanan di PBB, tetapi kita tidak bisa berkelit dari kenyataan bahwa bobot politik bangsa ini masih teramat enteng.&lt;br /&gt;Harus saya akui, memang persoalan-persoalan domestik di Indonesia tidak pernah kunjung selesai. Perekonomian masih tergantung kepada kekuatan asing. Di Indonesia, kesejahteraan sosial masih di awang-awang. Angka kemiskinan di Indonesia dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Jumlah warga miskin tahun 2005 sebesar 35,10 juta jiwa (15,05%). Sementara di tahun 2006 angka kemiskinan mencapai 39,05 juta jiwa (17,75%) (Anwar Hasan, 2007).&lt;br /&gt;Sementara melihat sistem perpolitikan di tanah air, sekalipun pasca reformasi, ternyata belum juga menunjukkan tanda-tanda stabil. Mentalitas para politisi kita juga belum satupun yang menampakkan diri sebagai figur negarawan. Sikap para anggota dewan (DPR) juga masih kekanak-kanakan dan tidak responsif terhadap aspirasi rakyat sendiri. Di tengah-tengah himpitan ekonomi sulit, para anggota dewan ramai-ramai merencanakan kenaikan gaji. Sementara beberapa elit politik tidak memiliki jiwa negarawan sehingga setiap pemimpin yang tampil ke pentas nasional selalu diganjal.&lt;br /&gt;Jika melihat sepintas sistem pertahanan nasional kita, ternyata masih amat memprihatinkan. Bayangkan saja, seandainya negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura memasuki atau menyerang wilayah teritorial Indonesia, dipastikan bangsa ini akan kalah dalam konfrontasi fisik. Sebab, sistem pertahanan nasional kita masih amat lemah. Persenjataan yang kita miliki juga masih amat terbatas. Padahal, wilayah teritorial Indonesia begitu luasnya. Bahkan, sampai saat ini ternyata masih terdapat kawasan yang belum terjamah oleh kekuatan sistem pertahanan kita. Akibatnya, penyelundupan barang-barang illegal, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri, begitu leluasa menyerobot masuk ke wilayah perairan kita. Tentu ini sangat memprihatinkan.&lt;br /&gt;Lebih dari itu. Bobot politik internasional suatu bangsa juga ditentukan oleh ketegasan sikap dan karakter kepala negaranya. Memang situasi domestik suatu negara menjadi faktor penentu kekuatan politik internasional suatu bangsa. Tetapi ketegasan sikap dan karakter kepala negara juga amat mempengaruhi kekuatan politik suatu bangsa.&lt;br /&gt;Sewaktu Presiden SBY berpidato di depan Sidang Umum PBB beberapa bulan yang lalu, pemandangan yang cukup tragis terjadi. Beberapa delegasi dari negara-negara lain justru memilih mengosongkan kursi. Kira-kira hanya sekitar 25% saja yang masih bertahan duduk sambil mengikuti pidato presiden SBY. Fenomena semacam ini jelas-jelas menjadi sebuah indikasi bahwa bobot politk luar negeri kita masih enteng. Artinya, kita memang masih dianggap remeh oleh bangsa-bangsa lain.&lt;br /&gt;Pemandangan yang kontras justru terjadi ketika presiden Iran Mahmud Ahmadinejad berpidato depan Sidang Umum Dewan Keamanan PBB. Atau ketika giliran pidato Hugo Chaves (Venezuela) dan Evo Morales (Bolivia). Hampir dipastikan setiap kursi akan penuh diduduki oleh seluruh delegasi dari negara-negara di dunia. Artinya, bobot politik internasional Iran, Venezuela, dan Bolivia diakui oleh dunia.&lt;br /&gt;Mahmud Ahmadinejad dikenal sebagai pemimpin yang tegas dan memiliki karakter yang kuat. Dirinya berani menentang kebijakan Amerika Serikat yang menjadi simbol kapitalisme. Sementara Hugo Chaves dan Evo Morales adalah figur-figur pemimpin yang dengan lantang menyatakan perlawanan terhadap sistem kapitalisme yang disponsori oleh Gedung Putih (Amerika Serikat).&lt;br /&gt;Pada bulan November ini, bangsa Indonesia memang mendapat jatah giliran menjadi ketua umum dalam sidang dewan keamanan PBB. Tentu, jabatan tersebut amat berharga. Secara politik, jabatan tersebut juga amat strategis. Lewat Sidang Umum Dewan Keamanan PPB, Indonesia bisa terlibat dalam pengambilan kebijakan-kebijakan internasional, terutama yang mengangkut kepentingan politik bangsa. Hanya saja saya jadi pesimis setelah melihat kenyataan bahwa politik internasional Indonesia masih kurang diperhitungkan. Bangsa-bangsa lain masih menganggap kita remeh. Dan, anggapan remeh tersebut disebabkan karena kondisi dalam negeri yang carut-marut dan faktor pemimpin yang tidak memiliki karakter tegas.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3765768874055571568-232384651787551038?l=penulisjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulisjogja.blogspot.com/feeds/232384651787551038/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3765768874055571568&amp;postID=232384651787551038&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/232384651787551038'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/232384651787551038'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulisjogja.blogspot.com/2007/11/kekuatan-politik-indonesia-di-pentas.html' title='Kekuatan Politik Indonesia di Pentas Internasional'/><author><name>Ahmad Mu'arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00387346934510406805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_fLgt6xoY88Y/SF0uMh3wyAI/AAAAAAAAAGQ/PaNx4XSm_m4/S220/mu%27arif6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3765768874055571568.post-5889263848782573082</id><published>2007-11-19T08:49:00.000-04:00</published><updated>2007-12-23T07:23:50.973-04:00</updated><title type='text'>Jika Pendidikan Minus Visi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dua tahun kebijakan Ujian Nasional (2005), sudah banyak peristiwa memilukan dan sekaligus memalukan mewarnai kebijakan "sarat beban" ini. Cobalah perhatikan baik-baik. Berapa banyak sekolah yang tidak bisa meluluskan siswa-siswinya? Sudah berapa kali demonstrasi para siswa dan guru menolak Ujian Nasional (UN)? Sampai detik ini, sudah berapa banyak kasus siswa bunuh diri karena menanggung rasa malu akibat tidak lulus ujian? Kemudian, seberapa jauh intervensi pemerintah terhadap proses otonomi pendidikan?&lt;br /&gt;Belum lagi tuntas kasus UN sudah diganti dengan kebijakan baru: Ujian Nasional Terintegrasi Ujian Sekolah (UNTUS). Kebijakan ini diperuntukkan bagi jenjang pendidikan SD/MI. Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo, dalam jumpa persnya di Jakarta, Selasa (13/11), mengeluarkan kebijakan bahwa ujian nasional tingkat SD akan diintegrasikan dengan ujian akhir sekolah. Kebijakan UNTUS berlaku mulai Mei 2008. Di mata saya, kebijakan ini jelas-jelas sarat beban. Saya kira kebijakan ini hanya bakal memicu polemik baru yang akan mewarnai pendidikan nasional.&lt;br /&gt;Kasus UN&lt;br /&gt;Selama ini saya cukup prihatin, mengapa pemerintah (Depdiknas) masih saja mempertahankan kebijakan UN yang diperuntukkan bagi jenjang pendidikan SMP/SMA? Padahal, kebijakan ini merupakan suatu bentuk inkonsistensi sekaligus arogansi eksekutif (Mendiknas). Sebelum kebijakan UN, Komisi X DPR telah sepakat mencabut Ujian Akhir Nasional (UAN). Tetapi, Mendiknas tetap saja ngotot menggantinya dengan UN (Mu’arif, 2005). Masyarakat Indonesia sudah dikelabuhi oleh kebijakan mengambang ini. Sebab, konsep UN dan UAN sesungguhnya ibarat beda label tapi isi tetap sama. Kebijakan hanya sekedar ganti baju.&lt;br /&gt;Di samping sebagai bentuk inkonsistensi dan arogansi eksekutif, kebijakan UN juga sudah sangat jauh mengintervensi proses pendidikan di daerah-daerah. Konsep otonomi pendidikan telah diabaikan. Kebijakan UN seakan-akan sedang mengembalikan sistem sentralistik yang pernah diterapkan pada masa Orde Baru.&lt;br /&gt;Dengan menentukan standar kelulusan dari 4,01 menjadi 4,25, pemerintah pusat jelas sudah bertindak sewenang-wenang. Pada tahun 2007 standar kelulusan naik menjadi 5,0. Tetap saja intervensi pemerintah sangat dominan. Sementara tahun depan (2008), standar kelulusan dipatok menjadi 5,25. Betapa mudahnya pemerintah pusat menentukan standar kelulusan.&lt;br /&gt;Pada kasus UN, proses penggandaan soal atau bahan ujian dilakukan sebagian besar oleh pemerintah pusat (60%). Selebihnya diserahkan kepada daerah (40%). Apakah pemerintah tidak menyadari bahwa standar ini merupakan bentuk penyeragaman yang jelas-jelas mengabaikan potensi-potensi lokal?&lt;br /&gt;Kebijakan UN jelas sarat beban. Kondisi sekolah di daerah-daerah jelas tidak mungkin diseragamkan. Generalisasi cara pandang seperti ini jelas tidak mungkin diterima. Sebab, tidak semua sekolah di daerah-daerah memiliki fasilitas penunjang UN. Tidak semua siswa di daerah-daerah memiliki tingkat kemampuan menyerap soal-soal yang diajukan pemerintah pusat. Akibatnya, kebijakan ini hanya jadi "momok" yang mengerikan.&lt;br /&gt;Ketika UN berlangsung, kita semua menyaksikan siswa-siswi SMP/SMA yang menghadapi ujian nasional layaknya sedang menghadapi hantu yang menakutkan. Setelah ujian selesai, para siswa-siswi berharap-harap cemas menanti pengumuman kelulusan. Pasca pengumuman kelulusan, kita kemudian banyak disuguhi berita-berita miris di media massa. Ternyata banyak lembaga pendidikan yang tidak mampu meluluskan para siswa-siswinya.&lt;br /&gt;Saya masih ingat betul pada pelaksanaan UN pertama kali di Yogyakarta, sebanyak 18.657 siswa di dinyatakan tidak lulus (Bernas Jogja, 1/7/2005). Padahal, Yogyakarta jadi icon sekaligus barometernya pendidikan di Indonesia. Para siswa-siswi yang tidak lulus juga harus menanggung beban psikologis yang tidak enteng. Begitu juga para orang tua wali murid yang juga kena imbasnya.&lt;br /&gt;UNTUS&lt;br /&gt;Kasus UN belum tuntas sudah muncul lagi kebijakan baru: Ujian Nasional Terintergasi Ujian Sekolah (UNTUS). Dugaan saya pun tidak meleset. Banyak lembaga pendidikan di daerah-daerah yang mengajukan protes.&lt;br /&gt;Mungkin dapat dipahami bahwa kebijakan UNTUS untuk meningkatkan standar kelulusan pada jenjang pendidikan SD/MI. Itikad baik pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia memang perlu dihargai. Siapapun orangnya pasti setuju dan akan mendukung itikad baik semacam itu. Tetapi kebijakan yang tidak populis, karena cenderung mengabaikan potensi lokal, bisa menjadi bumerang. Itikad baik saja ternyata belum cukup. Perlu strategi khusus yang bijak dalam melihat realitas pendidikan di daerah-daerah.&lt;br /&gt;Berdasarkan pernyataan Mendiknas, komposisi soal yang akan diujikan 25% dari pusat dan selebihnya (75%) diserahkan ke daerah. Mungkin Mendiknas mulai merespon kritik yang selama ini dilayangkan kepada pemerintah dalam kasus UN. Sebab, selama ini intervensi pemerintah pusat terlalu dominan dalam kasus UN. Namun kebijakan Mendiknas ini juga bukan tanpa beban.&lt;br /&gt;Satu persoalan penting: keberadaan sekolah-sekolah di Indonesia sangat beragam. Dalam kasus UNTUS, keberadaan SD-SD antara satu daerah dengan daerah lain tidak mungkin disamakan. Meminjam istilah Ai Deti Heryanti (2007), keberadaan SD di Indonesia memiliki disparitas yang tinggi antara satu sekolah dengan sekolah lainnya. Ini jelas harus disadari betul oleh pemerintah pusat.&lt;br /&gt;Sementara membaca skenario kebijakan UTUS, tampaknya pemerintah pusat sedang melakukan proses uji coba. Dari kebijakan UN (SMP/SMA) sampai UNTUS (SD/MI) belum sama sekali menunjukkan kematangan konsep. Yang demikian jelas suatu kegamangan. Dan menurut pandangan saya, apa yang terjadi di balik kasus UN dan UNTUS merupakan manifestasi dari ketidakmatangan visi pendidikan kita. Inilah yang terjadi jika pendidikan minus visi.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3765768874055571568-5889263848782573082?l=penulisjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulisjogja.blogspot.com/feeds/5889263848782573082/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3765768874055571568&amp;postID=5889263848782573082&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/5889263848782573082'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/5889263848782573082'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulisjogja.blogspot.com/2007/11/jika-pendidikan-minus-visi.html' title='Jika Pendidikan Minus Visi'/><author><name>Ahmad Mu'arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00387346934510406805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_fLgt6xoY88Y/SF0uMh3wyAI/AAAAAAAAAGQ/PaNx4XSm_m4/S220/mu%27arif6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3765768874055571568.post-269454149571333035</id><published>2007-11-07T12:50:00.000-04:00</published><updated>2007-11-13T08:55:09.001-04:00</updated><title type='text'>Pendidikan untuk Perubahan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Krisis moral yang melanda negeri ini bermula dari kerancuan dalam memahami arti dan peran pendidikan. Indikasinya lebih nyata ketika praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme, justru banyak dilakukan oleh orang-orang terdidik lulusan perguruan tinggi. Padahal, perguruan tinggi dianggap sebagai gerbang akhir dari proses pendidikan. Tetapi, mengapa para koruptor kelas kakap dan preman-preman politik justru dari mereka yang memiliki latarbelakang pendidikan tinggi? Tentu, terdapat sesuatu yang keliru dalam pendidikan kita.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Menurut Mochtar Buchori (1994), masyarakat Indonesia masih menganggap pendidikan sebatas sarana, bukan sebagai tujuan. Masyarakat juga masih menganggap pendidikan sebagai ‘batu loncatan’ demi mendongkrak status sosial. Lewat gelar-gelar akademik, status sosial seseorang dijamin bakal terangkat. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jika memaknai pendidikan hanya sebatas sarana, tentu kemungkinan terjebak pada formalitas akan semakin besar. Orang-orang yang memiliki embel-embel akademik dianggap mumpuni, menguasai ilmu atau memiliki kecakapan hidup (live skill). Padahal, gelar-gelar akademik tidak sepenuhnya merepresentasikan kompetensi seseorang. Apalagi setelah terbongkar kasus sindikat jual-beli gelar, status seseorang yang menyandang gelar Profesor pun masih dipertanyakan. Sebab, seorang paranormal pun amat dengan mudah bisa memiliki gelar ini. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bagi Mochtar Buchori, pendidikan dimaknai sebagai tujuan. Apa yang muncul dalam diri terdidik, maka itulah akhir dari proses pendidikan. Saya memahami ide Mochtar Buchori sebagai bagian dari proses yang terpadu. Pendidikan adalah proses secara terpadu yang melibatkan terdidik, medium pembelajaran, obyek pembelajaran, proses, dan tujuan akhir. Si terdidik adalah pelaku proses pendidikan (subyek). Medium pembelajaran berupa realitas kehidupan. Obyek pembelajaran adalah permasalahan-permasalahan hidup yang ia hadapi. Sedangkan proses pendidikan ialah dinamika yang melibatkan terdidik, medium, dan obyek pembelajaran. Adapun tujuan akhirnya berupa kemampuan berupa wawasan dan kecakapan hidup. Di sini pendidikan makin dekat maknanya dengan proses kehidupan. Seperti kata Prof Proopert Lodge, "Live is education and education is live." &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Setiap proses menghendaki tujuan. Apa yang akan dicapai dalam proses pendidikan kita? Berupa materi atau merupakan konsep abstrak? Di sini kita sering berpikiran picik. Proses pendidikan disamakan dengan pembangunan riil. Padahal, dalam pendidikan, yang sedang dibangun berupa konstruksi mental. Yang akan dibentuk, lewat proses pendidikan, adalah jiwa-jiwa generasi bangsa. Dengan begitu, pola pikir berbasis pedagang atau kalkulasi-kalkulasi berorientasi ekonomis tidak layak masuk dalam pendidikan kita. Sekalipun pendidikan adalah investasi, tetapi keuntungan yang akan dicapai bukan materi, melainkan berupa konstruksi mentalitas bangsa Indonesia agar selaras dengan cita-cita nasional.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional, tujuan pendidikan dirumuskan sebagai proses "membangun manusia Indonesia seutuhnya." Tetapi, tujuan ini masih abstrak, masih perlu rumusan baru yang lebih kongkrit. Sebab, sebagai bangsa yang tergolong masih muda, konsep "manusia Indonesia seutuhnya" belum tampak jelas. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Untuk memaknai karakteristik bangsa Indonesia, kita perlu mengacu pada nilai-nilai dan tradisi peninggalan nenek moyang. Cikal-bakal bangsa Indonesia adalah orang-orang Proto-Melayu yang pada zaman Neolitikum sudah mendiami kepulauan Nusantara. Mereka memiliki tata nilai, sistem sosial, dan kepercayaan yang kuat. Sekalipun bukan sebagai bangsa yang menerima seruan para nabi, tetapi karakteristik orang-orang Proto-Melayu sebagai bangsa religius sangat kuat. Tata nilai yang dijadikan sebagai pegangan hidup mereka adalah budi pekerti luhur. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Cermin bangsa Indonesia sebagai bangsa religius dapat dilihat dari eksistensi agama-agama besar seperti: Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha, bahkan Konghucu. Sekalipun berbeda-beda sistem ritual dan cara pandang dalam memahami hakekat Tuhan, tetapi agama-agama di Indonesia saling menganjurkan budi pekerti luhur. Namun kemudian, kenapa bangsa ini justru menduduki ranking ke-60 dari 120 negara di dunia yang marak dengan tindak korupsi? Jelas peran pendidikan nasional dianggap telah gagal dalam mengemban tugasnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Visi pendidikan nasional memang lemah. Bahkan, masih dianggap belum mampu mengenalkan nilai-nilai dan tradisi luhur peninggalan nenek moyang. Beberapa indikasi menunjukkan bahwa pendidikan tidak mampu mengenalkan karakteristik khas bangsa ini. Kasus penyiksaan dan pelecehan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia menunjukkan bahwa kita seakan-akan lupa bahwa zaman dahulu negara tetangga ini merupakan bagian dari wilayah nusantara. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Peran pendidikan nasional masih belum efektif dalam membawa bangsa ini menuju perubahan yang signifikan. Problem minus visi menyebabkan sistem pendidikan nasional berjalan acak-acakan. Sekalipun masih banyak rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan, tetapi tradisi korupsi, kolusi, dan nepotisme—yang jelas-jelas bertentangan dengan norma-norma agama—justru makin marak. Apakah pendidikan nasional sudah tidak lagi mementingkan nilai-nilai budi pekerti luhur sehingga para lulusan perguruan tinggi justru banyak yang menjadi koruptor kelas kakap? Apakah pendidikan sudah tidak lagi menanamkan rasa empati sehingga perilaku para elit politik kita makin kekanak-kanakan dan amat memalukan?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tanpa membenahi problem visi yang belum jelas, selamanya pendidikan berjalan tanpa arah. Jika pendidikan tanpa visi, maka akan dengan mudah ditumpangi oleh kepentingan-kepentingan lain yang hendak memanfaatkannya. Seperti inkonsistensi pemerintah dalam menerapkan anggaran minimal 20% (pasal pasal 31 ayat 4 UUD 45), kasus pelarangan buku sejarah berdasarkan keputusan Jaksa Agung tanggal 5 Maret 2007, dan penerapan Badan Hukum Pendidikan (BHP). Kasus-kasus tersebut menjadi indikasi nyata bahwa pendidikan nasional tanpa visi sehingga mudah ditumpangi oleh kepentingan-kepentingan di luar pendidikan (kekuasaan).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, patut kita renungkan pesan Maroeli Simbolon berikut ini: "Pendidikan itu benih yang ditabur. Tanpa pendidikan, jangan pernah berharap untuk memetik hasil yang baik" (Maroeli Simbolon, 2004). &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3765768874055571568-269454149571333035?l=penulisjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulisjogja.blogspot.com/feeds/269454149571333035/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3765768874055571568&amp;postID=269454149571333035&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/269454149571333035'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/269454149571333035'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulisjogja.blogspot.com/2007/11/pendidikan-untuk-perubahan.html' title='Pendidikan untuk Perubahan'/><author><name>Ahmad Mu'arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00387346934510406805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_fLgt6xoY88Y/SF0uMh3wyAI/AAAAAAAAAGQ/PaNx4XSm_m4/S220/mu%27arif6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3765768874055571568.post-9072626011969271165</id><published>2007-11-07T12:45:00.000-04:00</published><updated>2007-11-07T12:49:30.377-04:00</updated><title type='text'>Menguak Aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;"Saya tidak membawa agama baru. Saya hanya menggenapkan nubuwat Allah dalam Al-Qur’an, seperti halnya Muhammad menggenapkan ajaran Isa dan Musa", begitu pernyataan Ahmad Moshaddeq, Ketua Jama’ah Al-Qiyadah Al-Islamiyah, Kamis (18/10) di Jakarta (Pelita, 25/10/2007). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Moshaddeq sedang berapologi. Barangkali dia memang merasa terpojok setelah mendapat hujatan dari berbagai kalangan. Sewaktu tandang ke kantor majalah Tempo pada hari Kamis (18/10), dirinya langsung menanggapi Keputusan Majlis Ulama Indonesia (MUI) No. 4 tahun 2007. Moshaddeq menolak jama’ahnya dinyatakan sebagai "aliran sesat." &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jauh-jauh hari sebelum memasuki bulan Ramadhan, di Yogyakarta memang telah digegerkan oleh sebuah gerakan dakwah kontroversial Jama’ah Al-Qiyadah Al-Islamiyah. Kasus ini makin mendapat sorotan dari kalangan ulama, karena kebetulan berbarengan dengan Pembukaan Musyawarah Majlis Ulama Indonesia Daerah II (meliputi Lampung dan Jawa). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lewat penyelidikan MUI Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ditemukan bukti sebuah buku Tafsir wa Ta’wil (2007). Tebalnya 104 halaman: 97 halaman isi dan 7 halaman tambahan. Isinya berupa doktrin-doktrin fundamental jama’ah ini yang dinilai cukup kontroversial. Doktrin-doktrin yang dianggap cukup kontroversial seperti: konsep umat akhir zaman, kenabian Ahmad Moshaddeq sebagai "Al-Masih Al-Mau’ud", dan sinkretisme ajaran Islam-Kristen. Sekalipun mengaku mendapat "wahyu", Moshaddeq menggunakan Al-Qur’an sebagai sumber doktrin-doktrinnya. Hanya saja dia menolak As-Sunnah. Moshaddeq juga menafsiri Al-Qur’an dengan caranya sendiri dan mengabaikan metode-metode tafsir yang ada. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ahmad Moshaddeq&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ahmad Moshaddeq mantan Pegawai Negeri Sipil (PNS) Pemda DKI. Nama aslinya H. Salam. Sebelum membentuk Jama’ah Al-Qiyadah Al-Islamiyah, dirinya pernah terlibat dalam gerakan Negara Islam Indonesia (NII). Dia memang pengagum berat Kartosoewiryo. Bahkan, dirinya menganggap tokoh pendiri NII ini sebagai "seorang nabi." &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Moshaddeq merintis jama’ah ini pada sekitar tahun 2000-an. Para pengikutnya bertambah banyak. Konon, bentuk kegiatan jama’ah ini persis seperti halaqah-halaqah atau majlis-majlis ta’lim. Untuk mengorganisasi kegiatan-kegiatan jama’ah ini, Moshaddeq mendirikan kantor pusat di Desa Gunung Bundar, Kabupaten Bogor. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Setelah 10 tahun terlibat dalam gerakan NII, dirinya merasa tidak puas. Lantas, dia memutuskan untuk menyepi. Bertapa sembari berharap-harap turunnya wangsit dari langit. Setelah menempuh laku prihatin (bertapa) selama 40 hari 40 malam di salah satu vilanya di Gunung Bunder, dia mengaku mendapat wahyu. Dalam buku Tafsir wa Ta’wil, dia menjelaskan: "…di malam yang ketigapuluh tiga, tiga hari menjelang empat puluh hari aku bertahannus, kembali aku bermimpi, di dalam mimpi itu aku sedang dilantik atau diangkat menjadi rasul Allah disaksikan para sahabat…" (h. 182)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Entah dapat bisikan setan atau iblis, tetapi tepat pada 23 Juli 2006 dirinya mengaku sebagai seorang nabi atau rasul. Pada waktu itulah namanya berubah dari Salam menjadi Ahmad Moshaddeq. Dirinya mengaku mendapat perintah supaya menyempurnakan ajaran Nabi Musa, Isa, dan Muhammad saw. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Moshaddeq menyebarkan ajaran-ajarannya di Bogor dan Jakarta. Lewat halaqah-halaqah dan majlis-majlis ta’lim, rupanya banyak juga yang terbujuk mengikuti ajaran-ajarannya. Sukses di Bogor dan Jakarta, sasaran berikutnya adalah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Bahkan, menurut Ketua Komisi Fatwa MUI KH M Anwar Ibrahim, jama’ah ini sudah menyebar ke Sulawesi Selatan, Sumatra Barat, dan Batam. Hingga saat ini, anggota Jama’ah Al-Qiyadah Al-Islamiyah diperkirakan mencapai ribuan (Republika, 5/10/2007). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Umat Akhir Zaman&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dengan tegas, Moshaddeq menolak As-Sunnah (baik perkataan, perbuatan, maupun ikrar Nabi saw). Kasus semacam ini mengingatkan kita pada gerakan Inkar As-Sunnah yang sudah muncul berkali-kali dalam sejarah umat Islam. Mungkin sudah puluhan kasus, baik di dalam maupun di luar negeri, yang menodai agama Islam dengan cara menolak Sunnah Nabi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Menurut anggapan Moshaddeq, Nabi Muhammad adalah nabi ummi (buta huruf). Beliau hanya diutus untuk kaum yang ummi (bangsa Arab). Jadi, Nabi Muhammad bukan diutus untuk umat sekarang, yang kata Moshaddeq, dianggap sebagai umat akhir zaman, yang mempunyai ilmu dan teknologi canggih. Selanjutnya, tanpa pengetahuan bahasa (Arab) dan metode penafsiran yang memadai, dirinya membuat tafsir membagi kelompok sosial menjadi tiga: Ashab Al-A’raf (dianggap sebagai As-Sabiquna Al-Awwalun); Ashab Al-Yamin (dianggap sebagai golongan Anshar); dan Ashab Asy-Syimal (dianggap sebagai kaum oposisi penentang rasul) (Asjmuni Abdurrahman, 2007).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dia menafsiri Surat Al-Jumu’ah ayat 2 bahwa dirinya menggenapkan nubuwat dari langit pasca Nabi Muhammad saw. Barangkali Moshaddeq sedang membuat tafsir sendiri terhadap Al-Qur’an. Tetapi, metodenya kacau-balau. Sewaktu menafsiri Surat Al-Jumu’ah ayat 2, dia mungkin lupa membuka Surat Al-Ahzab ayat 40. Di dalam surat ini disebutkan bahwa Nabi Muhammad adalah penutup para nabi (khatam an-nabiyyin). Atau, bisa jadi dia memang tidak paham sama sekali kandungan Al-Qur’an. Sebab, dalam surat Al-An’am ayat 93 jelas-jelas menyatakan kedzaliman bagi orang yang mengaku sebagai nabi pasca Nabi Muhammad saw.&lt;br /&gt;Seandainya Moshaddeq mengakui keberadaan As-Sunnah sebagai sumber ajarannya, tentu dia akan terbentur berkali-kali dengan beberapa Hadits yang membatalkan nubuwatnya. Sebab, tidak ada kenabian setelah Nabi Muhammad. Misalnya sebuah Hadits menyatakan: "Sesungguhnya akan ada tigapuluh orang pendusta di tengah-tengah umatku. Semuanya mengklaim sebagai nabi. Aku adalah penutup para nabi, tidak ada nabi sesudahku" (HR. Ahmad dan Abu Dawud). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Doktrin Messianisme&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ahmad Moshaddeq mengklaim sebagai "Al-Masih Al-Mau’ud" (yang dijanjikan). Dalam buku Tafsir wa At-Ta’wil, dirinya mengaku: "Aku Al-Masih Al-Mau’ud menjadi syahid Allah bagi kalian, orang-orang yang mengimaniku, dan aku telah menjelaskan kepada kalian tentang sunnah-Nya dan rencana-rencana-Nya di dalam hidup dan kehidupan ini sehingga dengan memahami sunnah dan rencana-rencana-Nya itu kalian dapat berjalan dengan pasti di bawah bimbingan-Nya…" (h. 178). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah agama-agama, klaim Moshaddeq ini dikenal sebagai doktrin Messianisme (Al-Masih). Doktrin ini memang sudah berusia kurang lebih 3000 tahun yang silam. Berasal dari tradisi bangsa Yahudi yang berkali-kali mengalami penindasan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu bangsa Yahudi ditindas oleh Fir’aun (Ramses II), kehadiran Nabi Musa dianggap sebagai "Sang Messias." Begitu juga ketika bangsa Yahudi ditindas oleh bangsa Assyur, sosok Ezra (‘Uzair) dianggap sebagai "Sang Messias." Atau, ketika bangsa Yahudi ditindas oleh Babilonia, kehadiran Jeremiah juga dianggap sebagai "Sang Messias." Tetapi, sewaktu Nabi Isa mengklaim sebagai "Al-Masih", justru sebagian besar bangsa Yahudi menentangnya.&lt;br /&gt;Doktrin Messianisme merupakan luapan harapan atau bisa jadi ekspresi sebuah bangsa yang putus asa menghadapi penindasan oleh bangsa lain. Dalam keterputusasaan, mereka mengandaikan keadaan hidup bebas dan merdeka. Di dalam keterputusasaan tersebut juga terselip pengharapan akan datangnya "Sang Juru Selamat" yang akan membawa mereka kepada kehidupan lebih baik. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan sejarah umat Islam, doktrin Messianisme juga sempat dianggap relevan oleh kaum Syi’ah. Doktrin teologi kaum Syi’ah mengenal konsep "Imam Al-Mahdi Al-Muntadhar" (Imam Mahdi yang dinanti-nanti). Pengertian Al-Masih dan Al-Mahdi tidak jauh berbeda. Tetapi doktrin Messianisme ala Islam menjadi perdebatan yang hingga kini tidak pernah mencapai kata sepakat. Pada akhirnya, konsep Al-Mahdi Al-Muntadhar tidak hanya sekedar doktrin teologis, tetapi juga politis. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks bangsa Indonesia, khususnya dalam budaya Jawa, dikenal konsep "Ratu Adil" atau "Satria Piningit." Bangsa Indonesia mengenal konsep ini karena telah lama dijajah oleh kolonial Belanda. Dalam situasi terjajah sangat menyengsarakan sehingga bangsa Indonesia mengandaikan sang pemimpin datang yang bakal membebaskan mereka dari penjajahan.&lt;br /&gt;Dengan demikian, antara konsep "Al-Masih", "Al-Mahdi Al-Muntadhar", "Ratu Adil" ataupun "Satria Piningit" memiliki kesamaan konteks dan visi. Konteksnya berupa kondisi tertindas (baik secara fisik maupun non fisik) yang dialami oleh suatu kelompok atau bangsa. Visinya berupa "penyelamatan". Oleh karena itu, konsep Messianisme sudah bukan hal baru lagi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sosok Ahmad Moshaddeq yang mengklaim sebagai "Al-Masih Al-Mau’ud" menganggap dirinya sebagai "sang penyelamat." Dia mengaku diutus oleh Tuhan untuk umat di zaman modern. Umat zaman modern sekarang ini ditafsiri oleh Moshaddeq sebagai umat akhir zaman. Lebih berani lagi, Moshaddeq mengaku menggenapkan nubuwat pasca Nabi Musa, Isa, dan Muhammad. Seakan-akan dirinya adalah nabi terbesar akhir zaman.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks sejarah agama-agama, doktrin Messianisme sudah berakhir. Umat Yahudi menganggap Nabi Musa sebagai nabi terbesar mereka. Sosok Nabi Musa dianggap sebagai Sang Messias bagi umat ini. Kemudian, umat Nasrani menganggap Nabi Isa sebagai nabi terbesar mereka. Sosok Nabi Isa dianggap sebagai Sang Messias bagi umat ini. Begitu juga dengan umat Islam, menganggap Nabi Muhammad sebagai nabi terbesarnya. Maka, sosok Nabi Muhammad merupakan Sang Messias bagi umat terakhir ini. Doktrin Messianisme dalam Islam sudah berakhir. Hanya kelompok Syi’ah saja yang masih meyakini doktrin ini. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ahmad Moshaddeq berani menghidupkan kembali doktrin teologis ini tanpa argumentasi kenabian yang berarti. Apalagi dirinya tetap menggunakan Al-Qur’an sebagai sumber ajarannya. Seandainya benar Moshaddeq seorang nabi, tentu wahyu yang turun kepadanya memiliki perbedaan dengan Al-Qur’an, karena konteks zaman dan umat yang berbeda. Tetapi justru Moshaddeq hanya memberikan tafsir terhadap Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, sementara metode tafsirnya kacau-balau. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sinkretisme Agama&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ajaran Al-Qiyadah Al-Islamiyah hanyalah bentuk sinkretisme antara agama Islam dan Nashrani. Membayangkan sosok Moshaddeq mengingatkan kita pada tokoh Manu (mengaku Nabi pada abad 5) di Persia. Atau sosok Harith bin Saad (mengaku Nabi di masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan), Isa Al-Asfahan (mengaku Nabi di masa Khalifah Al-Mansur), Faris bin Yahya (mengaku Nabi di masa Khalifah Al-Muktaz), Ishak Al-Akhras (mengaku Nabi di Asfahan, Iran), Aswad Al-Insa (mengaku Nabi pada saat Nabi Muhammad jatuh sakit sebelum wafat). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, banyak tokoh yang mengklaim sebagai nabi. Sebut saja Zikrullah (Sulteng) dan Lia Aminuddin (Jakarta). Umumnya, mereka yang mengklaim sebagai nabi mencampur-aduk antara berbagai ajaran agama menjadi satu. Seperti Zikrullah yang mencampur-aduk doktrin-doktrin fundamental agama Islam dan Kristen. Lia Aminuddin malah mencampur-aduk antara agama Islam, Kristen, Hindu, dan Budha. Terang saja ajaran-ajaran mereka jadi aneh-aneh. Seperti Zikrullah membuat persaksian (syahadat) yang berbeda pada umumnya. Bahkan dia membuat bangunan Ka’bah sendiri yang digunakan untuk ibadah haji oleh para pengikutnya. Begitu juga dengan Lia Aminuddin yang membuat ritual thawaf dengan cara berkeliling kampung ketika hujan turun.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks jama’ah Al-Qiyadah Al-Islamiyah, Moshaddeq juga membuat aturan macam-macam. Seperti syahadat yang aneh. Tidak shalat lima kali, tetapi cukup sekali di malam hari. Bahkan, Moshaddeq membenarkan konstruksi teologi Trinitas sekaligus Tauhid. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dilakukan oleh para nabi palsu, seperti Manu,Harith bin Saad, Isa Al-Asfahan, Faris bin Yahya, Ishak Al-Akhras, Aswad Al-Insa, Zikrullah, Lia Aminuddin, dan Moshaddeq, merupakan bentuk sinkretisme agama-agama. Mereka telah mencampur-aduk doktrin-doktrin berbagai agama, yang pada hakekatnya memiliki subtansi berbeda, menjadi doktrin yang kemudian dianggap baru. Jelas mereka telah melakukan penjarahan doktrin agama-agama yang selama ini sudah memiliki pakem sendiri-sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun nabi palsu mengklaim mendapat wahyu dan mengajarkan ajaran-ajaran baru, tetapi ketika sudah menjarah doktrin-doktrin konvensional masing-masing agama sudah tidak bisa ditolerir lagi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tak Ada Toleransi&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Konon, Ahmad Moshaddeq pandai bersilat-lidah. Dirinya gampang berkelit sewaktu dihujat secara bertubi-tubi. Jawabnya enteng: "Lana a’maluna, wa lakum a’malukum"&lt;br /&gt;Apakah Moshaddeq sedang mengigau atau barangkali dia memang tidak paham ajaran Islam? Jika Moshaddeq berkelit dengan ayat tersebut, maka dia tidak paham dengan konteksnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Orang tentu akan memberi toleransi ketika dia yang mengaku sebagai nabi akhir zaman tidak menggunakan simbol-simbol, ajaran-ajaran, atau nama-nama yang sudah menjadi pakem bagi umat Islam. Seperti nama jama’ahnya yang memakai kata Islam. Atau Al-Qur’an yang menjadi sumber ajaran-ajarannya. Apa yang dilakukan Moshaddeq telah merampas dasar-dasar teologi Islam yang sudah mapan. Apalagi, Moshaddeq juga mencampur-aduk antara ajaran Islam dan Nashrani. Berarti, Moshaddeq telah mempecundangi dua agama besar yang bersumber dari kawasan timur tengah ini. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kasus Jama’ah Al-Qiyadah Al-Islamiyah pimpinan Ahmad Moshaddeq ini hanya menambah panjang deretan kasus "nabi palsu" dan penyelewengan ajaran Islam yang telah berkali-kali muncul dalam sejarah umat Islam. Moshaddeq betul-betul ceroboh. Mengklaim sebagai seorang nabi yang diutus kepada umat zaman modern sekarang ini adalah tindakan paling gegabah.&lt;br /&gt;Barangkali dia malah dianggap tidak waras. Sementara doktrin-doktrin yang dia ajarkan kepada pengikut-pengikutnya telah menabrak pakem. Bahkan telah merampas pakem ajaran-ajaran agama milik umat lain (Nashrani). Sebab, doktrin-doktrin keyakinannya merupakan sintesa keyakinan umat Islam dan Nashrani.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, Moshaddeq dan jama’ahnya tidak bisa diberi toleransi lagi. Dirinya telah menodai otentisitas ajaran agama Islam dan Kristen sehingga keputusan MUI No. 4 tahun 2007 sudah tepat. Pemerintah dan masyarakat diharap selalu waspada terhadap aliran yang memang sesat dan menyesatkan ini. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3765768874055571568-9072626011969271165?l=penulisjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulisjogja.blogspot.com/feeds/9072626011969271165/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3765768874055571568&amp;postID=9072626011969271165&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/9072626011969271165'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/9072626011969271165'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulisjogja.blogspot.com/2007/11/menguak-aliran-al-qiyadah-al-islamiyah.html' title='Menguak Aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah'/><author><name>Ahmad Mu'arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00387346934510406805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_fLgt6xoY88Y/SF0uMh3wyAI/AAAAAAAAAGQ/PaNx4XSm_m4/S220/mu%27arif6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3765768874055571568.post-3816960533845891322</id><published>2007-10-24T10:18:00.000-04:00</published><updated>2007-10-24T10:20:46.179-04:00</updated><title type='text'>Doris Lessing, Pengarang Besar yang Putus Sekolah</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Kamis, 11 Oktober 2007, adalah hari yang paling mengesankan dan memberi makna tersendiri bagi wanita gaek ini. Setelah kurang lebih 77 tahun menekuni dunia tulis-menulis, wanita ini memperoleh penghargaan layak atas karya-karyanya. Sebut saja beberapa karyanya, seperti The Grass is Singing dan Golden Notebook. Atau karya monumentalnya, Children of Violence. Doris Lessing, penulis berdarah Inggris yang lahir di Iran dan dibesarkan di Zimbabwe, pada akhirnya meraih anugrah Nobel Sastra untuk tahun ini (2007).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tak seorang pun menyangka kalau wanita ini akan terpilih sebagai peraih penghargaan prestisius tersebut. Bahkan, Doris Lessing sendiri juga tidak pernah menyangkanya. Sewaktu penganugrahan nobel tersebut, dia malah sedang asyik belanja untuk keperluan hidupnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Apakah anugrah prestisius tersebut sengaja diberikan sebagai kado ulang tahunnya yang ke-88, karena dia memang baru saja merayakannya pada hari Minggu tanggal 7 Oktober lalu? Tentu saja tidak. Dia layak menerima penghargaan tersebut karena karya-karyanya banyak memberikan inspirasi, terutama pandangan-pandangan kritisnya tentang gender dan ras. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Putus Sekolah&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Siapa sangka, Doris Lessing, seorang penerima anugrah Nobel Sastra yang sudah pasti sangat prestisius, pernah putus sekolah? Catatan perjalanan hidupnya memang cukup mencengangkan. Pada usia 13 tahun, dia putus sekolah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun demikian, Doris Lessing bukan seorang yang bengal atau urakan. Dirinya putus sekolah bukan karena diberhentikan (drop out). Keputusannya meninggalkan bangku sekolah merupakan hasil dari sebuah perenungan yang dalam. Di sekolah, dia tidak pernah menemukan sesuatu dia cari. Mungkin dia beranggapan bahwa sekolah hanya sekedar pertemuan rutin berupa kegiatan formal yang sudah pasti amat menjemukan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bagi Doris Lessing, proses pendidikan mestinya mengarahkan kepada setiap peserta didik agar masing-masing mampu memahami sesuatu tetapi dengan perspektif yang berbeda. Pola pikirnya tak lazim. Caranya memahami proses belajar-mengajar amat berbeda pada umumnya. "Inilah belajar itu: anda tiba-tiba mengerti sesuatu yang telah anda ketahui sepanjang hidup anda, tetapi dengan pemahaman yang berbeda" itulah seucap kata Doris Lessing (Andrias Harefa, 2001).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Putus sekolah, bagi Doris Lessing, tidak membuat masa depannya menjadi suram. Tidak seperti umumnya masyarakat Indonesia, putus sekolah selalu dianggap sebagai preseden buruk bagi masa depan seseorang. Seakan-akan sekolah itu candu. Tetapi bagi Doris Lessing tidak berlaku anggapan seperti itu. Dirinya tidak kecanduan sekolah. Dia melarikan diri dari pendidikan formal sambil terus bergaul dengan buku-buku. Belajar autodidak. Doris Lessing banyak melakukan penelitian dan pengamatan sosial. Baginya, belajar autodidak justru terasa lebih menggairahkan. Untuk menuangkan butir-butir pemikirannya, dia menempuh jalan hidup sebagai pengarang.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam wawancara dengan The Associated Press setahun yang lalu, Doris Lessing mengaku mengawali karir sebagai pengarang pada sekitar tahun 1930-an. Sekalipun skeptis, tetapi dia visioner. Tampaknya, metode skeptisisme menjadi alat paling ampuh untuk merelatifkan segala pengetahuan dan norma. Lain dengan umumnya orang-orang terdidik di Indonesia, mereka asing dengan metode ini. Karena itu, wajar jika orang-orang Indonesia menganggap teori relativisme sangat menyesatkan. Dampaknya, orang-orang Indonesia jadi miskin pemikiran visioner. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Namun tidak demikian bagi Doris Lessing. Jiwa skeptis dan pemikiran visioner membawanya memahami dunia dengan perspektif yang berbeda. Karakter jiwa dan pemikirannya inilah yang kemudian mewarnai setiap karya tulisnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hidupnya yang berpindah-pindah, bahkan telah menjelajahi separoh dunia, menambah luas wawasannya. Kedua orang tua Lessing adalah warga negara Inggris. Tetapi, dia sendiri lahir di Iran. Kemudian, keluarganya pindah ke Zimbabwe dan Doris Lessing dibesarkan di kota ini. Tentu saja pilihan tema dalam karya-karyanya dipengaruhi oleh karakteristik jiwa, pemikiran, dan pengalamannya selama menjelajah separoh belahan bumi ini. Dia memilih untuk mengangkat tema hubungan antara laki-laki dan wanita (gender) dan ras dalam setiap karya tulisnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sekolah Sudah Mati! &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Membayangkan gagasan-gagasan Doris Lessing mengingatkan saya pada sosok Margaret Mead dalam buku School is Dead (1971) karya Everett Reimer. Pada sekitar tahun 1970-an, Everett Reimer menggelindingkan sebuah wacana stagnansi pemikiran pendidikan. Kritiknya teramat tajam sampai-sampai membuat skeptis para pakar dan praktisi pendidikan saat itu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Nenek saya ingin saya memperoleh pendidikan. Karenanya, dia tidak mengizinkan saya sekolah", begitu ucap Margaret Mead polos. Tentu saja Everett Reimer, lewat tokoh Margaret Mead, dianggap sedang mewartakan kabar mencemaskan bagi dunia pendidikan waktu itu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sekolah sudah mati!&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dikatakan Everett Reimer di 1970-an sudah dirasakan oleh Doris Lessing pada sekitar 1930-an. Ketika dirinya memutuskan untuk meninggalkan bangku sekolah dan menempuh jalan hidup sebagai pengarang. Di sekolah, dirinya tidak pernah menemukan apa yang dia cari. Sekolah hanya sekedar pertemuan rutin formal yang menjemukan. Proses belajar-mengajar hanya sebatas transfer nilai-nilai kemapanan (status quo). Pendidikan "gaya bank!" (banking concept of education)—meminjam istilah Paulo Freire. Padahal, Doris Lessing sendiri ingin melihat dunianya dengan perspektif yang berbeda. Dia ingin bisa mengenali diri, mengembangkan segenap potensi yang dimiliki, dan memperoleh wawasan baru. Namun sayang, semua itu tidak ditemuinya di lembaga pendidikan yang bernama sekolah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, pengalaman hidup Doris Lessing merupakan fakta otentik untuk memaknai sebuah fenomena bahwa institusi pendidikan memang sudah mati. Tanda-tanda matinya sekolah bisa dicermati dari visinya yang tidak sejalan dengan karakteristik jiwa dan keragaman potensi yang dimiliki setiap peserta didik. Justru, di sekolah, potensi-potensi emas yang dimiliki oleh setiap peserta didik dibungkam oleh formalitas basa-basi. Atau, proses belajar-mengajar hanya sekedar mencekoki peserta didik dengan pengetahuan-pengetahuan dan norma-norma kuno. Padahal, "rasa ingin tahu" (curiosity) serta keinginan memperoleh pengetahuan yang baru menjadi karakteristik setiap jiwa peserta didik. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lewat tulisan ini, saya hanya ingin mengatakan bahwa catatan biografi Doris Lessing, peraih Nobel Sastra 2007, adalah sebuah fenomena. Catatan perjalanan hidupnya menambah sederetan tokoh sukses dunia yang pernah gagal di bangku sekolah. Dan, itu berarti telah melengkapi setumpuk fakta bahwa sekolah memang telah mati.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3765768874055571568-3816960533845891322?l=penulisjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulisjogja.blogspot.com/feeds/3816960533845891322/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3765768874055571568&amp;postID=3816960533845891322&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/3816960533845891322'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/3816960533845891322'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulisjogja.blogspot.com/2007/10/doris-lessing-pengarang-besar-yang.html' title='Doris Lessing, Pengarang Besar yang Putus Sekolah'/><author><name>Ahmad Mu'arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00387346934510406805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_fLgt6xoY88Y/SF0uMh3wyAI/AAAAAAAAAGQ/PaNx4XSm_m4/S220/mu%27arif6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3765768874055571568.post-1065749701301314576</id><published>2007-10-24T10:15:00.000-04:00</published><updated>2007-10-24T10:17:44.836-04:00</updated><title type='text'>Sayat Baru di atas Luka Lama</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Muslianah, istri seorang Atase Pendidikan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Malaysia, ditangkap secara semena-mena oleh petugas Rela (semacam Hansip di Indonesia) baru-baru ini. Konon, dia sedang mengambil pakaian hasil jahitan di sebuah pusat perbelanjaan di Chow Kit, Kuala Lumpur. Pada waktu itu, serombongan petugas Rela datang untuk memeriksa identitasnya. Sekalipun dia sudah menunjukkan kartu identitas sebagai anggota keluarga diplomat, tapi tetap saja dikeler layaknya penyelundup atau imigran gelap (Sindo, 9/10/2007).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ulah petugas Rela yang tidak profesional ini jelas bakal menambah runyam hubungan Indonesia-Malaysia. Apalagi, selama beberapa tahun terakhir, hubungan diplomatik kedua negara serumpun ini makin tak harmonis. Sederetan kasus memalukan telah menodai harga diri bangsa Indonesia. Jika tidak disikapi secara bijaksana, kasus-kasus memalukan tersebut bisa menggugah semangat nasionalisme bangsa Indonesia. Layaknya bara api dalam sekam.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Titik Api Konflik&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;AH Mahally (2007) berusaha menunjukkan "titik api" konflik Indonesia-Malaysia. Seraya mengutip analisis Karim Raslan (2007), dia menyebutkan bahwa terdapat tiga masalah besar yang pemicu hubungan tidak harmonis Indonesia-Malaysia. Yaitu, problem Tenaga Kerja Indonesia (TKI), perbatasan teritorial, dan illegal loging. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Terhadap tiga faktor di atas, saya memang tak bisa menyangkalnya. Sampai sejauh ini, jumlah TKI di Malaysia diperkirakan mencapai 2 juta orang. Ironisnya, dari sejumlah tersebut, diperkirakan sebanyak 800.000 orang dinyatakan illegal (Syafnijal Datuk Sinaro, 2007). Artinya, banyak TKI selundupan atau imigran gelap yang mencari rizki di negeri jiran ini. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dari sebanyak 2 juta TKI di Malaysia, tidak semuanya bernasib mujur. Justru, kebanyakan nasib para TKI, khususnya Tenaga Kerja Wanita (TKW), acapkali menjadi sasaran penyiksaan, pelecehan seksual, bahkan sampai ancaman bakal dibunuh. Sampai artikel ini ditulis, berita TKI tewas di negeri rantau masih terus mewarnai pemberitaan di media massa nasional.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di antara TKI banyak juga yang tidak digaji. Data yang berhasil dihimpun KBRI di Kuala Lumpur menyebutkan, lebih dari 30% kasus yang menimpa para TKI berkaitan dengan pembayaran gaji (Halim Ambiya, 2005). Hal ini menunjukkan bahwa sekalipun bekerja di negeri jiran dengan iming-iming ringgit yang menggiurkan tidak selamanya berbuah kesejahteraan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Konflik perbatasan antara kedua negara ini juga tak bisa sangkal lagi. Kasus memperebutkan pulau Sipadan dan Ligitan, dua gundukan pasir seukuran 23 hektar, ternyata sudah mencuat ke permukaan sejak 1969 (Orde Baru). Namun, pada 17 Desember 2002, Mahkamah Internasional memutuskan dua pulau di pantai timur Pulau Sebatik menjadi milik sah pemerintah Malaysia. Tentu saja keputusan ini sangat mengecewakan bagi bangsa Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Terhadap kasus perebutan dua pulau ini, saya mengamati bahwa sejarah bangsa Indonesia telah diabaikan. Ti tahun 1917, ketika pemerintah Inggris menyebut dua pulau tersebut sebagai bagian dari wilayah ordonasi, pemerintah Hindia Belanda pernah melayangkan protes. Sikap protes Hindia Belanda ini menunjukkan bahwa kedua pulau tersebut telah direbut oleh Inggris. Sayangnya, protes tersebut tak pernah dihiraukan dan sejarah pun dilupakan (Nono Anwar Makarim, 2003). Pada akhirnya, kasus ini berakhir kekecewaan bagi bangsa Indonesia. Sementara kasus blok Ambalat dan perairan Karang Unarang juga masih belum tuntas.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, kasus illegal loging. Tak saya pungkiri bahwa kasus ini pun menjadi salah satu pemicu hubungan kurang harmonis antara Indonesia-Malaysia. Kayu-kayu selundupan hasil pembalakan liar di hutan Riau, Jambi, dan beberapa kawasan di Indonesia, melibatkan pejabat dan konglomerat hitam—baik dari dalam negeri maupun negara tetangga (Malaysia, Singapura). Pencurian kayu-kayu hutan yang telah merugikan negara kira-kira sebesar 45 trilyun per tahun kemudian diselundupkan ke negera tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Anehnya, pemerintah kedua negara tetangga ini tidak bereaksi atas kasus penyelundupan asset negara Indonesia ini. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mungkin benar analisis Karim Raslan, pengamat politik Islam asal Malaysia, sewaktu membaca fenomena hubungan tak harmonis antara dua negara bertetangga ini. Hanya saja saya melihat masih banyak faktor yang terlupakan. Faktor sejarah menjadi pemicu utama hubungan diplomatik Indonesia-Malaysia yang boleh dibilang hangat-hangat tahi ayam. Selain sejarah, faktor psikologis, khususnya menyangkut rasa nasionalisme bangsa Indonesia yang terus-menerus dilecehkan, juga amat menentukan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kedua faktor inilah yang menurut penulis menjadi pemicu konflik antara Indonesia-Malaysia dan sifatnya laten. Seperti bom waktu, sewaktu-waktu konflik bakal meledak jika tidak disikapi secara bijaksana. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Faktor Sejarah&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Setiap bangsa memiliki latarbelakang historis dan kebudayaan tersendiri. Bagi sebuah bangsa merdeka, sejarah dan kebudayaan menjadi identitasnya di pentas peradaban dunia. Sejarah juga menjadi identitas politiknya. Sekalipun kebudayaan Indonesia dan Malaysia serumpun, tetapi catatan sejarah kedua negara ini berbeda. Berarti, identitas politik kedua negara ini berbeda. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Catatan sejarah bangsa Indonesia dari masa pra-kolonial, kolonial, hingga masa kemerdekaan, menunjukkan bahwa bangsa Malaysia memang serumpun. Bahkan, pada masa pra-kolonial, wilayah Semenanjung Melayu (termasuk teritorial Malaysia dan Brunei Darussalam) menjadi bagian dari kekuasaan Kerajaan Sriwijaya (Abad 7-14 M). Pada tahun 1331-1364 M, Semenanjung Melayu juga telah masuk ke dalam wilayah kekuasaan Majapahit.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Memasuki masa kolonial (1602 M), bangsa yang tadinya disatukan oleh sejarah dan kebudayaan serumpun menjadi terpisah. Kolonialisme Inggris dan Belanda mengangkangi teritorial yang kini menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Malaysia. Sepanjang masa kolonialisme, Inggris dan Belanda selalu berebut perbatasan wilayah jajahannya. Tercatat, pada 1917 pemerintah Hindia Belanda melayangkan protes kepada Inggris karena telah mengklaim pulau Sipadan masuk ke dalam wilayah ordonansinya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Memasuki masa kemerdekaan, Presiden Soekarno pernah terlibat sengketa politik dengan pemerintah Inggris. Atas nama bangsa Indonesia, proklamator kemerdekaan RI ini menentang pembentukan Federasi Malaysia. Terbakar oleh rasa nasionalisme, apalagi dengan membaca catatan sejarah bangsa Indonesia yang pernah berjaya pada masa kerajaan Sriwijaya dan Majapahit, maka pembentukan Federasi Malaysia sama artinya dengan sparatisme. Di samping itu, Soekarno telah membaca skenario Barat, terutama lewat peran Inggris, Amerika Serikat, dan Australia, untuk mempengaruhi perpolitikan di kawasan Asia. Pada waktu itulah, lewat Penyambung Lidah Rakyat Indonesia ini, lahir semboyan politik yang membahana dan menggetarkan: "Ganyang Malaysia!", "Amerika kita setrika!", "Inggris kita linggis!"&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Rasa nasionalisme memang menggetarkan. Soekarno menentang keputusan PBB mengakui kedaulatan Malaysia. Sewaktu negara tetangga ini menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB, Indonesia tegas mengambil sikap. Pada tanggal 20 Januari 1965, Indonesia keluar dari keanggotaan PBB. Bukan hanya itu. Soekarno malah menggalang kekuatan non PBB sebagai saingan. Apa yang dilakukan Soekarno, atas nama bangsa Indonesia, adalah bukti nyata bahwa dua negara bertetangga tidak akur. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kita kembali ingat salah satu wejangan bapak proklamator RI ini, "Jangan sekali-kali melupakan sejarah (jas merah!)." Rupanya, akhir-akhir ini, bangsa Indonesia memang lupa pada sejarahnya sendiri. Ketika dimaki sebagai "Indon," kehormatan dinodai oleh kekerasan, pelecehan, dan ancaman terhadap para TKI, serta harga diri diinjak-injak oleh tindakan tidak profesional petugas Rela, namun bangsa ini hanya diam. Pemerintah juga hanya bisa prihatin. Barangkali pernyataan pemerintah yang tidak pernah tegas justru menunjukkan bahwa para pemimpin kita memang amat memprihatinkan? Suatu bangsa yang melupakan sejarahnya sendiri akan gagal di masa depan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketegasan Sikap&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Malaysia merupakan secuil dari sejarah dan kebudayaan bangsa Indonesia. Bahkan, Brunei Darussalam juga bagian dari sejarah dan kebudayaan bangsa ini. Dalam catatan sejarah lokal di Sumatra Barat, antara kesultanan Brunei, Serawak (Malaysia), dan Bukittinggi (Pagaruyung), merupakan tiga bangsa serumpun. Sebuah monumen sejarah "tiga serumpun" masih bisa dilihat di Bukittinggi hingga saat ini. Hal ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia adalah serumpun dengan Malaysia dan Brunei. Setelah memasuki masa-masa kolonial, masing-masing menciptakan sejarahnya secara terpisah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pada masa Orde Lama, bangsa Indonesia berhasil membangun citra politik di pentas dunia. Presiden Soekarno adalah sosok fenomenal. Sepak-terjangnya yang tidak pro Barat dan Timur membuat bangsa-bangsa lain terpana. Gagasan-gagasannya brilian membuat para pemimpin bangsa-bangsa lain terpukau. Indonesia pada waktu itu menjadi kekuatan politik alternatif yang kokoh dan amat disegani. Bahkan, terhadap kekuasaan PPB, Soekarno berani membelot. Namun sayang, setelah Indonesia ditinggalkan oleh figur pemimpin fenomenal Soekarno, berangsur-angsur bangsa ini tenggelam ditelan gelombang kepentingan politik bangsa-bangsa lain.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Yang paling menyedihkan dan sekaligus menjengkelkan, bangsa ini malah lupa pada sejarahnya sendiri. Bangsa Indonesia kehilangan jati diri di tengah-tengah persaingan bangsa-bangsa yang lain. Sampai-sampai harus mengemis di negeri orang yang pada hakekatnya adalah sempalan dari sejarah dan kebudayaan sendiri. Lihatlah! Betapa banyak TKI Indonesia yang berbondong-bondong ke Malaysia hanya untuk menjadi "kuli" di kebun-kebun kelapa sawit. Padahal, di negeri sendiri, hamparan kebun kelapa sawit tidak kalah luasnya. Para TKW rela menjadi "babu" di negeri seberang sekalipun mereka terancam tidak dibayar, disiksa, dilecehkan, bahkan sampai dibunuh. Anehnya, sekalipun kasus pembunuhan TKI sudah berkali-kali terjadi, namun bangsa ini masih saja menaruh harapan di negeri jiran. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Apakah mentalitas bangsa Indonesia seperti budak? Mungkinkah bangsa Indonesia bangsa kuli? Saya kembali ingat kritik YB Mangunwijaya semasa hidupnya. Dengan amat kritis, tokoh yang identik dengan "Komunitas Kali Code" (Yogyakarta) ini menyalahkan pemerintah Orde Baru dalam mengurus dan menata sistem pendidikan nasional. Dia berpendapat bahwa pendidikan nasional yang tidak pernah beres hanya mampu melahirkan bangsa dengan mentalitas "babu" dan "kuli" (Singgih Nugroho, 2004). Tampaknya, sekarang, kritik YB Mangunwijaya benar-benar jadi kenyataan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di antara mentalitas "babu" dan "kuli" adalah sifat inferior, tidak punya visi ke depan, dan tidak tegas mengambil sikap. Cobalah perhatikan! Kasus penangkapan, penyiksaan, sampai pembunuhan secara keji terhadap TKI hanya ditanggapi sebagai fenomena kewajaran. Maksudnya, kewajaran terhadap sebuah bangsa yang mengais rizki di negeri lain. Sikap semacam ini adalah cermin metalitas budak. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, sekalipun tampak fenomena kemiskinan, pengangguran, dan kebodohan di tanah air, tetapi pemimpin kita tidak punya visi ke depan untuk memperbaikinya. Akibatnya, bangsa Indonesia malah merasa pesimis dapat mencapai kesejahteraan hidup di negeri sendiri. Mereka pun merantau ke negeri orang. Karakteristik semacam ini merupakan cermin dari tipe kepemimpinan tanpa visi. Dan agenda pembangunan di tanah air pun dapat dinyatakan telah gagal.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Adapun pemerintah yang selama ini tak pernah tegas mengambil sikap atas berbagai kasus penistaan, penghinaan, dan pelecehan terhadap harga diri bangsa mencerminkan hilangnya rasa nasionalisme. Kadang saya membayangkan, seandainya Soekarno masih hidup, tentu dia akan berang. Rasa nasionalismenya akan terbakar dan segera menyerukan, "Ganyang Malaysia!" Konfrontasi fisik sudah pasti bakal terjadi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sekedar mengambil pelajaran. Gunawan Mohammad—dalam Catatan Pinggir I (1982)—mengisahkan sebuah peristiwa menarik. Darius, seorang penguasa besar Persia (abad 5 SM), pernah mengirim seorang utusan (duta) ke Athena. Konon, utusan Persia tersebut diperlakukan tidak pantas. Kepada penguasa Athena, Darius menyatakan perang. Athena pun ditaklukkan. Kemudian, pada abad ke-6 M, Nabi Muhammad pernah mengirim seorang utusan (duta) kepada penguasa Persia (Kisra) di Chtesipon (Madain, Irak). Utusan tersebut justru malah dibunuh sehingga Nabi Muhammad menyatakan perang terhadap Persia.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lewat dua kisah sejarah ini, saya bukan berarti sedang memanas-manasi pemerintah supaya segera melakukan konfrontasi fisik dengan Malaysia. Sama sekali bukan! Kebijakan perang bukanlah sikap bagi sebuah bangsa beradab. Bangsa Indonesia bukanlah bangsa biadab. Lewat dua kisah tersebut, saya hanya sedang meyakinkan, bahwa kebijakan dan sikap tegas harus segera ditunjukkan kepada pihak Malaysia. Apalagi, negeri jiran ini sudah nyata-nyata menghina, merendahkan, bahkan melecehkan harga diri bangsa Indonesia. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Saya dukung sikap para dewan yang berencana demo di depan Kedubes Malaysia. Lebih dari itu, saya mengusulkan agar pemerintah segera menarik Duta Besar RI di Malaysia. Pemerintah juga perlu membuat jera negeri jiran ini lewat kebijakan travel warning dan penghentian pengiriman TKI ke Malaysia. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, pemerintah Malaysia akan jera karena pembangunan negeri jiran ini, sebagian besar, dari hasil keringat dan darah para TKI. Kebijakan tersebut akan mengembalikan kewibawaan dan harga diri bangsa yang sudah dicabik-cabik. Dalam catatan sejarah bangsa Indonesia, keberadaan Malaysia menjadi sebuah ‘luka lama.’ Tetapi, kasus-kasus memilukan dan juga memalukan yang mencuat akhir-akhir ini seakan-akan menjelma menjadi ‘sayat baru di atas luka lama.’&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3765768874055571568-1065749701301314576?l=penulisjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulisjogja.blogspot.com/feeds/1065749701301314576/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3765768874055571568&amp;postID=1065749701301314576&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/1065749701301314576'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/1065749701301314576'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulisjogja.blogspot.com/2007/10/sayat-baru-di-atas-luka-lama.html' title='Sayat Baru di atas Luka Lama'/><author><name>Ahmad Mu'arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00387346934510406805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_fLgt6xoY88Y/SF0uMh3wyAI/AAAAAAAAAGQ/PaNx4XSm_m4/S220/mu%27arif6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3765768874055571568.post-7158222707567565842</id><published>2007-10-24T10:05:00.000-04:00</published><updated>2007-10-24T10:14:43.558-04:00</updated><title type='text'>Histeria Budaya Lebaran</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Mudik (pulang kampung) dan Lebaran (Idul Fitri). Keduanya sudah menjadi bentuk budaya tersendiri yang unik di Indonesia. Fenomena mudik menjelang Lebaran sudah menjadi tradisi unik yang tidak akan dijumpai di negara-negara lain. Misalnya di Arab Saudi dan Mesir. Sekalipun sama-sama merayakan Idul Fitri, di Arab Saudi dan Mesir, tidak mengenal Lebaran, seperti halnya di Indonesia. Umat Islam di Arab Saudi tidak kenal budaya mudik. Begitu juga umat Islam di Mesir tidak kenal tradisi pulang kampung menjelang Idul Fitri. Atas dasar inilah, mudik dan Lebaran sudah menjadi tradisi yang unik di Indonesia. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, fenomena mudik menjelang Lebaran sudah menjelma menjadi "histeria kebudayaan." Ironisnya, mudik justru "sarat beban." Saya menganggap Lebaran sudah menjadi "ajang prestise" bagi para pemudik. Saya juga menyebut mudik "sarat beban." Sebab, secara ekonomis, tradisi yang sudah berlangsung selama puluhan tahun ini cenderung memberatkan. Tetapi, anehnya, beban ekonomis tersebut justru dianggap "bukan sebagai beban." Ada "kesadaran magis" menyelimuti kesadaran para pemudik setiap kali menjelang Lebaran (Mu’arif, 2007). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya Lebaran &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, subtansi Lebaran sama dengan perayaan Idul Fitri di negara-negara lain. Hanya saja, makna Lebaran lebih kontekstual dengan tradisi keindonesiaan. Lebaran adalah perayaan Idul Fitri ala Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam filosofi Jawa, kata "lebaran" dipahami secara utuh lewat ungkapan "jaburan", (menu makanan)"lebaran" (luas, lapang), dan "leburan" (luluh, lebur). Ketiga istilah ini merupakan serangkaian makna utuh untuk memahami puasa Ramadhan yang kemudian diakhiri dengan kemenangan setelah masing-masing jiwa menjadi "suci" (fitri). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah "jaburan" merupakan gambaran bagi orang-orang yang menunaikan ibadah puasa. "Jaburan" sendiri adalah menu makanan yang disediakan untuk berbuka puasa. Adapun "lebaran" adalah proses hari raya yang secara khusus dimaknai lewat jalinan silaturahmi antar sanak keluarga. Lewat proses "lebaran," setiap orang meluaskan hati atau melapangkan dada untuk menerima ucapan maaf dan memaafkan dari orang lain. Sementara "leburan" adalah proses luluhnya setiap dosa setelah masing-masing saling memaafkan. Pada puncaknya, setiap orang yang merayakan Lebaran telah kembali suci. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memahami makna filosofi Lebaran, setiap orang yang berada di perantauan terdorong secara spiritual untuk pulang ke kampung halaman. Semangat Lebaran dan mungkin rasa kangen ingin bertemu keluarga di kampung mendorong para perantau untuk terus melestarikan tradisi mudik.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Para perantau yang umumnya berasal dari kampung memanfaatkan hari raya Idul Fitri (bukan Idul Adha) untuk mudik secara besar-besaran (nasional). Di sinilah letak perbedaan budaya Idul Fitri di Indonesia dengan negara-negara lain. Tradisi mudik hanya bisa ditemukan di Indonesia. Di negara-negara, seperti Arab Saudi dan Mesir, tidak akan ditemui tradisi unik semacam ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Histeria Kebudayaan &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sayang, fenomena mudik, yang hampir menyerupai karnaval tahunan, menjelma menjadi histeria budaya yang sarat beban. Mudik tidak dipahami sebagai kesadaran untuk kembali bertemu bersama keluarga di kampung setelah setahun merantau di kota, tetapi sudah menjadi ajang luapan emosi untuk memuaskan dahaga Lebaran. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Yasraf Amir Piliang (2004), histeria ialah ekses dari emosi yang tidak dapat dikendalikan. Di sini, saya memandang luapan emosi para pemudik yang ingin pulang ke kampung halaman menjelang Lebaran sudah tidak terbendung lagi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat Lebaran telah mendorong luapan emosi para pemudik sampai ke batas paling irrasional. Mereka berlomba-lomba membelanjakan uang. Misalnya, seorang pembantu rumah tangga (babu) berani menghabiskan tabungan selama setahun hanya untuk memuaskan dahaga Lebaran. Atau, seorang kuli bangunan berani memborong barang-barang elektronik mewah, seperti TV, HP, kipas angin, dan lain-lain. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara otomatis, pada detik-detik menjelang Lebaran, harga-harga di pasar melambung tinggi tak terkendali. Sebab, permintaan barang-barang selalu meningkat. Sekalipun harga-harga melambung tinggi mencapai dua kali lipat, tetapi seolah-olah tidak menjadi beban bagi para membelinya. Itu semua disebabkan karena dorongan semangat Lebaran. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena Lebaran memang sungguh dahsyat dan luar biasa. Semangatnya bisa menyihir kesadaran seseorang untuk belanja apa saja, sekalipun harga melambung tinggi. oleh karena itu, benar kata Hendrawan Supratikno (2007), sesungguhnya lebaran adalah ajang demonstrasi daya beli masyarakat. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, sudah dianggap fenomena lumrah jika para pemudik berani membelanjakan uangnya tanpa mempertimbangkan harga di pasar. Sebab, mereka menjaga gengsi sebagai perantau untuk membawa oleh-oleh yang berharga selama pulang ke kampung. Setiap orang bepergian memang selalu diharapkan oleh-olehnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Puncak histeria budaya pada hari raya Lebaran (1 Syawwal). Setiap keluarga akan memperlihatkan keberhasilan anak-anak mereka selama merantau kepada orang lain. Ada kisah sukses selama merantau di kota. Ada banyak uang dan barang-barang mewah yang jadi buah bibir. Seseorang akan merasa prestise jika mengaku sudah sukses merantau di kota. Lebaran tiba-tiba menjelma menjadi ajang prestise. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah fenomena ketika Lebaran sudah menjelma menjadi histeria kebudayaan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3765768874055571568-7158222707567565842?l=penulisjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulisjogja.blogspot.com/feeds/7158222707567565842/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3765768874055571568&amp;postID=7158222707567565842&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/7158222707567565842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/7158222707567565842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulisjogja.blogspot.com/2007/10/histeria-budaya-lebaran.html' title='Histeria Budaya Lebaran'/><author><name>Ahmad Mu'arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00387346934510406805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_fLgt6xoY88Y/SF0uMh3wyAI/AAAAAAAAAGQ/PaNx4XSm_m4/S220/mu%27arif6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3765768874055571568.post-7442411761600601158</id><published>2007-10-05T14:50:00.001-04:00</published><updated>2007-10-05T14:58:29.358-04:00</updated><title type='text'>Karya Besar Seorang Butet</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Malam itu, ia sakit. Tubuhnya yang kerempeng dan wajahnya yang pucat pasi betul-betul mengatakan kalau ia sedang sakit. Saya menjenguknya di Jalan Kaliurang ditemani kawan-kawan yang masih peduli pada masa depan kemanusiaan. Tapi, pertemuan malam itu betul-betul menggoda imajinasi saya. Terbetik dalam benak ini, "Karya besar lahir dari sebuah tindakan besar." Saya sadar, sejarah bukan hanya milik orang besar saja. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Namanya Saur Mariana Manurung. Tapi ia lebih akrab dipanggil Butet Manurung. Sarjana Antropologi lulusan FISIP Unpad ini telah mengawali ‘kerja besar’ yang tidak semua orang bisa melakukannya. Berbekal tekad dan ketulusan mengabdi, ia berhasil ‘menyadarkan’ suku-suku di pedalaman Jambi dan Riau untuk mengenali diri dan realitas rimba yang selama ini dipahami secara bersahaja. "Orang Rimba" (OR) selalu menganggap kedatangan "Orang Luar" (untuk menyebut orang yang bermukim di kampung atau kota) sebagai pihak yang akan merusak adat. Sebagai seorang antropolog, Butet jelas paham dengan pola pikir semacam itu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu membaca buku catatan hariannya, &lt;em&gt;Sokola Rimba&lt;/em&gt; (2007), imajinasi saya terbang ke alam rimba belantara di pedalaman Jambi. Butet bercerita banyak tentang pahit-getirnya menjelajah rimba dan selama mengenal OR yang hidup amat bersahaja. Tidak jarang saya tertawa geli menikmati kisah-kisah udik, konyol, dan lugu, yang dituturkan secara lugas. Namun, tidak jarang timbul decak kagum dalam hati saya sewaktu Butet mengungkap tradisi luhur dan sistem sosial yang penuh toleransi. Ternyata, OR tidak pernah mengenal kekerasan, apalagi sampai membunuh sesama. Mereka juga sangat santun dan menghormati para tamu, sekalipun berasal dari "Orang Luar."&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun demikian, OR sangat tertutup dengan dunia luar. Walaupun dunia luar jauh lebih maju, tetapi mereka merasa telah cukup dengan kehidupan bersahaja di dalam rimba. Keluguan OR dimanfaatkan oleh Orang Luar. Mereka yang tidak kenal baca-tulis dengan mudah ditipu. OR tidak bisa mengelak karena mereka sendiri tidak tahu. Secara sistematis dan terencana, keberlangsungan hidup OR terus tergerus oleh laju pembangunan. Sementara OR sendiri tidak memiliki daya upaya untuk menangkalnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Membayangkan Butet Manurung mengingatkan saya kepada sosok guru bijak di Brazil, Paulo Freire. Sekalipun setting sosio-historisnya jauh berbeda, tetapi kedua tokoh ini menghadapi fenomena serupa: penindasan. Di satu sisi penindasan itu dijalankan oleh sistem yang mengatasnamakan pembangunan, tetapi di sisi lain menjelma dalam bentuk kultur yang turut melestarikan penindasan itu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman Butet ini juga merupakan satu bukti bahwa dia telah mengenalkan model pola pikir kepada suku-suku rimba yang tidak seperti lazimnya. Biasanya para aktivis LSM selalu mengenalkan nilai-nilai baru dengan dalih pendampingan terhadap suku-suku yang terancam punah. Tetapi pendekatan yang dipakai selalu menyeberang dari norma-norma adat setempat. Sudah pasti, OR akan enggan menerima ajakan para aktivis LSM. OR dianggap tidak berperadaban, padahal mereka mengaku memiliki sistem kebudayaan sendiri. Banyak program LSM dalam rangka pendampingan terhadap suku-suku rimba sebatas formalitas belaka.&lt;br /&gt;Norma-norma dan tradisi yang telah mengkristal membuat OR tidak mudah dipengaruhi oleh orang luar. Satu hal yang membuat mereka tak berdaya menghadapi tekanan budaya orang luar: &lt;em&gt;mereka tidak tahu bagaimana cara mengatasinya&lt;/em&gt;. Misalnya ketika OR menjual hasil hutan kepada orang luar, mereka tidak tahu seandainya ditipu. Mereka tidak bisa baca-tulis, apalagi menghitung. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya, Butet melihat celah yang satu ini. Dia lantas mengajak suku-suku rimba untuk mengenal baca-tulis agar mereka tidak mudah dibodohi. Dengan tekun dia meyakinkan OR agar mereka memiliki wawasan yang luas supaya mampu memahami sumber permasalahan hidup secara kritis. Butet pun menawarkan sekolah kepada mereka.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Setiap perjuangan selalu melewati aral yang melintang. Butet hampir saja putus asa karena OR sudah sinis duluan mendengar kata "sekolah." Perasaan gengsi, dan mungkin curiga, sudah tertanam di benak para OR. Rupanya kesalahan pendekatan dan strategi yang dilakukan para aktivis LSM yang jadi biangnya. Mereka menerapkan program pendidikan untuk para OR tanpa memahami situasi batin, norma-norma adat, dan dan sistem sosial yang berlaku bagi masyarakat rimba. Niatan yang pada mulanya baik justru berbalik dengan disikapi secara sinis. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Butet masih tetap bersemangat untuk menyadarkan para OR. Mungkin ajakannya kepada para OR untuk bersekolah menjadi kesalahan yang teramat mahal harganya. Namun, di tengah-tengah situasi kritis, sebuah pemikiran cemerlang acapkali menyeberang di dalam benak. Butet berusaha melepaskan segala teori dan formalitas akademik demi menyelamatkan masyarakat rimba yang hampir punah itu. Jadilah konsep pembelajaran kritis yang tidak perlu teori muluk-muluk dan formalitas basa-basi. Bagi Butet, tujuan sekolah tidak untuk mengubah tata nilai adat setempat, namun untuk meningkatkan profesionalisme kerja. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Butet seorang antropolog dan mungkin dia tidak banyak membaca kisah sukses Paulo Freire sewaktu mengentaskan para petani buta huruf di Brazil pada tahun 1963. Kesombongan intelektualnya muncul ketika dia tiba-tiba mengajak orang-orang rimba supaya belajar kepadanya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ajakan Butet kepada orang-orang rimba itu justru menjadi batu sandungan baginya. Orang-orang rimba merasa gengsi ketika harus belajar kepada orang luar, apalagi kepada seorang perempuan seperti Butet. Ditambah lagi kesalahan fatal telah dilakukan oleh para aktivis LSM sebelum Butet yang memperkenalkan sistem pembelajaran formal kepada orang-orang rimba.&lt;br /&gt;Konon, sekolah yang diselenggarakan oleh WARSI bersifat formal. Metode pembelajarannya statis. Bahkan memiliki kecenderungan bersifat doktriner. Tidak jarang anak-anak rimba yang malas mendapat hukuman fisik. Seorang guru dengan seenaknya main instruksi suruh ini dan itu tanpa dimengerti sama sekali oleh anak-anak rimba. Citra pendidikan formal telah dirusak sendiri oleh para aktivis LSM yang sesungguhnya mengemban tanggungjawab menyelenggarakan pendidikan bagi anak-anak rimba.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Butet mengenalkan baca-tulis kepada anak-anak rimba tidak seperti lazimnya para guru yang merasa sok paling tahu. Dia memang jadi guru, tetapi pada saat yang bersamaan dia adalah murid bagi anak-anak rimba. Inilah sebenarnya metode pembelajaran partisipatif seperti yang pernah diterapkan oleh Paulo Freire. Mungkinkah Butet Manurung telah membaca karya-karya Paulo Freire sebelumnya? Saya tidak tahu persis. Dalam buku Sokola Rimba, Butet tidak menyebut nama "Bapak Pendidikan Kritis" ini. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses pembelajaran partisipatif, pola interaksi antara guru dan murid tidak bersifat formal. Seorang guru tidak harus mengenakan dasi dan bersepatu, tetapi Butet malah bertelanjang kaki dan kadang hanya mengenakan kain kemben. Tidak ada instruksi ini dan itu. Juga tidak ada ceramah yang menjadi simbol kesombongan intelektualnya. Yang ada hanyalah keterlibatan aktif antara guru dan murid. Status guru seakan-akan lebur menjadi seorang sahabat yang baik bagi murid-muridnya. Seperti Butet yang tengah mendidik anak-anak rimba, dia senantiasa siap menjadi murid bagi mereka. Atau sebaliknya, anak-anak rimba sewaktu-waktu dapat menjadi guru baginya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kurikulum nasional jelas tidak akan terpakai di sini. Mungkin saja masih dibutuhkan sistem evaluasi, tetapi dalam hal ini tidak terlalu diutamakan. Justru, anak-anak rimba lebih membutuhkan pengetahuan praktis berkaitan dengan kondisi alam di sekitar mereka. Untuk meningkatkan produktivitas kerja, orang-orang rimba lebih membutuhkan pelajaran membaca, menulis, dan berhitung. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dengan kemampuan membaca, mereka bisa memahami setiap surat-surat penting yang datang dari pihak luar. Dengan kemampuan menulis, mereka bisa menuliskan nama dan membubuhkan tanda tangan sewaktu selesai membuat suatu perjanjian. Dengan kemampuan menghitung, mereka bisa mengetahui sendiri jumlah hasil hutan yang dijual kepada para penadah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari pengalaman Butet ini, kita menemukan arti pendidikan yang sesungguhnya. Butet telah melakukan kerja besar yang menghasilkan karya besar dalam menyadarkan suku-suku rimba di pedalaman Jambi dan Riau. Lewat karya besar ini, Butet juga telah menyadarkan kita akan arti pendidikan yang sesungguhnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3765768874055571568-7442411761600601158?l=penulisjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulisjogja.blogspot.com/feeds/7442411761600601158/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3765768874055571568&amp;postID=7442411761600601158&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/7442411761600601158'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/7442411761600601158'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulisjogja.blogspot.com/2007/10/karya-besar-seorang-butet.html' title='Karya Besar Seorang Butet'/><author><name>Ahmad Mu'arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00387346934510406805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_fLgt6xoY88Y/SF0uMh3wyAI/AAAAAAAAAGQ/PaNx4XSm_m4/S220/mu%27arif6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3765768874055571568.post-7721641824830227388</id><published>2007-10-05T14:50:00.000-04:00</published><updated>2007-10-05T14:55:31.562-04:00</updated><title type='text'>Cinta dan Pengorbanan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Tidak saya pungkiri, setiap orang yang mencintai memang dituntut supaya berkorban. Sebab, cinta butuh pengorbanan. Cinta dan pengorbanan bagaikan dua sisi mata uang. Keduanya tak bisa dipisahkan. Cinta mensyaratkan pengorbanan. Adapun pengorbanan adalah bukti atas cintanya seseorang kepada yang dicintainya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Cinta itu anugrah. Lazimnya manusia normal diliputi rasa cinta. Misalnya, cinta terhadap lawan jenis. Cinta kepada orangtua atau anak-anaknya. Cinta terhadap harta dunia yang mewah. Atau, cinta terhadap kedudukan yang bisa menjadikannya bagaikan seorang raja. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pikiran saya terngiang pada kenangan beberapa tahun silam, ketika masih menempati kos di Wisma Bintang Harapan (Sapen). Ketika itu, saya berdebat. Dengan seorang teman. Perdebatan tentang hakekat cinta sejati. Adakah? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pertanyaan klasik. Barangkali pertanyaan ini akan dianggap terlalu idealis. Tapi, kita memang tak bisa berkelit darinya. Pikiran kita pasti akan mengandaikannya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Saya sempat mengandaikannya. Andaikan cinta sejati betul-betul ada, lantas, kepada siapakah kita menghambakan diri? Kepada istri yang cantik jelita? Kepada anak-anak? Kepada harta dunia? Atau, kepada pangkat? Waktu itu, saya belum menemukan jawaban.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lewat pengembaraan maya dalam berbagai pertemuan dialogis, saya mendapati seberkas cahaya. Saya temukan harapan. Harapan untuk sebuah jawaban. Sewaktu menelusuri jejak-jejak kehidupan Nabi Ibrahim, pintu hati ini langsung terketuk. Saya tertegun sewaktu baca buku Jerald F. Dirks, Ibrahim Sang Kekasih Tuhan (2007). Rupanya, sejarahnya telah mengajari kita mengenal "cinta sejati."&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kota Ur, 4.159 tahun yang silam (2.152 SM). Anak muda itu mulai beranjak dewasa dan ia sedang mencari cintanya. Umurnya baru 14 tahun. Perangainya lembut. Sikapnya juga sopan. Tapi, jiwanya selalu gelisah. Pikirannya juga tak pernah tenang. Apa saja yang dilihatnya selalu jadi tanda tanya. Dalam gelisah, seakan-akan ia sedang bertanya, "Di manakah engkau wahai cinta sejati?"&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di tengah hiruk-pikuk kaumnya di kota Ur, yang memuja-muja &lt;em&gt;Sin&lt;/em&gt; (Dewi Bulan), ia tetap tak bergeming. Ibrahim memang sempat mengamati bulan purnama yang elok (Qs. Al-An’am: 76). Malam yang bening membuat bulan terasa angkuh sendirian di langit. Planet Venus (&lt;em&gt;Ishtar&lt;/em&gt;) pun diamatinya (Qs. Al-An’am: 77). Ibrahim juga menemukan satu planet cantik yang amat genit ini setiap kali senja menjelang. Matahari begitu mempesona (Qs. Al-An’am: 78). &lt;em&gt;Shamash&lt;/em&gt;, Dewa Matahari, sempat membuatnya kagum. Tapi, ia bersikukuh tak akan jatuh cinta kepada mereka. Sebab, bulan itu bisa redup. Bintang juga sirna. Matahari pun tenggelam. Ia tak ingin cintanya redup. Juga tak menghendaki cintanya sirna, apalagi tenggelam. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam keresahan hati dan kekalutan pikirannya, ia terus mencari cinta sejati. Ibrahim tak putus asa. Juga tak pernah bosan dalam pencarian yang meletihkan itu. Sampai suatu ketika, cintanya datang menghampiri. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Cintanya hanya ditujukan kepada Allah, Tuhan pencipta segala sesuatu. Rupanya, cinta sejati Ibrahim bukan kepada istrinya, Sarah, yang terkenal cantik lagi jelita. Cintanya juga bukan kepada anak-anaknya, Ismail dan Ishaq. Apalagi cinta terhadap harta bendanya yang konon berlimpah-ruah. Cinta sejatinya hanya kepada Allah (&lt;em&gt;lillah&lt;/em&gt;), Dzat yang telah menciptakan dirinya (&lt;em&gt;Al-Khaliq&lt;/em&gt;).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Karena cinta, Ibrahim rela diusir oleh kaumnya. Karena cinta, dirinya rela tidak diakui sebagai anak oleh ayahnya. Karena cinta, ia harus rela menerima hukuman dibakar oleh kaumnya. Itu semua hanya untuk mempertahankan cinta sejatinya—hanya cita kepada Allah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Seberapa besar kadar cinta seseorang, hanya pengorbanan yang bisa membuktikannya. Ketulusan cinta sejati Ibrahim kepada Allah pun masih diuji dengan perintah supaya mengorbankan anak kesayangannya, Isma’il, sewaktu usianya masih belia (Qs. Ash-Shaffat: 102).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Isma’il adalah anak pertama Ibrahim. Ia memperoleh karunia seorang anak saleh ini dari istri keduanya, Hajar. Perempuan ini merupakan hamba sahaya hadiah dari salah seorang raja Mesir (Amaliq Hexos: &lt;em&gt;Amaliqah Al-Heksus&lt;/em&gt;). Darinya, lahir keturunan Ibrahim yang kemudian menetap di lembah Bakkah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketulusan hati Ibrahim mengorbankan Isma’il telah membuktikan kualitas cintanya kepada tuhannya. Cinta kepada Allah di atas segala-galanya. Bahkan, sampai terhadap anak kesayangannya rela dikorbankan. Itu hanya untuk memenuhi tuntutan dari Kekasih Agungnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sekali lagi, cinta memang butuh pengorbanan. Kata "korban" berasal dari bahasa Arab, "&lt;em&gt;qurban&lt;/em&gt;", yang biasa diartikan "kurban." Dalam bahasa induknya, bahasa Arab, kata "&lt;em&gt;qurban&lt;/em&gt;" berasal dari "&lt;em&gt;qaraba&lt;/em&gt;" yang artinya "dekat" atau "mendekatkan." Jadi, pengorbanan dalam cinta bertujuan untuk mendekatkan seseorang kepada yang dicintainya. Seperti ketika Ibrahim mengorbankan Isma’il, tujuannya tidak lain agar dia makin dekat kepada Allah (&lt;em&gt;taqarrub ilallah&lt;/em&gt;). Dengan menuruti keinginan dari yang dicintai (&lt;em&gt;al-mahbub&lt;/em&gt;), seseorang akan makin dekat dengan yang dicintainya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Merenungkan hakekat korban, kita dapat memahami hakekat cinta yang sesungguhnya. Cinta adalah keinginan yang tulus (ikhlas) untuk memberi. Cinta sejati ialah keinginan untuk mengabdi hanya kepada yang dicintai. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tentu lain dengan hasrat. Hasrat itu hanya untuk memiliki. Biasanya, hasrat ditujukan kepada istri yang cantik. Atau, kepada anak-anak yang sehat dan cerdas. Atau pula, kepada harta benda yang penuh kemewahan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam cinta sejati, yang paling berhak untuk dicintai hanyalah Allah, sebagaimana pelajaran yang bisa dipetik dari kisah Nabi Ibrahim. Dia telah menjadikan Allah sebagai satu-satunya yang dicintai. Cinta kepada selain Allah adalah fana (profan). Sebaliknya, cinta kepada Allah adalah baqa (kekal).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Segenap ujian yang telah dijalani oleh Nabi Ibrahim adalah bukti ketulusan cintanya kepada Allah. Berbagai cobaan yang telah dia jalani adalah pengorbanan untuk membuktikan kualitas cintanya kepada Allah. Pengorbanannya yang tulus telah diterima oleh Allah sehingga dia berhak mendapatkan ridla-Nya. Maka, wajarlah jika Allah menjadikan Ibrahim sebagai "Kekasih-Nya" (&lt;em&gt;Khalilullah&lt;/em&gt;).&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3765768874055571568-7721641824830227388?l=penulisjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulisjogja.blogspot.com/feeds/7721641824830227388/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3765768874055571568&amp;postID=7721641824830227388&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/7721641824830227388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/7721641824830227388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulisjogja.blogspot.com/2007/10/cinta-dan-pengorbanan.html' title='Cinta dan Pengorbanan'/><author><name>Ahmad Mu'arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00387346934510406805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_fLgt6xoY88Y/SF0uMh3wyAI/AAAAAAAAAGQ/PaNx4XSm_m4/S220/mu%27arif6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3765768874055571568.post-5994033356835322013</id><published>2007-10-03T14:37:00.000-04:00</published><updated>2007-10-03T14:44:55.607-04:00</updated><title type='text'>Samy</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Takdir itu tak kenal kompromi। Ia sewenang-wenang। Juga misterius। Gumpalan kabut menyelimutinya. Tak bisa ditebak. Juga tak mudah dipecahkan. Apa yang telah ditetapkan tak mungkin dapat diubah. Apa yang telah ditakdirkan tak dapat dibatalkan. Tapi nasib bukanlah takdir. Manusia memang tak dapat berkelit dari takdir, tetapi ia bisa mengubah nasibnya. Sebab, nasib ditentukan lewat pilihan. Dan, manusia memiliki kebebasan untuk menentukannya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Setiap manusia memiliki kebebasan। Kebebasannya menghendaki lepas dari belenggu penindasan. Ia menghendaki kehidupan yang lebih baik. Tapi sayang, apa yang dikehendakinya belum tentu sejalan dengan realitas kehidupan yang ia jalani. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, keberuntungan belum berpihak kepada Samy। Samuel Rory, begitu nama lengkapnya, adalah pria kelahiran Solo. Tubuhnya agak kurus. Umurnya 39 tahun. Ia lulusan S-2 di Oxford University.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hari itu wajah Samy murung। Pikirannya mungkin lagi kalut. Atau barangkali ia sedang menelan kekecewaan. Rasa kecewa teramat dalam seakan-akan raut wajahnya sedang mengatakan itu. Di negeri ini, mencari pekerjaan teramat sulit. Sekalipun dengan modal ijazah S-2 lulusan Oxford University, tapi tetap saja masih terasa sulit, seperti apa yang telah dialami Samy. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ia mengaku sudah berkali-kali cari lowongan kerja। Keluar-masuk perusahaan swasta atau instansi pemerintah sudah berkali-kali. Bahkan pengakuannya ini mungkin membuat telinga orang jadi panas. Mungkin juga membuat mata orang lain terbelalak, terpana, dan heran. Sebab, Samy sudah 5.074 kali mengajukan lamaran. Dan, sebanyak itu pula ia harus menelan kegetiran. Tak satupun instansi pemerintah maupun perusahaan swasta yang bersedia menerimanya. Sebanyak 5.074 kali lamaran yang ia ajukan, ternyata hanya dijawab dengan satu alasan: anda diffable! &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, maaf, kedua tangan Samy hanya tinggal satu jari। Kedua kakinya juga demikian. Kondisi fisiknya yang demikian merupakan pembawaan sejak lahir. Inilah kondisi ketika manusia tidak akan mampu lagi berkelit darinya. Ini sudah suratan takdir. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Samy mengaku setiap instansi yang ia masuki selalu keberatan melihat kondisi fisiknya। Kata orang, maaf, fisiknya ‘tak sempurna.’ Orang pun jadi sangsi dengan kemampuannya. Misalkan saja, jari Samy yang hanya satu dianggap tak mampu mengetik. Padahal, Samy sempat bertaruh, dirinya bisa bersaing dalam hal kemahiran mengetik dengan orang-orang yang dianggap lebih sempurna fisiknya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dialami Samy, sebenarnya, hanya secuil kisah balada yang juga dialami oleh ribuan kaum difable di Indonesia। Saya tak kuasa membayangkan betapa terpukulnya jiwa Samy. Keberadaannya dianggap sebelah mata oleh orang lain. Bahkan, kemampuannya juga disepelekan oleh orang-orang di sekelilingnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mungkin Samy marah। Atau, barangkali ia putus asa. Lalu ia buang jauh-jauh keinginan untuk bisa bekerja layaknya orang lain. Dengan nada kesal, ia mengaku telah merobek-robek ijazah S-1 yang diperolehnya di Fakultas Ekonomi UGM. Empat tahun kuliah di UGM dengan menggondol gelar sarjana S-1 dan secarik ijazah tak cukup buat mengubah nasibnya. Ijazah S-2 yang diperolehnya dari Oxford University juga sudah dimusnahkan. Lulusan dalam negeri maupun luar negeri sama saja. Dalam benaknya mengendap keyakinan bahwa sudah tak ada harapan lagi mengandalkan secarik ijazah untuk mengubah nasib bagi seorang difable seperti dirinya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kita harus mengakui akan kekeliruan sikap dan persepsi kita terhadap orang-orang semacam Samy ini। Kadang kita merasa iba melihatnya. Tetapi, pada saat yang bersamaan, justru perasaan iba menjelma menjadi bentuk eksploitasi. Kita melihat Samy layaknya ‘orang langka’ atau manusia aneh disebabkan karena kondisi fisiknya yang memang tak lazim. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kita juga sering lupa bahwa setiap manusia lahir ke dunia memiliki kondisi pembawaan yang berbeda dengan yang lainnya। Manusia memiliki segenap potensi yang dimilikinya, baik dari segi fisik maupun non fisik. Misalnya, dari segi non fisik, seseorang memiliki karakter emosional, pola pikir, dan mungkin keyakinan yang berbeda dengan yang lainnya. Dari segi fisik, seseorang lahir di dunia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Mungkin ia lahir dengan kondisi fisik yang amat memprihatinkan. Seperti buta (tunanetra), lumpuh, tuli (tunarungu), bisu (tunawicara), lemah mental, dan lain-lain. Inilah realitas kehidupan manusia yang bermacam-macam dari segi pembawaannya. Atau, inilah kondisi ketika manusia tak mampu lagi berkelit darinya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang terlahir, baik fisik maupun non-fisik, dalam kondisi tak lazim disebut kaum difable। Istilah ini, difable, berasal dari akronim "different ability people." Kamus Longman Advance American Dictionary (2000), menyebutkan pengertian difable sebagai, "Sebuah kondisi fisik dan mental yang dapat membuat seseorang kesulitan dalam mengerjakan sesuatu yang orang kebanyakan dapat mengerjakannya dengan mudah." &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Umumnya, masalah yang dihadapi kaum difable berupa "ketidakkeadilan." Mereka masih sulit mencari keadilan dalam sistem sosial kita, bahkan pemerintah pun menganggapnya sebelah mata. Ini bisa kita lihat pada kasus Samy yang harus dianggap sebelah mata oleh instansi pemerintah dan swasta ketika melamar pekerjaan sampai 5.074 kali, tetapi selalu ditolak. Padahal, alasan penolakannya hanya satu: difable! Untuk alasan-alasan lain tidak terlalu signifikan, karena ia alumni S-2 Oxford University yang sudah termasyhur di seantero jagad ini.&lt;br /&gt;Memang, pemerintah sudah agak memikirkan, sekalipun belum terwujud dalam tindakan, akan nasib orang-orang yang ‘kurang beruntung’ ini। Undang-undang No. 4 Tahun 1997 sedikit menghargai keberadaan mereka, meskipun belum maksimal. Hanya sayang, pemerintah masih buta mata menganggap mereka sebagai "orang-orang yang dicacatkan." &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Menyebut kaum difable sebagai orang-orang cacat atau tidak normal seakan-akan kita menilai mereka secara sewenang-wenang। Kita menilai mereka dengan "standar normalitas" berdasarkan perpektif orang-orang normal, bukan perspektif mereka sendiri yang harus menjalani kehidupan dengan kondisi yang amat memprihatinkan itu. Ada kesewenang-wenangan persepsi dalam diri kita. Ada penindasan lewat stigmatisasi yang tak seimbang. Atas dasar apa menyebut mereka sebagai orang-orang yang tidak normal? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, kaum difable belum mendapat tempat yang layak। Apalagi dapat menempati jabatan strategis di sektor swasta maupun pemerintahan. Rata-rata, kaum difable kurang mendapat tempat untuk bisa berpartisipasi dalam pembangunan di Indonesia. Bahkan, keberadaan mereka masih dianggap sebelah mata oleh sebagian masyarakat kita. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketika pemerintah membuka peluang PNS, misalnya, kaum difable acapkali dinomorduakan। Tidak jarang mereka disingkirkan। Yang diutamakan orang-orang yang dianggap lebih normal secara fisik maupun non fisik.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jika kita memahami keberadaan kaum diffable dengan menggunakan paradigma multikultural, maka sebenarnya mereka termasuk bagian dari masyarakat yang berhak mendapat hak yang sepadan dengan orang-orang yang dianggap lebih normal। Namun realitas kehidupan kaum difable saat ini masih belum mengalami perbaikan yang cukup signifikan. Malah keberadaan mereka sering dilukiskan sebagai "kelompok marginal", karena persepsi dan apresiasi masyarakat umum, juga pemerintah, selalu menomorduakan. Akibatnya, mereka selalu dianggap sebagai "beban masyarakat" yang memprihatinkan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Persepsi dan juga apresiasi masyarakat umum dan pemerintah belum bisa menerima kemampuan para difable। Padahal, di balik kelemahan fisik maupun psikhis, mereka mampu berpartisipasi dalam arus pembangunan yang kian menerjang. Bahkan, mereka memiliki kelebihan lain yang oleh orang normal tidak memilikinya. Seperti banyak kaum difable yang membuka panti pijat. Atau, bahkan ada sekelompok difable yang bisa mengikuti kegiatan yang biasanya dilakukan oleh orang normal, seperti Samy, misalnya. Malah, sekelompok kaum difable di Jogja pernah menaklukkan puncak Merapi beberapa bulan yang lalu. Tentu ini di luar persepsi kita. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Problem kaum difable menyisakan penindasan, baik secara struktural maupun kultural। Dalam konteks pendidikan, misalnya, perbedaan kemampuan secara fisik maupun non fisik mestinya menjadi bagian dari agenda pendidikan saat ini. Tetapi, pendidikan kita kurang mengakomodir problem disability. Akibatnya, banyak peserta didik yang memiliki kelemahan fisik harus kerepotan mengikuti proses pendidikan yang diselenggarakan secara konvensional. Pendidikan yang diselenggarakan secara konvensional cenderung menggeneralisir potensi-potensi peserta didik. Akibatnya, proses pendidikan yang diselenggarakan secara general hanya mengaburkan aspek perbedaan segi kemampuan itu, baik secara fisik maupun non fisik.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Problem difable bukan hanya pada kesulitan mengakses pendidikan, tetapi juga bagaimana mereka bisa berpartisipasi aktif mengisi pembangunan। Mereka selalu kesulitan mengisi jabatan publik, baik di sektor pemerintah maupun swasta. Oleh karena itu, perjuangan menuntut hak kesetaraan antara kaum difable dan mereka yang normal perlu digiatkan sejak dini. Saya sangat berharap agar pemerintah segera merancang Undang-undang kesetaraan hak antara kaum diffable dengan mereka yang normal dalam hal partisipasi publik. Sebab, UU No. 4 Tahun 1997 masih jauh dari pencapaian. Masih banyak distorsi dan miss-persepsi. Selama ini sikap pemerintah dan masyarakat juga kurang adil terhadap mereka. Jika hal ini terus dibiarkan, maka sebenarnya proses penindasan secara struktural dan kultural sedang berjalan terus-menerus. Sampai kapankah kaum difable akan mendapat penghargaan yang layak sebagai manusia?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Terus terang, saya cukup apresiatif dengan beberapa kebijakan pemerintah akhir-akhir ini. Meskipun belum maksimal, namun beberapa kebijakan sudah agak mengakomodir kepentingan kaum difable. Seperti pemerintah yang telah mencetak mata uang tertentu dengan standard khusus yang memudahkan para difable untuk menggunakanya. Kebijakan tersebut jelas cukup mengakomodir kepentingan kaum difable. Akan tetapi, kebijakan tersebut baru sebagian kecil saja dari kebutuhan para kaum difable. Sebab, keberadaan kaum difable juga sama seperti keberadaan manusia biasa yang memerlukan fasilitas umum untuk kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;Dengan mengakomodir seluruh kebutuhan para kaum difable, berarti pemerintah dan masyarakat pada umumnya, telah menerapkan paradigma multikulturalisme dalam kehidupan berbangsa। Karena, di samping bangsa Indonesia multietnis dan multireligion, juga multikultural. Kondisi kaum difable termasuk dalam bingkai multikultural, karena kemampuan (potensi) mereka yang secara umum membentuk sikap dan karakter berbeda dengan yang lain, sehingga bisa dikatakan sebagai bentuk kultur. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, pemerintah wajib mengagendakan multikulturalisme dalam merancang pembangunan bangsa Indonesia ke depan, agar lebih adil. Tentunya, agar kisah seperti yang dialami Samy tidak perlu terulang lagi.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3765768874055571568-5994033356835322013?l=penulisjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulisjogja.blogspot.com/feeds/5994033356835322013/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3765768874055571568&amp;postID=5994033356835322013&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/5994033356835322013'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/5994033356835322013'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulisjogja.blogspot.com/2007/10/samy.html' title='Samy'/><author><name>Ahmad Mu'arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00387346934510406805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_fLgt6xoY88Y/SF0uMh3wyAI/AAAAAAAAAGQ/PaNx4XSm_m4/S220/mu%27arif6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3765768874055571568.post-2831681109852409563</id><published>2007-10-03T14:31:00.000-04:00</published><updated>2007-10-03T14:35:58.625-04:00</updated><title type='text'>Matinya Sang Singa</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Pagi itu Sajida Talfah tampak gelisah। Di saat kesibukan umat Islam hendak merayakan Idul Adha (2006), perasaannya tambah gundah. Hatinya teriris-iris sewaktu mendengar berita kematian sang suaminya tercinta. Beberapa saat menjelang shalat Id, suaminya menghadapi tiang gantung. Seperti tak ada kata kompromi. Eksekusi harus dilaksanakan pagi itu juga: Sabtu, 30 Desember 2006.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sajida pasrah। Pikirannya kosong dan hatinya tercabik-cabik. Pagi itu, suaminya mati mengenaskan. Suaminya menyusul anak dan cucunya, Uday dan Qusay.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kalah itu menyakitkan। Apalagi kekalahan dalam politik, terasa makin menyakitkan. Yang kalah harus tersingkir. Sesudah itu, pasti bakal terpojok. Lebih menyakitkan lagi ketika kekalahan dimanfaatkan oleh musuh untuk balas dendam. Kisah Saddam Hussein, "Singa Padang Pasir," penguasa Irak selama 24 tahun itu, tak lebih dari sebuah kisah orang yang kalah secara politik. Matinya di tiang gantung akibat balas dendam musuh-musuhnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Putra Tikrit itu lahir di desa Awja, 28 April 1937। Dia berasal dari keluarga miskin. Dengan didikan keluarga yang keras, wataknya jadi garang seperti singa. Sewaktu ia berkuasa, maka kekuasaannya kian kokoh. Dan sepak-terjangnya pun tambah garang. Tak jarang musuh-musuhnya dibuat keder sewaktu berhadapan dengan Sang Singa ini. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Irak tahun 1957। Jenderal Abdul Karim Qassem berhasil menggulingkan pemerintahan Faisal II. Sang Singa termasuk orang yang tidak setuju dengan kudeta ini. Di tahun 1959, dia merencanakan pembunuhan terhadap Jenderal Qassem. Sang Singa didukung oleh Setan Besar, tapi rencananya gagal. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di tahun 1969, bersama Partai Baath, Sang Singa berhasil merebut kekuasaan Presiden Abdul Karim Qassem। Jenderal Ahmad Hassan Al-Bakr diangkat menjadi Presiden dan Sang Singa menjadi wakilnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Karir politiknya di Partai Baath terus melejit। Dia terus berambisi menjadi "orang nomor satu" di Negeri Seribu Satu Malam itu. Pada tahun 1979, dia pun berhasil merebut kekuasaan dari Jenderal Ahmad Hassan Al-Bakr. Sang Singa menduduki jabatan sebagai kepala Negara, perdana menteri, pemimpin partai Baath, dan komandan militer angkatan darat sekaligus. Lengkap sudah kekuasaannya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tapi Sang Singa bukanlah orang suci। Dia bukan seorang nabi, apalagi malaikat. Dalam dunia politik hanya mengenal dua tipe manusia: teman atau musuh. Tapi, sungguh sulit menebak isi hati manusia. Siapakah teman? Siapakah musuh? Sulit sekali membedakannya. Seperti ketika Sang Singa berkuasa, teman-temannya ternyata banyak yang berkhianat. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kekuasaan, seperti kata orang bijak, ibarat air laut। Tak bisa menghilangkan rasa dahaga. Air laut makin diteguk justru makin mendatangkan rasa haus. Begitulah ketika Sang Singa berkuasa. Ambisi kekuasaannya makin meluap-luap. Di tahun 1980-1988, dia melibatkan rakyatnya berperang melawan saudaranya sendiri, Iran. Ratusan ribu rakyat Irak mati sia-sia demi memenuhi ambisi kekuasaan Sang Singa. Dan dia pun kalah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di tahun 1990-1991 dia melibatkan rakyat Irak menginvasi tetangganya, Kuwait। Celakanya, justru Kuwait didukung oleh Setan Besar. Rupanya Setan Besar geram melihat ladang-ladang minyak santapannya diosak-asik Sang Singa. Dengan kekuatan perang yang canggih, Setan Besar melindungi ladang-ladang minyak santapannya itu. Singa kembali menelan ludah kekalahan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sang Singa marah besar karena sepak-terjangnya selalu diganjal oleh Setan Besar। Tak peduli lagi pertemanan. Dalam kekuasaan, tiap orang yang berbeda paham adalah musuh. Tahun 1990 hubungan pertemanan antara Setan Besar dan Singa putus. Saat itulah Singa sering mengaum, memperlihatkan taring-taringnya, juga kuku-kukunya, untuk menakut-nakuti Setan Besar. Sebaliknya, Setan Besar pun bertambah geram. Dengan berbagai taktik dan muslihat, Setan Besar berusaha mendongkel kekuasaan Sang Singa. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang yang berkuasa memang selalu dihantui oleh muslihat musuh-musuhna। Ada syndrome bagi tiap orang yang berkuasa: khawatir kekuasaannya bakal tumbang! Begitu pula yang terjadi pada Sang Singa. Dan semua orang yang tidak sepaham dengannya dianggap musuh, termasuk Setan Besar. Sebaliknya, orang-orang yang selalu mengekor kepadanya dianggap teman. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Setan Besar berkoalisi dengan setan-setan kecil untuk memukul mundur pasukan Sang Singa। Tanggal 20 Maret 2003 awal mula jatuhnya kekuasaan Sang Singa. Atas nama demokrasi, keadilan, dan HAM, koalisi Setan Besar menghalalkan perang. Tapi yang namanya Setan tetaplah Setan, meskipun berkedok wajah manusia. Tugas Setan di dunia membuat kerusakan. Menjerumuskan umat manusia dalam kesengsaraan. Kerusakan di seluruh kawasan Irak akibat perang menjadi pemandangan paling bengis dan mematikan. Kesengsaraan ratusan ribu warga Irak jadi tontonan publik dunia. Tak ada media massa yang tak meluangkan ruang untuk pemberitaan korban perang warga Irak. Kota Baghdad yang dalam sejarah merupakan pusat peradaban dunia, kini tinggal puing-puing kehancuran. Baghdad tidak lebih dari sebuah potret kota mati. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sang Singa akhirnya berhenti mengaum pada 13 Desember 2003। Dia tertangkap. Dia dikeler dari bungkernya di Tikrit. Tangannya diborgol dan mulutnya dibekap. Rupanya orang terdekatnya berkhianat. Dan dia pun makin sulit mempercayai orang. Karena, siapa kawan, siapa lawan, sungguh terasa sulit membedakannya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Benar kata orang bijak, kekuasaan itu cenderung menindas। Saddam Hussein, Singa Padang Pasir, banyak melakukan dosa dan kesalahan. Dosa dan kesalahannya dilakukan untuk mempertahankan kekuasaan. Dia pun tak bisa mengelak. Lewat pengadilan 19 Oktober 2005 dia dituduh mendalangi pembunuhan terhadap warganya sendiri. Dia dituntut hukuman mati untuk kasus pembantaian 148 warga Syi’ah di Dujail tahun 1982. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hukuman mati mungkin setimpal untuknya। Sebab, Sang Singa masih menghadapi sekian banyak tuntutan. Di tahun 1983 dia terlibat pembunuhan 8.000 marga Barzani. Tahun 1988 juga terlibat pembunuhan 5.000 warga Kurdi di Halbaja dengan senjata kimia. Kemudian di tahun 1991 terlibat pembunuhan 1.000 warga Syi’ah di Irak Utara. Dan di tahun 1987-1989 terlibat pembantaian missal dengan senjata kimia menewaskan 182.000 warga Kurdi. Mungkin dosa-dosanya sulit diampuni. Putusan pengadilan memvonisnya mati. Usahanya naik banding pun ditolak. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Politik memang bisa mengubah segala-galanya। Teman bisa jadi lawan. Atau sebaliknya, lawan bisa jadi teman. Setan Besar yang dulu temannya, kini justru jadi seturu abadinya. Orang-orang terdekatnya banyak yang khianat. Dan Sang Singa tinggal mengaum sendirian, tapi tanpa taring-taringnya dan tanpa cakar-cakarnya yang tajam. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu, beberapa saat menjelang shalat Id, Sang Singa mati tercekik dan Setan Besar tertawa menang। Kita lantas disadarkan pada sebuah doktrin: Kullu nafs dzaiqatu al-maut. Mati itu pasti. Setiap jiwa pasti bakal menuai ajal. Seperti Sang Singa itu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Benar, di dunia ini tak ada yang kokoh. Segalanya rapuh. Di dunia ini juga tak ada yang digdaya. Sebab, semuanya pasti binasa. Umur digerogoti masa hingga badan meregang nyawa. Terenggut oleh maut yang tiap saat siap menjemput.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3765768874055571568-2831681109852409563?l=penulisjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulisjogja.blogspot.com/feeds/2831681109852409563/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3765768874055571568&amp;postID=2831681109852409563&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/2831681109852409563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/2831681109852409563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulisjogja.blogspot.com/2007/10/matinya-sang-singa.html' title='Matinya Sang Singa'/><author><name>Ahmad Mu'arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00387346934510406805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_fLgt6xoY88Y/SF0uMh3wyAI/AAAAAAAAAGQ/PaNx4XSm_m4/S220/mu%27arif6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3765768874055571568.post-909796536174081665</id><published>2007-10-03T06:26:00.000-04:00</published><updated>2008-12-09T19:31:58.631-04:00</updated><title type='text'>Orang (Tak) Bertuhan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_fLgt6xoY88Y/RwN005fmTKI/AAAAAAAAAA4/FIdgF8OBc14/s1600-h/578049363_8c26dc6f66.jpg"&gt;&lt;/a&gt;Siapakah dia, lelaki berkaos putih kumal, berambut acak-acakan, yang duduk di pojok belakang bus ini? Dari tadi dia terus menatapku tanpa berkedip। Dasar tidak sopan! Orang belum kenal kok mengumbar mata tajam ‘mengundang.’ Dia menatapku tajam sekali, seakan hendak menantangku. Apakah dia pikir aku gentar melihatnya? Bodoh sekali! Aku tidak pernah gentar kepada siapapun!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tubuhku bergoyang meliuk-liuk, mengikuti laju bus Jalur Selatan di atas jalan Rong Road yang berkelok-kelok। Knalpot bus menggeber-geber memuntahkan asap hitam pekat. Mungkin sepekat pikiranku yang sedang kalut. Sore itu, setelah merampungkan tugas kantor, kuputuskan untuk langsung pulang ke kampung halaman. Ketika pikiran sedang kalut, rasa rindu membuatku ingin pulang ke rumah. Setelah bertahun-tahun meninggalkan kampung halaman memang membuatku terngiang-ngiang pada sosok wajah yang selalu menghiasi hari-hari dalam pikiranku. Di kala pikiran kalut sedang merenggut, wajahnya tersenyum menyela di benakku, menguatkan semangat untuk terus bertahan hidup. Ketika hatiku sedang gundah gulana, wajahnya yang berseri-seri mengisyaratkan keteduhan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tapi dia… Ya, dia… Lelaki misterius itu। Yang duduk di pojok belakang bus ini. Yang selalu menatapku, membuntuti segala gerak-gerikku. Aku pun makin penasaran dibuatnya. Apa sih maunya? Dan kuputuskan untuk mendekatinya. Menerima undangan ‘tantangan’ di balik tatapan matanya yang tajam. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak mengundangmu!” katanya seraya menggelengkan kepala। “Aku tidak menantangmu!” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jantungku berdebar-debar mendengar pernyataannya yang spontan। Sama sekali tak kuduga. Dia seakan-akan sedang menjawab pikiranku. Apakah dia mampu membaca pikiranku? Apakah dia punya daya linuwih, yang bisa weruh sebelum winarah? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Pikiranmu sudah terkontaminasi oleh tayangan mistik di TV!”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aku makin kikuk dibuatnya। Apa yang kupikirkan, apa yang kukatakan dalam benakku, ternyata dia mampu membacanya. Jangan-jangan dia juga tahu kadar keimananku!&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Apa kamu dukun…? Paranormal…? Atau,… mungkin kamu orang keramat…?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Tak usah berandai-andai। Apakah kamu sudah tak ingat kaos kumal ini? Apakah kamu sudah lupa dengan model rambut acak-acakan seperti ini? Lihatlah dirimu sendiri! Bercerminlah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memaksaku bercermin। Kaca jendela bus yang telah kusam berdebu menampakkan wujud seseorang dengan kaos putih kumal dan berambut acak-acakan. Seraut wajah tampak samar. Aku kaget melihat bayangan di kaca jendela bus yang kusam berdebu itu. Siapakah sosok di balik kaca itu? Aku sungguh tidak mengenalnya!&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Siapakah dia?” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Siapakah dia?!” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Ya, siapakah dia, sosok di balik kaca kusam berdebu itu?” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dia diam, menatapku kosong. Kepalanya lalu tertunduk lesu. Lalu dia berpaling dariku. Apakah dia kecewa? Apakah dia mengira aku pernah mengenalnya?&lt;br /&gt;Tubuhku terhentak membentur jok di depanku। Dia, lelaki misterius di sampingku, tetap saja acuh. Dan aku berusaha menatap kembali seraut wajah di kaca jendela yang telah kusam berdebu itu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Dialah aku!”, jawab lelaki misterius itu menyela lamunanku। &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bus Jalur Selatan berhenti di depan Pasar Gamping। Kenek bus menaikkan seorang penumpang tua. Dan tiba-tiba dari belakang penumpang tua itu seorang pedagang kasongan menyelinap masuk. Dia menawariku aqua dingin. Aku tak berminat. Tak kapok, dia terus membujukku. Dan aku tetap tak bergeming. Dia lalu menawariku buku TTS yang hanya seharga lima ratus rupiah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Daripada melamun, mendingan ngisi TTS!”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aku tetap tak bergeming dengan tawarannya। Lelaki misterius di sampingku pun diam membisu. Dia cuek, seperti aku yang mengabaikan pedagang kasongan itu. Mungkin dia tak punya uang untuk beli aqua dingin atau buku TTS yang baru saja ditawarkan kepadanya. Dan bus Jalur Selatan kembali melaju dengan cepatnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kamu tak punya uang buat beli aqua atau buku TTS?” tanyaku kepada lelaki misterius itu।&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dia diam। Tak menjawab sepatah kata pun pertanyaanku. Atau dia memang masih menyimpan kekesalannya kepadaku? Pertanyaanku pun berlalu diterpa angin senja, yang menyelinap dari balik jendela kaca. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lelaki misterius itu mulai menatapku dengan tatapan yang amat dalam। Tatapan matanya seakan-akan sedang mencari sesuatu di dalam mataku. Apakah yang dia cari? Mungkin dia sedang membaca kembali pikiranku? Aku merasa tidak asing lagi, sekalipun pikiranku harus dibaca olehnya. Entah mengapa, aku merasa makin akrab dengannya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dia tersenyum simpul। Aku pun tersenyum menyambutnya. Dan sungguh, ini suatu perkenalan paling aneh dalam hidupku. Selama ini, setiap orang asing yang melempar senyuman kepadaku selalu kubalas dengan dahi mengernyit. Tapi kali ini tidak. Aku membalas senyuman dengan senyuman. Bersama lelaki misterius itu, aku merasa menjadi manusia paling bijak. Dan aku pun makin akrab dengannya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kamu sudah shalat?” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sungguh tak kuduga, pertanyaannya laksana petir menyambar di telingaku। Mungkin genderang telingaku hangus oleh pertanyaannya yang membakar itu. Sampai-sampai aku hampir lupa mengingat pertanyaan yang baru saja diucapkan olehnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dia menanyakan sesuatu yang amat aku hindari untuk menjawabnya। Apakah dugaanku benar, dia telah mengetahui kadar keimananku? Apakah dia betul-betul memiliki daya linuwih? Sungguh tak kuduga, dia menanyakan pertanyaan yang aku sendiri berusaha untuk selalu menjauhinya. Karena aku telah meninggalkannya setelah lama bergumul dalam pertaruhan ide dan harapan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Tapi aku punya tuhan!” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aku berkelit tanpa menjawab pertanyaannya। Pertanyaan itu tak mampu kujawab, tapi aku tak mau dikalahkan oleh sebuah pertanyaan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Kamu punya tuhan?!” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dia sepertinya terheran-heran sambil menatapku tajam। Apakah dia tak percaya dengan pengakuan tulusku? Dan aku pun kembali menegaskan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Ya, aku punya tuhan!”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dia masih saja kelihatan heran। Dan mungkin malah bingung dengan pengakuanku. Namun aku sempat berpikir, mengapa dia heran dengan pernyataanku yang sudah amat lazim itu? Apakah pengakuanku sebagai orang yang “bertuhan” menjadi sesuatu yang amat mengherankan di zaman sekarang ini? Atau, justru dia malah bingung dengan pengakuan seperti itu di kala manusia zaman sekarang mulai terbiasa secara terang-terangan menelanjangi kekuasaan-Nya? Di zaman sekarang, tuhan tak lagi menjadi kekuatan yang “Serba Maha.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Apakah aku harus menyembahmu?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa kamu harus menyembah aku?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Karena kamu punya tuhan”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Tapi aku hanya manusia biasa। Tidak punya kekuatan luar biasa yang mampu mengubah nasibku sendiri, apalagi nasibmu” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu, aku tak jadi menyembahmu”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aku makin dibuat bingung oleh pengakuannya। Aku juga makin tak mengerti jalan pikirannya. Apakah dia tidak punya tuhan? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Angin senja berhembus mengurai rambut lusuh lelaki misterius itu। Cahaya senja menerpa rambutnya yang memerah laksana tembaga. Suara mesin menderu-deru berpacu menembus sang waktu. Roda terus berputar menggilas jejak-jejak kesubukan manusia di senja itu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kamu punya tuhan?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Tuhan yang mana?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Apakah tuhan itu banyak?! Bukankah tuhan itu cuma hanya satu?!”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Tuhan itu sebanyak pikiran manusia”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aku jelas tak bisa menerima jalan pikiran seperti itu। Bagiku, tuhan hanya satu. Jika tuhan banyak, bagaimana mungkin akan tercipta ketentraman di dunia karena sudah pasti tuhan-tuhan akan saling berseteru. Tak dapat dibayangkan, bagaimana kehidupan di dunia jika terjadi perseturuan antar tuhan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Jika tuhan itu banyak, kamu akan memilih tuhan yang mana?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak memilih”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Jadi kamu tidak punya tuhan?!”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lelaki misterius itu kembali menatapku। Kali ini tatapan matanya kosong. Apakah dia sedang bimbang karena tidak punya tuhan? Apakah dia sedang minta pelajaran dariku bagaimana cara menemukan tuhan yang benar? Perlahan-lahan kedua tangannya merengkuh tanganku। Terasa dingin। Mungkin angin senja mulai merasuk ke dalam tubuhnya hingga jiwanya menjadi dingin। &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Aku tak lagi berniat untuk menyembahmu। Aku pun tak mau menyembah tuhan yang dapat dimiliki. Seperti tuhan yang kamu miliki”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa tuhan tak dapat dimiliki?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Sebab Tuhan yang dapat dimiliki adalah tuhan yang dikuasai। Kamu memiliki tuhan berarti kamu menguasai-Nya. Manakah sesungguhnya yang lebih kuasa, kamu atau tuhan. Daripada aku menyembah tuhan yang dapat dikuasai oleh dirimu, lebih baik aku menyembahmu yang dapat menguasai diri-Nya.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dia menahan napas dalam-dalam, lalu menghempaskannya pelan-pelan.&lt;br /&gt;“Karena kamu adalah manusia biasa yang tak mampu mengubah nasib, aku tak jadi menyembahmu। Hatiku tak dapat menerima tuhan yang lemah. Hatiku juga tak menerima tuhan yang dapat dimiliki.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aku tertegun sejenak। Tampaknya lelaki misterius ini jauh lebih mengerti siapa tuhannya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Aku memang lelaki “tak bertuhan”, karena aku ingin menjadi hamba-Nya। Aku memang tak memiliki-Nya, karena Dialah justru yang memiliki aku. Aku ini hamba, sedang Dia adalah Pencipta. Antara aku dan Dia dibatasi dinding tebal yang tak bisa dan tak akan mampu ditembus. Aku tak mungkin dapat memiliki-Nya. Aku heran, orang-orang mengaku memiliki tuhan kok jadi beringas? Aku bingung, mereka mempertahankan keyakinan tuhan itu satu, padahal Dia sebanyak pikiran kita tentang-Nya. Dan yang paling aku tak mengerti, mereka merasa berbuat sekehendak tuhan, merasa membawa kebenaran tuhan, dan mengaku mendapat jaminan dari tuhan. Mereka jelas telah memaksakan diri membaca pikiran tuhan, seperti aku yang telah membaca pikiranmu. Mereka telah menguasai diri tuhan, seperti aku yang telah menguasai pikiranmu.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aku pun sadar। Tuhan memang tak dapat dimiliki. Tuhan yang dapat dimiliki berarti tuhan dalam kekuasaan diri kita. Tuhan dalam pikiran kita. Kita pun dapat memperbudaknya. Tuhan yang seperti itu jelas sangat naïf! Apakah ini yang menjadi kesalahan kita dalam memahami keberadaan tuhan? Seperti aku yang menemukan tuhanku, tetapi telah kukuasai?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Selama ini aku merindukan kehadiran-Nya dalam hatiku। Aku berusaha menemukan jalan bagaimana memahami-Nya. Tetapi aku selalu di ambang keraguan. Setiap kali kutemukan Tuhanku, justru apa yang kudapati hanya Tuhan dalam pikiranku. Bagaimana dengan tuhan dalam pikiran orang lain? Yang paling aku takuti ketika tuhan dalam pikiranku berseteru dengan tuhan-tuhan dalam pikiran orang lain. Aku berusaha menemukan-Nya sebagaimana hakekat-Nya. Tetapi aku tak dapat berpaling dari keakuanku yang selalu memaksa untuk menjamah-Nya.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lelaki misterius itu seakan-akan mengeruk seluruh isi hatiku, dan mengungkapkannya lewat kata-kata yang mengucur deras dari mulutnya। Aku makin penasaran. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Siapakah kamu sebenarnya?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Aku adalah aku, ketika kamu mengurung diri dalam egomu! Tetapi aku adalah dia, ketika kamu makin keras kepala mengutuk dirimu। Dan aku adalah dirimu, yang selalu bercakap-cakap dalam keheningan, bercanda bersamamu dalam ide-ide dan harapan, di lubuk hatimu.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja aku seperti mendapati diriku dalam genangan lautan bir। Hanyut bersama ide-ide dan harapan yang memabukkan. Larut bersama lautan ide dan harapan yang terus menghasut membuatku lupa pada diriku sendiri. Betapa sombongnya diriku yang berusaha menguasai diri tuhan. Betapa egoisnya diriku yang berusaha memiliki-Nya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih kepadamu, hai lelaki misterius! Kamu telah menyadarkan aku bahwa tuhan memang tak dapat dimiliki। Tuhan jelas tak dapat dikuasai. Karena setiap usaha memiliki tuhan berarti menguasai-Nya. Apakah kita yang mengaku memiliki tuhan telah menguasai-Nya? Apakah tuhan telah menjadi sedemikian lemah sehingga setiap orang mengaku dapat memiliki (menguasai)-Nya? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Orang yang mengaku bertuhan sama saja dengan orang yang mengaku tak bertuhan। Ada kabut yang menggumpal dalam pikirannya. Ketika orang mengaku paling benar memiliki tuhan, bahkan mengaku atas nama tuhan melakukan teror kepada orang lain yang justru sama-sama mengaku bertuhan, di situ kabut makin menggumpal menutupi hakekat. Sama saja orang yang mengaku bertuhan dengan orang yang mengaku tak bertuhan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Senja menjemput Maghrib। Pasar Petanahan di depan mataku. Bus Jalur Selatan telah mengantarku pulang ke kampung halaman. Dan segera aku terjaga dari lamunan. Udara dingin berhembus dari arah pantai selatan merasuk ke dalam paru-paruku. Terasa sejuk menyegarkan rongga dadaku. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Ayah, aku telah kembali! &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petanahan, Juni 2007&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3765768874055571568-909796536174081665?l=penulisjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulisjogja.blogspot.com/feeds/909796536174081665/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3765768874055571568&amp;postID=909796536174081665&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/909796536174081665'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/909796536174081665'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulisjogja.blogspot.com/2007/10/orang-tak-bertuhan.html' title='Orang (Tak) Bertuhan'/><author><name>Ahmad Mu'arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00387346934510406805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_fLgt6xoY88Y/SF0uMh3wyAI/AAAAAAAAAGQ/PaNx4XSm_m4/S220/mu%27arif6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3765768874055571568.post-328347836359360357</id><published>2007-10-02T13:40:00.000-04:00</published><updated>2007-10-02T13:44:22.813-04:00</updated><title type='text'>Buku Kamar, Bukan Buku Mimbar</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;"Buku ini, dalam dunia perbukuan, sering disebut "buku yang bukan buku", karena berisi kumpulan tulisan", begitu komentar salah seorang penulis sekaligus praktisi perbukuan di Jogja terhadap karya saya yang terbaru। Kemudian, ia mempertanyakan kepada saya, apakah beberapa artikel yang kemudian disunting menjadi sebuah buku itu sudah pernah diterbitkan lewat media massa, atau hanya sebatas catatan refleksi pribadi yang kemudian didokumentasikan? Jika beberapa artikel itu berupa catatan refleksi penulis, maka buku tersebut masuk kategori "buku kamar." Yaitu jenis tulisan (artikel) yang ditulis sebagai bacaan sendiri atau hanya untuk kepuasan bathin penulisnya. Umumnya, jenis artikel yang demikian ditulis tidak untuk diterbitkan. Tema-temanya juga sangat subyektif, karena hasil refleksi penulisnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, seandainya beberapa artikel tersebut telah dipublikasikan, entah lewat media massa ataupun forum-forum diskusi, buku tersebut masuk kategori "buku mimbar।" Yaitu buku yang berisi artikel-artikel yang telah dipublikasikan lewat media massa atau forum-forum diskusi. Namun, analisis penulis terhadap beberapa tema tulisannya menjadi terbatas. Sebab, media massa memang terbatas pada ruang pemuatannya. Atau, forum-forum diskusi yang juga terbatas pesertanya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Memang, dari sembilan buku yang telah saya terbitkan, hanya dua yang bisa disebut "buku utuh।" Selebihnya jelas dikategorikan dalam "buku yang bukan buku", jika menggunakan istilah di atas. Namun saya punya prinsip bahwa setiap karya dalam bentuk buku, baik dalam kategori "buku utuh" ataupun "buku yang bukan buku" tetap merupakan karya intelektual yang sangat berharga bagi masa depan peradaban umat manusia. Sehingga sampai saat ini, meskipun telah berkali-kali dikritik, namun saya tetap bertahan pada prinsip ini. Saya tetap akan menerbitkan artikel-artikel yang kemudian disunting menjadi sebuah buku.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Apalagi ketika "buku yang bukan buku" itu dipilah dalam dua kategori: "buku kamar" dan "buku mimbar", saya makin tergerak untuk mengatakan bahwa sejatinya inti buku itu bukan pada jenis tulisan, sistematisasi tema, dan kaidah-kaidah lain yang masih terkait। Inti buku adalah bagaimana gagasan-gagasan yang disuguhkan mampu menggugah semangat, merangsang pembaca untuk berbuat sesuatu, atau dalam istilah lain sebagai proses transformasi sosial. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jika mengamati dari sekian banyak buku, justru saya melihat buku-buku kategori "buku yang bukan buku", khususnya "buku kamar", yang telah banyak merubah dunia। Sebut saja buku Catatan Harian Ahmad Wahib yang disunting oleh Djohan Effendi dan Ismed Natsir, Catatan Seorang Demonstran karya Soe Hok Gie, Habis Gelap Terbitlah Terang karya R.A. Kartini, dan masih banyak lagi. Meskipun dinilai sebagai "buku yang bukan buku", bahkan masuk kategori "buku kamar", tetapi mampu menggugah semangat dan mempengaruhi para pembaca untuk melakukan transformasi sosial. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dalam konteks lain, untuk "buku yang bukan buku" dalam kategori "buku mimbar", justru kebanyakan penulis dan cendekiawan beken yang memproduksinya। Lihat saja buku-buku karya Nurcholish Madjid, M. Dawam Rahardjo, Jalaludin Rachmat, Syafi’i Ma’arif, Yasraf Amir Piliang, Gus Dur, Amien Rais, Amin Abdullah, Emha Ainun Nadjib, Munir Mulkhan, dan masih banyak lagi. Karya-karya mereka, pada umumnya, berupa "buku yang bukan buku", namun masuk kategori "buku mimbar." Sebab, gagasan-gagasan yang tertuang dalam tulisan mereka sudah dipublikasikan lewat media massa dan forum-forum diskusi prestise (sarasehan, seminar, lokakarya, diskusi ilmiah).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar inilah, saya semakin yakin bahwa subtansi buku bukan hanya terkait pada bagaimana ia ditulis (jenis tulisan, sistematisasi tema, dan kaidah-kaidah tertentu), tetapi lebih pada subtansi gagasan yang terkandung di dalamnya। Memang saya mengakui bahwa kategori "buku yang bukan buku" amat riskan. Jika penyunting atau editornya tidak selektif, maka yang terjadi justru buku akan seperti buah karya "oplosan", seperti polemik kasus yang pernah diulas di salah satu harian nasional kita beberapa waktu yang lalu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, saya memandang kelebihan sekaligus kelemahan karya intelektual kategori "buku yang bukan buku" itu। Buku tersebut biasanya berisi serpihan-serpihan gagasan dengan kasus yang berbeda-beda. Dengan demikian, perspektif penulisnya akan lebih berwarna dalam membaca sekian banyak kasus, tetapi dengan mind set yang sama. Kemudian, bagi "buku mimbar", kelebihan berikutnya terletak pada segi kualitas kepenulisan (jurnalistik)-nya, karena telah melewati dua proses seleksi sekaligus, yaitu seleksi di redaksi media massa dan penerbit buku.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Adapun kelemahannya terletak pada sistematika gagasan pokok, kemungkinan terjadi pengulangan tema dan kasus, tulisan sangat singkat (ringkas), tetapi padat berisi, dan beberapa tema cenderung kelihatan dipaksakan। Namun, justru kelemahan itu menjadi tugas pokok seorang penyunting atau editor untuk dapat menyajikan serpihan-serpihan gagasan menjadi sebuah buku utuh. Jadi, persoalan kategori "buku yang bukan buku" sebenarnya karena proses penyuntingan atau pengeditan beberapa artikel tersebut yang tidak maksimal, sehingga terkesan seperti karya intelektual "oplosan." Seandainya kerja penyunting atau editor dapat maksimal, meskipun suatu buku berasal dari serpihan-serpihan gagasan (kumpulan artikel), akan dapat menjadi sebuah buku utuh. Oleh karena itu, dibutuhkan kearifan dalam menyeleksi buku-buku bagi kalangan penerbit. Apalagi untuk buku berisi kumpulan artikel yang kata orang disebut-sebut sebagai "buku yang bukan buku."&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;29 Maret 2006&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3765768874055571568-328347836359360357?l=penulisjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulisjogja.blogspot.com/feeds/328347836359360357/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3765768874055571568&amp;postID=328347836359360357&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/328347836359360357'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/328347836359360357'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulisjogja.blogspot.com/2007/10/mimbar.html' title='Buku Kamar, Bukan Buku Mimbar'/><author><name>Ahmad Mu'arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00387346934510406805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_fLgt6xoY88Y/SF0uMh3wyAI/AAAAAAAAAGQ/PaNx4XSm_m4/S220/mu%27arif6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3765768874055571568.post-750691191259850341</id><published>2007-10-02T12:48:00.000-04:00</published><updated>2007-10-02T12:51:41.948-04:00</updated><title type='text'>Bisikan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Aku masih mencium aroma kesibukan manusia di Jalan Bimokurdo. Terdengar riuh. Aku yakin mereka berjejal di pinggir-pinggir jalan hanya untuk menghabiskan sisa hari ini. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ah, masih sore! Baru pukul sembilan! pikirku. Aku memang lebih terbiasa dalam kesunyian. Ketika orang-orang sudah lengah dibuai selimut tidur. Ketika malam tinggal sekeping, aku baru memulai aktivitasku. Menulis. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Tapi aku tidak bisa menunggu hanya untuk sebuah keheningan…"&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bisikan lembut menyeberang di benakku. Dingin dan lembut. Selembut asap putih yang tiba-tiba menyapu keningku. Dari sebatang rokok kretek yang baru saja kusulut. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bisikan itu jelas sekali. Di sela-sela alunan musik natural Kitaro yang selalu menemaniku memainkan tombol-tombol keyboard, bisikan itu amat membekas di benakku. Tapi aneh. Sungguh aneh sekali. Mengapa telingaku tak mendengar bisikan? Mengapa tak terdengar suara? Apakah aku sudah tidak menghiraukan lagi orang-orang di sekitarku?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Mungkin dia setan atau iblis yang bersarang dalam benakku!"&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di atas meja, dua lembar Buletin Jum’at masih tampak baru. Dan memang baru saja dicetak. Hari ini hari Kamis. Besok bulletin itu pasti bakal beredar di seluruh masjid-masjid di Sapen. Tadi baru saja dua orang pengelola bulletin itu berkunjung ke kosku yang sempit ini. Aku selalu diminta untuk mengoreksi sekaligus mengritisi karya jurnalistik mereka. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Malam ini, sekalipun masih sore, tapi udara terasa dingin sekali. Dinginnya menusuk tulang. Perubahan musim memang terasa sekali. Aku yakin, di kampung halamanku sedang pesta panen padi musim rendheng. Entah mengapa, tiba-tiba saja pikiranku melayang ke kampung halaman. Memang sudah lama aku tidak pulang kampung. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sejak tadi sore aku sudah berniat dalam hati. Aku berniat malam ini aku harus menulis. Ya, menulis sesuatu. Memang tidak terlalu penting. Tidak terlalu menarik untuk khalayak umum. Tapi, bagiku teramat penting. Sebab ini menyangkut profesiku sebagai penulis. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Secarik kertas warna biru muda masih tersimpan baik di saku jaketku. Kupungut dan kutimang-timang. Lipatan-lipatannya masih tampak baru. Di atas pojok kiri terpampang logo sebuah penerbit: &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tajidu Press&lt;br /&gt;Nyutran MG II/1465 A Yogyakarta&lt;br /&gt;Telp. (0274) 413708 Faks. (0274) 413732&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ini kuitansi pembayaran royalty dari penerbit buku yang telah mengorbitkan karyaku pertama kali: Muslim Liberal. Kuitansi ini merupakan pembayaran royalty yang ketiga kalinya. Kali pertama di tahun 2003. Kali kedua di bulan Maret 2007. Kali ketiga hari Kamis tanggal 26 Juli 2007 pukul 16.30. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Seminggu yang lalu, aku sudah mempersiapkan sebuah rencana. Aku ingin membeli buku History of Arabs. Karya Philip K. Hitti. Harganya lumayan mahal. Sekitar Rp.125.000,- Tak masalah bagiku untuk buku sekelas ini. Aku memang tidak terlalu berhitung-hitung untuk beli buku bagus. Asalkan uang cukup, segera aku beli. Tapi jika tak ada uang, aku terus sabar menanti. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tapi sungguh tragis sore ini bagiku. Tragis sekali. Yang membuat hatiku miris ketika harus mengeja besarnya nominal uang pembayaran royalty ini. Sampai-sampai aku tak percaya melihatnya. Di pojok kiri bawah tertulis sebuah angka. Lidahku jadi terasa kaku untuk mengejanya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Rp. 31.000,-&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aku pun terpaksa mengejanya. Terasa berat tapi aku harus menerimanya. Inilah kenyataan. Aku mengejanya seraya membuang jauh-jauh rencanaku semula. Harapan memiliki buku karya Philip K. Hitti tinggal angan-angan. Bagaimana aku dapat membelinya jika uang pembayaran royalty buku ini hanya sebesar Rp. 31.000,-? Padahal hidupku selama ini bergantung kepada pembayaran royalty buku-bukuku yang tersebar di beberapa penerbit. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hari ini aku dipaksa menelan kekecewaan. Jantungku berdetak kencang dan darahku pun mendesir. Pikiranku tiba-tiba jadi kalut. Dalam batinku berontak. Apakah kenyataan ataukah rekayasa para penerbit yang tidak pernah memikirkan nasib penulis? Aku ragu jika kenyataan ini suatu kebenaran. Di depan kuitansi ini, seakan-akan aku ragu bahwa "kebenaran itu pahit."&lt;br /&gt;Aku mulai melupakan sosok misterius yang dari tadi terus membisikiku. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sayup-sayup terdengar mesin motor dari kejauhan. Di Jalan Bimokurdo. Suaranya semakin menderu-deru. Sesekali knalpotnya digeber-geber. Aku tahu! Jangan dikira aku tuli pada tanda-tanda! Bukankah knalpot-knalpot itu sedang mengepulkan sisa-sisa ketamakan manusia?! Tarik lagi gasnya biar semua orang mendengar suara motormu! &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Kebenaran laksana jadam yang kau kunyah. Pahit. Tetapi hasilnya akan terasa lebih manis daripada madu" &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bisikan itu kembali hadir! &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di benakku dia melintas. Kali ini bisikan itu terasa amat bijaksana. Siapakah sebenarnya sang pembisik itu? Jika dia setan atau mungkin iblis, mengapa memperingatkanku dengan bijaksana sekali? Mengapa dia tidak memprovokasiku biar jadi beringas? Mengapa dia tidak menyuruhku membanting gelas kopi di sampingku ini? Mengapa dia tidak menghasutku supaya mencerca penerbit Tajidu yang membayar royaltiku amat kecil? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tanda tanya menyelimuti pikiranku. Aku diam sejenak sambil menikmati alunan musik terapi yang konon bisa merangsang imajinasi. Lagu Mirage baru berakhir. Kini telingaku disuguhi lagu yang hanya berisi syair: hong wani feh-feh hong! &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Syairnya monoton tapi musiknya teduh. Irama biolanya yang mengalun membuat jiwaku mengawang-awang. Tak peduli telingaku harus dijejali syair yang monoton itu. Toh, duniaku mulai terasa damai dan pikiranku kembali jernih. Detak jantungku kembali normal dan desiran darahku mulai mereda. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sst! Ada yang aneh. Ini jelas terasa aneh dan membuatku makin penasaran. Mengapa sosok misterius itu tidak kembali membisikiku? Seakan-akan dia menghilang seiring dengan terbukanya batin dan terangnya pikiranku? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dia memang misterius. Datang tanpa diundang, pergi tanpa permisi. Dalam sekejap dia menghilang tanpa memberi tanda-tanda. Tapi biar. Aku akan acuh kepadanya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Malam ini, aku disadarkan pada sebuah kenyataan. Profesi menjadi penulis tidak sehebat yang dikira banyak orang. Aku sadar bahwa menjadi penulis, meskipun memiliki beban yang berat, tapi hasilnya tidak seperti yang diangan-angan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aku memang harus menelan kenyataan pahit ini. Apa yang aku harapkan sering tidak sesuai dengan apa yang aku terima.&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;Sapen, 26 Juli 07&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3765768874055571568-750691191259850341?l=penulisjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulisjogja.blogspot.com/feeds/750691191259850341/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3765768874055571568&amp;postID=750691191259850341&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/750691191259850341'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/750691191259850341'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulisjogja.blogspot.com/2007/10/bisikan.html' title='Bisikan'/><author><name>Ahmad Mu'arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00387346934510406805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_fLgt6xoY88Y/SF0uMh3wyAI/AAAAAAAAAGQ/PaNx4XSm_m4/S220/mu%27arif6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3765768874055571568.post-368266830212742213</id><published>2007-10-02T12:21:00.000-04:00</published><updated>2007-10-02T12:30:59.263-04:00</updated><title type='text'>Maafkan Aku, Kawan...</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Aku diam bukan berarti bisu. Tak menyapamu bukan berarti aku mengabaikanmu. Aku berpaling bukan karena benci. Aku yang tak menyapamu bukan berarti sedang mengabaikanmu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saat ini aku putuskan untuk menyendiri. Hanya untuk sementara. Pikiranku tersita banyak untuk memahami jalan hidupku, cita-citaku, dan rencana hari depan yang entah kapan dapat kuwujudkan. Dalam kesendirian, aku menemukan semangat hidup untuk menyusun sebuah rencana. Kini, aku punya rencana.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jika kamu heran, aku pun sadar. Jika kamu sebal, aku pun paham. Memang tidak wajar bagiku untuk memikirkan hal-hal yang orang lain sendiri mengabaikannya. Sungguh di luar batas kewajaran jika aku sekarang ini tidak menempuh jalan hidup seperti kebanyakan orang. Berapakah umurku? Bagaimana masa depanku? Apakah aku sudah hidup mapan? Jangan tanyakan kepadaku. Tanyakan saja kepada mereka yang membuang-buang energi untuk menanyakan hal-hal yang aku sendiri tidak memikirkannya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Maafkan aku, kawan, jika aku terkesan mengabaikanmu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jika aku berpaling, bukan berarti aku sedang membencimu. Aku tidak akan membencimu. Sekalipun kamu mencaciku, aku tidak akan benci. Karena aku percaya kepadamu. Aku percaya, karena kamu bisa menjaga rahasia.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Rahasia itu titipan." Tapi, kawan, rahasia bagiku adalah kelemahan. Setiap kali kuceritakan rahasia-rahasiaku kepadamu, kamu akan menemukan titik-titik kelemahanku. Banyak rahasiaku. Banyak kelemahanku. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Maafkan aku, kawan, jika aku terkesan membencimu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, aku tidak sedang membencimu. Memang tak aku pungkiri, aku pernah membenci orang. Tidak hanya seorang, tapi banyak orang. Selama ini mungkin aku bisa bohong kepada dirimu, tapi tidak kepada diriku sendiri. Dengan sangat terpaksa aku bohong, tapi batinku selalu berontak. Aku tak bisa bohong kepada diriku sendiri. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Yang kubenci bukanlah dirimu, tapi orang-orang tidak bisa dipercaya. Mungkin mereka tak akan pernah bisa dipercaya. Mereka tak bisa menyimpan rahasia. Atau, barangkali mereka tak pernah atau tak mau memahami arti sebuah rahasia. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah, rahasia itu titipan. Jagalah baik-baik titipan itu. Tapi sayang, mereka yang pernah kutitipi rahasia tak bisa menjaganya. Sekalipun mereka pernah meminta maaf kepadaku, tapi rahasiaku tetap saja diobral murahan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Rupanya benar, "Binatang buas tetap saja buas, sekalipun kuku-kukunya telah tumpul" Atau, "Anjing tetaplah anjing, sekalipun dipelihara di antara binatang buas" &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bodoh sekali mereka yang menganggap aku tak bisa marah. Bodoh sekali mereka menganggap aku tak punya nyali untuk berontak. Aku ini manusia. Darahku langsung mendesir sewaktu tahu rahasiaku jadi bahan gunjingan. Kabut menyelimuti pikiranku hingga aku pun bisa kalap. Nafsu primitifku bisa saja langsung menguasai ubun-ubun sewaktu mendengar mereka menjual rahasiaku murahan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Maafkan aku, kawan, jika aku terlalu banyak diam. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aku diam bukan berarti bisu. Tak berkata-kata bukan berarti aku tak punya ide yang melintas di benakku. Tak bicara bukan berarti aku tak punya kata-kata yang harus kuucapkan. Tidak. Justru tamu-tamu tak diundang sewaktu-waktu berkunjung. Tanpa kenal situasi, mereka datang bergerombol, menyerbu bilik sunyi yang sengaja aku sediakan. Di dalam ruang imajinasiku yang senantiasa menanyakan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Maafkan aku, kawan, jika aku selalu menyendiri.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kuputuskan untuk menyendiri sementara. Dalam kesendirian aku merasa teduh dan damai. Dalam keheningan malam kutemukan batinku yang sejuk menyirami keringnya ladang pikiranku. Sewaktu pikiranku berkecamuk, keheningan malam berhembus lembut menyapu ruang imajinasiku. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ada ruang di dalam benakku. Samar-samar tapi aku bisa mengenalinya. Kedua mataku tak mampu melihatnya, tapi aku bisa merasakannya. Kedua tanganku tak mampu menjamahnya, tapi aku bisa merasakan kehadirannya. Ada ruang tak bersekat di dalam benakku. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Imajinasiku yang terus menggumpal, aku mengubahnya menjadi relung sunyi tempatku mengasingkan diri. Di sudut sana, ke arah kiblat, aku membangun sebuah bilik. Kecil dan sederhana tanpa atap. Tak ada lantai. Juga tak ada meja tamu. Hanya sebatang lilin kecil. Itu pun sisa-sisa perjamuanku tadi malam. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aku yang mengasingkan diri tidaklah sendirian. Setiap malam aku selalu mengadakan perjamuan. Menjamu tamu-tamuku yang tiap saat senantiasa berkunjung. Pada sepertiga malam yang terakhir. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Maafkan aku, kawan, jika kamu melihatku seakan aku acuh tak acuh kepadamu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, aku tidak mengacuhkanmu. Aku tidak sedang mengabaikanmu. Pikiranku hanya sibuk menjamu tamu-tamuku yang datang silih berganti. Mereka selalu menggiringku bertanya, membaca tanda-tanda. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mereka liar, memaksaku bertanya menembus batas-batas norma. Mereka buas, memaksaku berpikir mencabik-cabik tatanan etika. Tapi mereka tak pernah menyakiti. Sekalipun marah, mereka tak pernah menggertak. Sekalipun kesal, mereka tak pernah sebal. Mereka tak pernah mengejek, apalagi menggunjing rahasia-rahasia murahan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Maafkan aku, kawan, jika kamu sebal kepadaku. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aku sadar jika aku selalu tampil acak-acakan. Kamu sebal sewaktu melihatku selalu tampil seperti anak urakan. Hampir setiap saat aku memang selalu begitu. Dulu begitu dan kini pun juga begitu. Mungkin esok dan lusa pun akan begitu juga. Selalu acak-acakan. Seperti anak urakan. Tak pernah memperhatikan penampilan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aku memang tak sempat merawat tubuhku yang mulai kerempeng ini. Aku juga tidak pernah necis sekalipun harus bertemu pejabat. Karena aku lebih suka pada diriku sendiri tanpa rekayasa, tanpa polesan. Sebab aku ingin menjadi diriku sendiri. Aku ingin melihat diriku apa adanya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Maafkan aku, kawan, jika kamu heran melihatku.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kamu heran selalu mendapati diriku dalam keadaan bingung atau seperti orang gila. Kamu tidak tahu, hatiku selalu bimbang. Pikiranku selalu berkecamuk. Tamu-tamuku menggoda hatiku sehingga aku harus memilih dan aku pun harus memutuskan. Padahal, memilih dan memutuskan merupakan pekerjaan terberat bagiku. Karena apa yang aku pilih belum tentu sejalan dengan kenyataan. Dan, apa yang aku putuskan juga belum tentu kebenarannya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Aku selalu dalam kebingungan. Memikirkan apa saja yang baru kulihat dan apa saja yang baru kuperhatikan. Tamu-tamu yang singgah di bilik imajinasiku selalu mengajakku bercakap-cakap dalam kesunyian. Tak ada kata-kata dan tak ada suara-suara. Hanya membisik lembut, namun kuat membekas sewaktu melintas di benakku. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mereka selalu mengajakku berdebat. Berdebat dan terus berdebat tanpa kesudahan. Semakin aku menjamu mereka, semakin aku kewalahan dan aku makin di ambang kebingungan. Dalam kebingungan, aku disibukkan menjawab pertanyaan-pertanyaan. Aku kewalahan karena setiap pertanyaan selalu kujawab dengan pertanyaan. Aku kerahkan segenap daya pikiranku untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, hingga duniaku pun makin terabaikan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Maafkan aku, kawan, inilah duniaku… &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3765768874055571568-368266830212742213?l=penulisjogja.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penulisjogja.blogspot.com/feeds/368266830212742213/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3765768874055571568&amp;postID=368266830212742213&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/368266830212742213'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3765768874055571568/posts/default/368266830212742213'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penulisjogja.blogspot.com/2007/10/maafkan-aku-kawan.html' title='Maafkan Aku, Kawan...'/><author><name>Ahmad Mu'arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00387346934510406805</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_fLgt6xoY88Y/SF0uMh3wyAI/AAAAAAAAAGQ/PaNx4XSm_m4/S220/mu%27arif6.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
